
Ketika Sakuta hendak berangkat menuju kota untuk mencari tahu keberadaan sahabatnya yang sama-sama tertarik ke dalam portal para Demon, yang muncul ketika mereka berada di kota Emey di benua badai.
Instingnya berkata dia harus mencari sahabatnya ke kota negri para wanita ini, jadi dia terpaksa meminta bantuan kepada Lucy wanita misterius yang pertama kali di temuinya di Negri wanita ini.
Sekitar beberapa menit pintu rumah Lucy tiba-tiba seperti di tendang keras seseorang dari luar, membuat suara keras yang mengejutkan orang yang berada di dalam ruangan rumah tersebut.
" Nee-chan, aku membutuhkan pil pemulih Energi lagi! " seorang gadis tiba-tiba nampak terlihat memasuki rumah Lucy dengan riang dan semangat.
Wajah Lucy yang tadi berubah serius karena terkejut, langsung berubah seakan dia sudah malas untuk melihat dan mendengar suara gadis tersebut.
" Jangan merusak barang-barangku kalau kau menginginkan sesuatu dari ku! aku sedang sibuk, mau ke kota, untuk mengantar seseorang."
" Hee.. Nee-chan pasti menolongnya karena ada maksud atau mau menje. mm... " mulut gadis yang baru masuk ke rumah Lucy itu langsung dia bungkam dengan cepat oleh Lucy menggunakan tangannya.
" Diam.. !?" bisik Lucy pelang ke telinga gadis yang sedang dia bungkam tersebut.
__ADS_1
Wajah Sakuta berubah serius dia mengangkat alisnya, meskipun Sakuta terlihat bodoh tapi dia juga memiliki insting jika ada seseorang yang hendak menjebaknya.
" Maaf Nona Lucy, tadi telingaku mendengar nona ini membicarakan sesuatu tentang menjebak? apakah kau hendak memanfaatkan ku?"
Tubuh gadis yang bersama Lucy itu tiba-tiba bergetar kecil dan wajahnya berubah menjadi serius.
" Tidak salah lagi! dari suaranya saja aku bisa menebaknya, benarkan Lucy-Nee." gadis yang sedang di dekap Lucy langsung memandang wajah Lucy seperti mencari jawaban yang langsung ada di pikirannya.
Lucy menurunkan pandangannya dari Sakuta dan menatap ke arah lantai rumah miliknya, tubuh Lucy tiba-tiba gemetar kecil seperti seseorang yang tengah kepergok mencuri.
Diane langsung memasang kuda-kuda siap untuk bertarung sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya yang dari tadi dia taruh di pinggangnya.
" Kau Seorang Laki-laki kan? " wajah Diane menjadi lebih serius dan waspada, dia langsung berhati-hati di hadapan Sakuta sambil menodongkan pedangnya.
" Memang, aku memang seorang laki-laki! tapi apa laki-laki harus dilarang berada di negri ini?" karena memang tidak ada niatan untuk bertarung dengan para wanita tersebut, Sakuta memilih untuk menyelesaikan urusannya di sini dengan berbagi informasi yang dia ketahui.
__ADS_1
" Apakah disini menyembah seorang Dewi yang membenci laki-laki? sehingga kalian seakan takut kepadaku? Hey, wajahmu kenapa berubah merah!" Seru Sakuta sambil menatap Diane.
Lucy memegangi pedang yang sedang di arahkan Diane ke arah Sakuta, sambil mencoba menurunkan pedang yang di pegang oleh Diane, Lucy menatap Diane dan menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda untuk berhenti.
Lucy mendekat ke arah Sakuta, sambil menatap tajam mata Sakuta, "Sakuta, maaf kan aku! memang sebenarnya aku hendak menyerahkanmu ke ratu negri perempuan ini, karena aku hendak menukarmu untuk mendapatkan hadiah yang sudah di janjikan oleh ratu jauh-jauh hari, karena ratu sudah meramalkan tentang kedatangan dirimu kemarin."
" Maksud mu apa? meramalkan kedatangan diriku? aku ini baru datang ke sini, memangnya apa salahku terhadapnya?" Sakuta masih kebingungan dengan wajah serius.
" Sebelum aku menyadari dirimu seorang laki-lak.. " gadis di samping Lucy tanpa Lucy sadari tiba-tiba dia bergerak maju untuk menyerang Sakuta, "Diane, jangan!" seru Lucy terkejut.
" Lebih baik kita membun.. Aahh.. " Diane dengan cepat menuju ke arah Sakuta untuk melukainya.
Sakuta dengan reflek mengambil gerakan cepat untuk mengunci tubuh Diane agar dia tidak membuat satu hal yang akan merepotkannya, tapi tanpa ia sadari dia salah memegangi tubuh Diane.
Sakuta malah memeluk tubuh Diane dan mencengkram gundukan daging empuk dan lembut milik Diane, warna wajah Diane berubah merah tomat.
__ADS_1
Dengan wajah merah dan panik karena dia begitu malu Diane langsung mendorong tubuh Sakuta sampai terjungkal ke lantai.