
" TIDAAAAK !! Apa yang telah kau lakukan dasar hewan liar, tungu jangan-jangan apakah ini seperti yang di bicarakan ratu kemarin? mereka akan menyerang kita dan mereka akan memperkosa kita? aku jadi semakin takut." Seru Diane.
Dengan ekspresi wajah yang menahan sakit karena dia habis terjungkal kelantai akibat ulah Diane.
Untuk mengurangi rasa sakit yang baru dia terima Sakuta langsung kembali berdiri dan mengelus-elus bagian tubuh yang telah terbentur lantai tadi.
" HAH... Aku cuma mau menghentikanmu! Agar kau tidak berbuat bodoh padaku." ucap Sakuta santai.
" Diam, kau pasti mau memperkosa ku dan kemudian kau akan membunuhku kan!! " tuduh Diane.
Wajah Lucy juga tanpa dia sadari, ikutan memerah karena baru pertama kali banginya melihat seorang wanita sepertinya di sentuh bagian sensitifnya oleh seorang pria, meski dia pernah melakukan hal yang lebih parah terhadap Sakuta tapi karena ketidak tahuanya dia jadi masa bodo tapi jika mengingatnya, itu juga cukup untuk membuatnya menjadi malu.
" Sudahlah Diane! kita harus cepat membawanya dan menyerahkanya ke ratu."
Wajah Sakuta tiba-tiba gantian memerah karena malu, " Tunggu, jangan bilang kalian malah pipis di clana?" seru Sakuta, sambil mencoba membuang wajahnya.
__ADS_1
Tangan Sakuta menunjuk ke arah clana mereka berdua, Lucy dan Diane menundukkan kepalanya untuk mencari hal aneh dari mereka yang baru di tunjukan oleh sakuta.
" KYAAAAHH... Jangan menunjuknya dengan jari kotormu itu bodoh, ini bukan pipis!!" seru Diane yang langsung berjongkok yang juga di ikuti oleh Lucy, mereka berdua berusaha menutupinya dari Sakuta.
" Oh, apa mungkinkah itu yang di sebut ( Mata Air Nafsu ) oleh para leluhur dulu kan?"
" Diam kau, jangan melihat ke arah kami! pergi jauh sana!! " seru Diane yang dari tadi terus terpancing emosi.
" Akukan hanya bingung! Kenapa clana kalian tiba-tiba basah? aku kira itu air pipis kalian." dengan tampang yang berpura-pura polos sambil menggaruk-garuk pipinya sakuta berhasil menyulut amarah Diane yang semakin memuncak.
" BODOH!! sudah ku bilang jangan mengatakannya." Diane kemudian menempelkan tangannya kelantai, tiba-tiba sebuah simbol jurus keluar di atas lantai tersebut.
" Hah... Nee-chan aku harus mengganti clana ku ini." Diane langsung lari ke kamar Lucy dan tak menghiraukan Sakuta yang sedang tergletak tak berdaya seakan mati membeku.
" Tunggu, Diane aku juga mau menggantinya." Lucy juga langsung memasuki kamarnya tanpa menghiraukan Sakuta.
__ADS_1
' Tunggu kenapa tubuhku tak bisa di gerakkan? Aku seperti tidak bisa merasakan apapun dari tubuhku, tolong maafkan aku kalian berdua.' Sakuta terus meronta mencoba untuk terlepas dari kekangan anehnya kini dia berusaha bergerak tapi dia tetap masih tak mampu menggerakkan tubuhnya.
Diane dan Lucy sudah selesai mengganti clana mereka, Diane dan Lucy langsung kembali keluar dan kembali mendekati Sakuta.
" Laki-laki liar, tubuhmu selamanya tidak akan bergerak, karena aku sudah menyegel tubuhmu dengan Jutsu khusus ku." Diane terkekeh kesenangan.
" Diane, kita harus segera laporkan ini ke ratu segera!" seru Lucy.
" Baiklah Nee-chan, aku akan segera pergi melapor ke ratu." Diane langsung pergi keluar meninggalkan Lucy dan Sakuta.
" Lebih baik kau diam Sakuta, ini demi kebaikanmu sendiri!" Lucy pergi masuk ke ruangan lainya dan meninggalkan Sakuta yang kini diam terbaring kaku di lantai rumahnya.
" Kenapa dengan tubuhku? tubuhku terasa semakin panas." napas Lucy terengah engah dan napasnya pula sangat tidak beraturan dan pandangan matanya menjadi semakin buyar tubuhnya kembali basah karena keringat.
Di perjalanan Diane menuju kota, "kenapa dengan diriku hari ini?!! bau tubuhnya, suaranya, kenapa membuat pikiranku menjadi kacau."
__ADS_1
Setelah sampai di kekaisaran Diane langsung menjumpai ratu serta memberitahukan penangkapannya atas sakuta, ratu negri wanita tersebut langsung memerintahkan puluhan kesatria wanitanya untuk mendampingi Diane menyered Sakuta untuk di bawa ke kerajaannya.
Ketika di perjalanan kembali ke rumah Lucy napas Diane malah tambah menjadi lebih tidak beraturan, membuatnya di pandang aneh oleh puluhan prajurit kerajaan negri wanita yang mendampinginya tersebut kebingungan.