Legenda Ninja Angin

Legenda Ninja Angin
Benua Bukit 2


__ADS_3

" Aku tidak.. tau!? " seorang pemuda tengah merengek sambil bersujud di tengah-tengah kepungan puluhan orang.


" Kau mencoba membohongi kami!? Potong kedua kaki dan tanganya."


" Tolong ampuni aku tuan... "


GRIIINN.....


" Tunggu... Sebenarnya yang bekuasa di sini siapa tuan Akira? "


" Tidak Tuan muda Leyasu, saya tidak berani tuan."


Dengan balutan jubah berkain sutra, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahunan tersenyum menatap ke arah pemuda yang kini tengah ketakutan.


" Sudahlah... kalau kau tidak mau memberitau kami!? Kau boleh pergi." Tuan muda kaya raya itu tersenyum sambil menepuk pundak pria yang ketakutan tersebut.


" Terima kasih tuan.. "


Dengan terburu-buru dia langsung berlari tanpa menengok ke arah belakang.


" Tuan Akira penggal kepalanya... "


" Baik Tuan muda.. "


TAAKKK.. TAAKK.. TAAKKKK.. TAAKK...


Di tengah-tengah pelarian-nya tanpa dia sadari ada tiga orang yang mengikutinya, 'Aku akan selamat... Aku harus cepat teman-teman ak... ' Belum selesai dia menghabiskan kata-katanya.


Kepalanya sudah terputus dari tubuhnya.


TIDDAAAAAKKK....


" Heemmmm... Sepertinya ada orang lain yang bisa kita tanyai.. Cepat kejar dia.. Aku akan melaporkan ini ke Tuan Muda."


Dua orang segera berlari menyusul seorang pemuda yang berteriak tadi.


" Aku harus.. Lari dan memberitau ke seluruh warga desa.. "


***


" Eiji... Lama sekali!? "


" Hei.. Santai dong kita tunggu saja sebentar lagi.. " salah satu teman wanita mereka sedikit gelisah dan membuatnya bertanya-tanya. " Isamu-Nee.. Kenapa wajahmu sepertinya sangat begitu gelisah? "


" Aku tidak tau!? Tapi aku merasakan hal buruk akan kemari.. Apa lebih baik kita segera pulang saja dan menunggu mereka berdua di... "


AAAAAAAAHHHHHHHHH...........


Sebuah teriak-kan mengejutkan empat orang yang tersisa. " Siapa yang berteriak tadi!? Kita harus menyusul mereka berdua.. "


KIYAAAAHHHHHH...


" Hahh... Eiji.. cepat bantu dia.."


LAAARRIIIIIIII......


Wajah mereka berempat berubah sangat serius saat melihat Hayate yang tangan kananya sudah terpotong, kemudian mereka berempat melihat dua orang asing yang berjalan mendekat ke arah Eiji sambil membawa senjata mereka masing-masing.


CEPAT LARI BERITAU KAKEK DI DESA...


Dari belakang empat teman Eiji yang tengah terkejut. " Cek.. cek.. cek.. Kalian memang terlalu kejam." Pria yang terlihat sangat mencolok berjalan santai ke arah mereka berempat.


" Dari mana dia berasal?? " salah satu teman Eiji terkejut ketakutan.


" Tuan muda.. kami minta maaf." Dua orang yang telah memotong tangan Eiji segera membungkuk ke arah pria muda tersebut.


" Oh.. Ma.."


CEPAT LARI.. MEREKA TELAH MEMBUNUH SASAKI...


" Kau tidak sopan sekali.. Memotong pembicaraan Tuan Muda ini!? Tuan-Tuan penggal kepalanya.."


KYAAAHHHH....


Isamu berteriak dengan sejadinya melihat temanya terbunuh di depan matanya, dia langsung terduduk lemas di hadapan tubuh Eiji yang kini sudah tak bernyawa tanpa kepalanya.


" Kalian terlalu kejam.. Kalian tidak pantas di panggil manusia.. "


" Isamu-Nee tenang.. " Salah satu teman-nya segera merangkulnya agar membantunya untuk tetap berdiri.


Taun Muda itu tersenyum cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya. " Heeyy... Lihatlah kalian berdua, aku jadi di katain jahat oleh gadis itu.. "


" Apakah tuan mau kami memotong lidahnya!? "


" Sudah cukup.. " Dua orang pria segera bersiap dengan kuda-kuda bertarung mereka, sambil mengangkat senjata mereka berdua di hadapan kedua bawahan Tuan Muda yang kini tengah tersenyum mengejek.


" Tuan Akira.. "


SRAAAAKKK....


Dua kepala pemuda tersebut tiba-tiba terlepas dari tubuh mereka masing-masing. Mata Isamu kembali terbelalak karena kembali di kejutkan dengan temanya yang kembali terbunuh lagi.


" Tuan Muda.. " Sekitar puluhan anak buah Tuan muda tersebut, segera keluar dari tempat persembunyian mereka.


Mereka semua segera membungkuk dan segera memberi Tuan Muda mereka sebuah kursi untuknya, Tuan muda itu langsung membuka kipas yang selalu ada di tanganya.


" Jadi untuk Tuan dan Nona.. Jika kalian mau hidup aku akan membantu kalian, karena kalian bisa lihat sendiri nyawa kalian sudah ada di genggaman tanganku. Kami di sini mau mencari peta ladang obat milik kalian.. Atau kalian berdua memeng tau lokasi ladang obat-obatan tersebut."

__ADS_1


Laki-Laki di samping Isamu segera bersujud tiga kali demi menghormati orang yang misterius tersebut. " Kakak.. Maaf kan aku ini demi kita berdua.."


" Tuan... Kami berdua tidak tau lokasi yang di cari Tuan tersebut. Tapi Kakek sesepuh kami pasti lebih mengetahuinya."


" Heehhh.... Jadi kalian berdua tidak tau!? Tuan Akira bunuh pemuda itu dan bawa garis itu kepari.."


" Baik Tuan Muda... "


Akira bersama salah satu temanya segera menangkap pemuda tersebut, pemuda itu masih melawan untuk beberapa saat. Tapi saat Akira menggesekkan pedangnya ke leher pemuda tersebut. " Tidaakkk.. Tidaakk..Tungga.. Kami berdua memang tidak taUKkkkee.... "


Dua bawahanya segera menarik gadis yang tersisa menuju ke arah Tuan mereka, " Nona cantik.. Jadi maukah kau bekerja sama dengan kami? "


CUIIHHH...


Gadis tersebut meludah tepat ke arah wajah Tuan muda tersebut, " Tuan Akira... Tenang." Akira tangan kanan kepercayaannya, merasa kurang suka atas perlakuan gadis tersebut kepada tuanya.


" Aku sedikit suka wanita yang sedikit kasar.." Tuan Muda itu langsung mencekik leher gadis muda di hadapanya.


Dia mengangkat tubuh gadis tersebut dengan satu tangannya, warna wajah gadis tersebut berubah setelah beberapa menit dia di cekik sambil tubuhnya di angkat.


Kakinya menendang nendang sampai dia bergerak lemas, dan warna wajahnya membiru. Tuan Muda itu tertawa dengan keras kemudian melempar tubuh gadis yang sudah tak bernyawa tersebut.


" Tuan-Tuan terpaksa kita harus berkunjung.. Ke desa Kakek tua itu lagi!? Bawa potongan kepala itu.. Mungkin salah satu mereka ada yang dekat dengan Kakek bau obat-obatan itu."


Mereka semua segera bergerak menuruti keinginan tuan mereka. Tapi sayangnya mereka semua tidak menyadari mereka tengah di pantau oleh seseorang dari kejauhan.


***


Laura segera berlari mencari Shigen saat mengingat kejadian yang tadi dia lihat dengan mata kepalanya tersebut.


' Shigen.. Aku harus memberitahunya.'


Kepala Laura merasakan sakit saat mengingat beberapa pria yang kepalanya terpotong dan terlepas dari tubuh mereka.


KYAAHHH...


Dia tiba-tiba hampir terjatuh, untung saja tanganya di tangkap oleh seseorang. "Hei.. Kenapa kau berlari!? Apakah hanya beberapa menit kau sudah rindu dengan diriku? "


Laura tidak mendengarkan ucapan Shigen tadi, dia segera memeluk tubuh laki-laki yang ada di hadapanya itu dengan erat.


" Heeii.. Kenapa? Sudah lahh ada aku di sini!?"


" Shigen!? Ada komplotan penjahat!? "


" Haahhh... Diamana kau melihatnya!? Bagaimana kau tau mereka semua penjahat."


" Tidak aku serius, Mereka memotong kepala seseorang hingga mencekik seorang gadis sampai mati."


Shigen awalnya sedikit tidak percaya jika mengingat Laura juga sering mengatainya kejam, saat dia berhasil membunuh beberapa ekor kelinci di hutan ini.


Karena ukuran dan bentuk kelinci yang berbeda dengan kelinci yang ada di negerinya, Laura sangat gemas dan sangat menyayangi kelinci-kelinci lucu tersebut.


" Apa kau mendengar mereka membicarakan apa? "


" Aku semapat dengar mereka membicarakan ingin meminta sebuah peta, dan Tanaman Obat.. Seperti itulah."


" Ini gawat, Kita harus bergegas dan menyusul kelompok itu!? "


***


" Kakek.. " seorang gadis yang kira-kira usianya baru menginjak tujuh tahunan tengah membawa keranjang sambil bermain-main dengan Kakek tua yang kini berjalan di sampingnya.


" Hoo... Hooo.. Cucuku yang cantik, Jangan berlari-lari dengan cepat kakek kesulitan untuk menyusulmu."


" Dasar kakek.. Lamban hehehehe.."


" Awas kau.. Kakek akan menangkapmu."


Para penduduk desa yang lainya tertawa melihat kehangatan sebuah keluarga tersebut, Mereka kini sedang bersiap siap mempersiapkan acara mingguan mereka yaitu makan malam bersama.


" Kakek, kepana kakak Eiji dan teman-temanya tidak seperti biasanya!? "


" Memang biasanya kenapa? " Kakek itu tersenyum sambil mengelus elus kepala cucunya tersebut dengan lembut.


" Biasanya kan warna langit seperti ini, mereka sudah sampai desa."


" Sudahlah tunggu saja mereka. Mungkin mereka dapat buruan yang sangat banyak hahahaha.."


" Iya ya kek... "


" Hideyoshi-Chan... Main yuk.. "


" Sana.. Teman-Temanmu memanggilmu!? "


" Baik Kek... "


Saat gadis kecil itu berlari dengan temanya, tiba-tiba dia terjatuh karena menabrak seseorang. " Hah.. Pasti Ka..ka." Wajahnya langsung berubah karena yang dia pikir dia menabrak kakaknya tapi dia malah melihat wajah pemuda yang asing di hadapanya.


Pemuda itu membantunya berdiri sambil tersenyum.


" Nona kecil hati-hati ya kalau berjalan.. Kalau kami penjahat mungkin kepala mu sudah lepas dari tubuh mu."


" Haahhh.. Kejam sekali!? " Seru gadis polos tersebut.


" Hahahaha.. Dimana kakek mu? "


***

__ADS_1


" Tetua.. Gawat Tuan Muda Tokugawa datang lagi kemari, Dia sedang menanyakanmu!? "


" Haahhh... Dimana mereka? Cucuku tolong awasi cucuku dan anak-anak lain."


" Kakek... " Wajah pria sepuh itu langsung berubah serius, saat dia menoleh ke arah suara cucunya tersebut.


" Kakek.. Kakak ini mencari mu!? "


Pria sepuh tersebut segera bersujud di hadapan pemuda yang kini tersenyum di hadapanya sambil menggendong cucu kecilnya.


" Tidak perlu formal seperti ini Kakek.. "


Pria sepuh tersebut segera mengambil cucunya dari gendongan pria muda tersebut, "Maaf kan cucu kecilku Tuan Muda.. "


Gadis kecil itu masih kebingungan karena melihat tiba-tiba kakeknya seperti sedang panik dan ketakutan.


" Shina.. Cepat berihormat kepada Tuan Muda di hadapan kita saat ini."


" Kakek.. Sudah lah biarkan cucu kecilmu itu menganggap ku kakaknya." Tuan Muda itu segera mendekat ke arah Kakek di hadapanya itu sambil tersenyum, dia segera mendekatkan mulutnya dan berbisik di telinga Pria sepuh itu.


" Aku membawa hadiah untuk mu.. Segera kumpulkan orang-orang mu kemari."


Setelah di bisikkan hal tersebut, keringat di kening pria sepuh itu langsung keluar tanpa terbendung.


Dia segera tersenyum seramah mungkin di hadapan pria muda di hadapanya itu.


" Tuan Akira.. Segera berikan hadiah yang sudah kita siapkan."


" Baik.. Tuan Muda." Saat Akira berjalan membawa kotak hadiah yang mereka siapkan tersebut, karena dia tidak menyadari ada sebuah batu di bawahnya dia tiba-tiba tersandung.


Kotak itu langsung terbuka dan semua isi kepala dari dalam kotak tersebut berceceran di atas tanah. Para penduduk desa yang melihat isi dari kotak tersebut segera merasa mau muntah.


Cucu kecil kepala desa pemburu itu memandangi satu kepala yang tergeletak di hadapanya.


" Kakak.... " Pria sepuh itu langsung memukulnya di bagian tertentu untuk membuatnya segera pingsan agar tidak melihat hal buruk tersebut.


" Tuan Akira... Kau mengecewakanku!? " Tuan Muda itu langsung memukul tangan kanan kepercayaan-nya itu dengan sangat brutal dan tanpa belas kasihan.


" Maaf kan atas kesalahan bawahan ku ini.. Kakek tua.. sehingga hadiahmu jadi berantakan karena ulahnya. Cepat minta maaflah."


" Sudah cukup... Tuan Muda Tokugawa.. Apa maumu? sehingga kau tega membunuh cucu tertuaku dan anak-anak lain di desa ini."


Para warga desa tidak berani berkomentar atau bergerak, karena mereka sudah memahami sifat pria muda yang ada di hadapan mereka tersebut.


" Hooo... Kakek jadi marah!? " Tuan Muda itu langsung mengerutkan dahinya dan menatap pria sepuh di hadapanya itu dengan tatapan tajam.


" Baiklah.. Kalau kau mau mereka semua selamat!? Cepat berikan peta atau lokasi dimana kau menyembunyikan tanaman obat-obatanmu... Ini untuk negaramu dan Kaisarmu." Tuan Muda itu menatapnya dengan nafsu membunuh, sehingga membuat pria sepuh itu menelan ludahnya sambil berkeringat.


" Aku akan memberikan kalian petanya.." Pria sepuh itu langsung pergi memasuki rumahnya. Kemudia setelah beberapa menit dia keluar dengan membawa sebuah kertas gulungan.


Pria sepuh itu langsung memberikanya dan segera memberinya sebuah hormat.


Pria Muda itu tersenyum sambil membuka lembaran kertas tersebut. " Apakah kau mencoba mempermainkan aku??.. "


" Hamba tidak berani Tuan Muda.. Peta itu menunjukan semua lokasi di mana tanaman obat-obatan langka itu tumbuh.."


" Cepat bunuh Cucu kecilnya.. "


" Jangan Tuan Muda... "


Dengan cepat Akira berlari ke arah gadis kecil yang kini tertidur di atas tanah tersebut, ketika dia hendak memotong leher kepala gadis kecil itu.


JEERAAASSS.......


Pria sepuh itu berhasil manahanya dengan menggunakan tubuhnya. Kakek itu memandangi cucu kecilnya dengan sedih dan kemudian ambruk di atas tanah.


" Cepat periksa.. Rumah Kakek busuk ini... Kalau tidak menemukan apapun bunuh semua orang-orang disini."


Beberapa orang segera memasuki rumah kakek tersebut, mereka mencari se isi ruangan rumah tersebut sambil merusaknya.


Setelah beberapa menit mereka membawa dua gulungan besar lainya.


" Dasar Kakek busuk dia mencoba mempermainkan aku... Cepat bunuh semua orang di sini."


Bawahan Tuan Muda tersebut segera berlari dan hendak membunuh semua orang-orang desa ini.


BUK.. BUK... BUKK....


Hanya dalam beberapa pukulan entah siapa orangnya, bawahan Tuan Muda itu langsung terbaring di atas tanah tak sadar kan diri.


" Siapa kau? "


" Kalau kalian bersikeras akan membunuh orang-orang di sini hadapilah aku dulu."


Tiba-Tiba muncul seorang pemuda dengan peringai seperti seorang pendekar tengah berdiri berhadapan dengan Tuan Muda Benua Bukit tersebut.


" Aku tidak mengenalmu.. Kau telah salah memilih lawan mu dasar Sapi."


Shigen sempat mematung untuk beberapa saat, kemudian saat ia sadar Tuan Muda itu hampir memotong kepalanya dengan pedang katana milik Tuan Muda tersebut.


" Hooo... Sepertinya kau bukan pendekar biasa." Tuan Muda itu melepaskan Qi atau Mananya dan melapisi tubuhnya dengan seluruh Qi tersebut.


Shigen tersenyum untuk beberapa detik, dia kemudian melempar beberapa Kunai miliknya ke arah Tuan Muda itu.


" Berani sekali kau tersenyum padaku sambil melemparkan ku serangan yang lemah seperti ini.. Dasar Sapi muda yang belum mengenal Harimau."


Tuan Muda itu langsung menyerang ke arah Shigen dengan cepat, tapi dia kemudian mengerutkan dahi saat Shigen tiba-tiba menghilang dari seranganya tersebut.

__ADS_1


" Sial... Hey... Apa kalian hanya melihat ku saja!? " Tuan Muda itu langsung mengancam bawahanya karena kesal dia seakan hanya sebagai Tontonan.


__ADS_2