Legenda Ninja Angin

Legenda Ninja Angin
Zirah Perang Emas 2


__ADS_3

Kiba seperti kesetenan dia tertawa sangat keras di hadapan semua orang, sebenarnya Kiba pernah mengalami trauma masa lalu.


Dia hampir mati terbunuh oleh seseorang saat istananya terserang oleh musuh, karena trauma tersebut Kiba menjadi rajin untuk berlatih dia dengan cepat bisa menjadi seorang Samurai yang sangat hebat dan berbakat.


Serangan Sakuta membuat trauma Kiba kembali terjadi, " Mati.. Mati.. Mati.. " Kiba sudah tidak berpikir dengan akal sehatnya lagi.


" Hem.. Meski kau masih memiliki pusaka yang sangat hebat lainya, aku akan mengalahkanmu dengan cepat."


Sakuta kemudian melesat sangat cepat ke arah Kiba, dia kembali menyerang Kiba tanpa ampun.


Kiba yang sudah bukan dirinya lagi tersenyum sambil mengeluarkan Pusaka Kecapi miliknya yang ia genggam di tangan kanan, begitu juga pusaka Kipas penghancur pulau yang ia genggam dengan erat di tangan kiri.


Jual beli serangan antara Sakuta dengan Kiba, membuat sebuah getaran dan gempa yang cukup besar di sekitarnya.


" Tuan... Jangan kau bunuh Tuan muda kami, kalau Tuan tidak membunuhnya kami akan memberikan apapun yang Tuan inginkan."


Fokus Sakuta langsung terbagi setelah salah satu bawahan Kiba menyerukan hal tersebut.


GRINN....


Sakuta tersenyum dengan sangat lebar saat pusaka Kecapi milik Kiba hampir mengenai wajahnya, Sakuta langsung berbalik dan dengan cepat memberi sebuah kode terhadap Helena.


Helena kemudian langsung mengangguk karena dia mengerti apa yang di maksud oleh Sakuta.


TEMUJIN....

__ADS_1


Helena langsung mengaktifkan tehnik mata Temujin miliknya, Sakuta kembali melirik ke arah Helena untuk beberapa detik.


Helena kemudian memberinya sebuah kode ke Sakuta bahwa dia sudah siap, mengerti dengan kode tersebut Sakuta tersenyum kemudian dengan cepat ia pergi menghindar dari dekat Kiba.


Sebuah ilusi bola hitam mengurung Kiba yang sudah mengamuk dan sudah tidak terkontrol, Sakuta berdiri kembali di samping Shigen.


Dengan tehnik ilusi Mata Temujin milik Helena, Kiba langsung mematung dan hilang sudah kesadarannya karena selain ilusi Helena dapat bisa melukai fisik ilusi mata Temujin ya juga mampu melukai Kiba secara mental.


Shigen masih terduduk tanpa menghiraukan Sakuta yang berdiri di sampingnya, " Siapa gadis itu? " Tanya Sakuta tiba-tiba dan membuatnya terkejut.


" It-itu kekasihku.. " Dengan wajah sedikit memerah Shigen dengan tegas mengatakan hal tersebut.


" Oh.... Tunggu, Apa!? " wajah Sakuta langsung panik saat sadar Shigen mengatakan bahwa gadis yang menolongnya ternyata dia adalah kekasihnya.


" Aku membawanya dari dunia lain, yahh.. Dia sebenarnya adalah seorang Elf bukan manusia."


" Apa... Kau gila apa membawa seseorang dari dunia yang berbeda!? "


" Ehem... Alasannya simpel yaitu karena Cinta." Dengan wajah merah dia berpura-pura menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengarahkan pandanganya ke arah Laura.


Saat Kiba sudah pingsan dan ambruk tak mampu berdiri lagi. " Akhirnya berhasil.. " sehu Helena, dia mengusap keringat yang merembes dari keningnya, Sakuta bersama Shigen, dan Tomoe mendekat bersama Laura menuju ke arah Helena bersamaan.


" Kekuatan kalian sepertinya sudah meningkat, kalian jadi bertambah kuat." Seru Shigen dengan perasaan senang.


" Yahh... Meski kau terkena racun dan hampir mati. Tapi kekuatan baru mu juga Aura Qi atau Mana menjadi lebih kuat."

__ADS_1


PLAAKKKKK...


Tomoe tiba-tiba memukul kepala Sakuta cukup keras..


AAAUUUUU..


" Kenapa?? " Tanya Sakuta sambil mengelus-elus kepalanya yang terpukul. Tomoe mendekat ke arah Sakuta. " Kau jangan sok kuat dan jangan seperti anak kecil... Kau selalu tidak mau kalah saat bersama Shigen."


" Yahhh.... Saat pertama kali kami bertatap muka dia itu memang Rival ku bukan." Sakuta menatap ke arah Shigen sambil tersenyum lebar.


" Hemmm... Dia benar kami bagaikan minyak dan Air." Shigen tidak kalah dengan Sakuta, dia membalas tatapan panas Sakuta.


" Ehem... Sudah lahh, bagaimana dengan mereka." perkataan Laura membuat mereka hampir melupakan bawahan Kiba yang harus di urus.


Helena menghempaskan nafasnya pelan, dia langsung pergi mendekati bawahan Kiba. "Jadi setelah ini kalian mau apa? Apa kalian masih mau bertarung melawan kami!? " Tanya Helena singkat.


Setelah mengetahui kekuatan Shigen, Sakuta, Helena, mereka tidak berani untuk menjawab setiap pertanyaanya dan bernafas pun mereka sangat berhati-hati. Mereka sangat takut hanya karena suara nafasnya saja akan membuat marah Helena beserta yang lainya.


" Kami mohon ampun.. Biar kami yang membawa Tuan Muda kami kembali kami akan menjelaskan hal ini dengan sejujur jujurnya. Kami berpikir memang kami yang sangat salah."


" Ya kalian memang sangat bersalah.. Karena ulah kalian seorang gadis kecil menjadi sendiri dan tidak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar hidup." Shigen menjadi sangat emosional saat mengingat kesedihan Shio-Chan.


Aura Qi atau Mana es milik Tomoe langsung merembes keluar dan membuat bawahan Kiba menjadi kedinginan. " Sebaiknya kalian cepat p rgi membawa Tuan Muda kalian.. Atau kami akan berubah pikiran dan kami akan membunuhnya." Seru Tomoe tegas.


Wajah bawahan Kiba menjadi sangat pucat dan ketakutan, mereka berlari dan kemudian mereka menggendong Tuan Muda mereka yang sudah tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2