
Kini tinggalah Anna dan Rayyan berdua di kamar itu. Anna perlahan melepaskan tangan Rayyan dari pinggangnya dan beringsut menjauh dari laki-laki itu.
'Kenapa mas Rayyan tidak terkejut sama sekali, apa dia sudah lama mengetahuinya?'
"Terima kasih sudah memberikan nama yang indah untuk putri kita. Terima kasih karna sudah menjaga dan merawatnya dengan baik selama ini. Aku tau tidak mudah bagimu menjalani kehidupan selama empat tahun ini. Menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah bagi Rayna diusiamu yang masih muda. Aku janji An, aku akan membayar semua penderitaan yang telah aku sebabkan selama ini..."
"Sejak kapan kamu mengetahuinya...?"
"Sejak pertama kali melihatnya..."
Anna memutar badannya menghadap Rayyan yang ada di sampingnya "Di Bali...?"
"Sejujurnya aku baru mengetahuinya baru-baru ini. Namun saat pertama kali melihat Rayna, hatiku bergetar. Aku merasa sudah mengenalnya lama dan begitu dekat. Seperti ada sebuah ikatan yang sangat erat diantara kami. Aku yang bodoh, karna tidak mengenali anakku sendiri.."
Rayyan menghela nafasnya panjang "Andai saja waktu itu tante Yasmin tidak mengarang cerita tentang kamu yang mengalami keguguran, dan mengarang cerita tentang pernikahanmu, pasti saat ini kita hidup bahagia dengan keluarga kecil kita dan takkan terpisahkan.."
Anna tersenyum sinis. "Kenapa kamu begitu yakin..? kalaupun tante Yasmin tidak berbohong waktu itu, apa kamu pikir aku mau menerimamu saat itu..? asal kamu tau mas, saat itu aku sangat membencimu. Rasanya aku ingin membunuhmu. Papa aku meninggal, dan itu karna kamu.." amarah Anna kembali memuncak mengingat kejadian itu. "Aku nggak tau gimana aku akan melanjutkan hidupku saat itu. Untungnya ada Jerry yang selalu ada untukku. Yang selalu menguatkan aku..."
Deg
Seketika darah Rayyan berdesir. Entah kenapa dia tidak suka setiap kali Anna menyebut nama laki-laki itu.
__ADS_1
"Jerry lagi Jerry lagi. Aku kan sudah bilang An, Jerry itu hanya memanfa'atkan keadaan. Dia tidak sungguh-sungguh mencintaimu...."
"Kamu tu kenapa sih selalu aja berprasangka buruk terhadap Jerry. Harusnya kamu berterima kasih padanya mas, karna dia Rayna ada sekarang. Asal kamu tau, saat itu aku sempat berfikir untuk menggugurkan kandunganku. Aku tak mau ada darah dagingmu di dalam rahimku. Aku benar-benar tak bisa berfikir dengan jernih, hati dan pikiranku di penuhi kebencian. Tapi Jerry selalu menyemangatiku dan selalu meyakinkanku jika aku mampu melewati semuanya. Dia berjanji akan selalu ada untukku, dan menjaga Rayna..."
"Oh ya..? lalu dimana dia sekarang..? kamu yakin dia akan menepati janjinya...?" suara Rayyan mulai meninggi. Sepertinya dia benar-benar emosi karna Anna selalu membanggakan Jerry.
Seketika Anna terdiam. Tentu saja Jerry tak akan bisa menepati janjinya mengingat ada batu besar yang menghalangi mereka sekarang.
"Lupakan laki-laki brengs*k itu. Dia takkan bisa mendekatimu dan Rayna lagi..." suara Rayyan mulai melunak.
"Jerry sudah menikah tiga hari yang lalu..."
"Aku nggak bercanda, aku serius.. Mereka melangsungkan pernikahan di hotel X milik keluarga istrinya..."
Rayyan mengetahuinya dari ayah Tania sendiri saat mereka meeting bareng. Rayyan sangat terkejut dan tidak menyangka karna setahunya laki-laki itu sedang dekat dengan mantan istrinya. Namun Rayyan juga merasa lega karna tak ada lagi halangan baginya untuk mendapatkan Anna kembali.
"Itu nggak mungkin..! Jerry lagi di Singapura sekarang mengurus bisnis papanya.." Anna masih tak percaya dan dia berusaha tersenyum.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas memang seperti itu kenyataannya.."
"Kamu bohong..! kamu pasti sengaja kan mengarang cerita agar aku menjauhinya...?" Anna masih tak percaya.
__ADS_1
"Kalau kamu tetap nggak percaya telpon sekarang juga. Tanyakan langsung padanya..."
Seketika Anna langsung meraih ponselnya dan menekan nomor Jerry disana. Dalam deringan pertama langsung ada jawaban dari ujung sana. Dan itu suara wanita.
"Hallo...." suara itu terdengar begitu lembut.
"Iya hallo.. Apa saya bisa bicara dengan Jerry...?" tanya Anna tanpa basa basi.
"Ma'af.., kalau boleh tau dengan siapa saya bicara..? dan ada perlu apa dengan suami saya...?"
Deg...
Jantung Anna seakan berhenti berdetak. Jerry ternyata benar-benar sudah menikah.
"Aku temannya..."
"Oohhh Jerry lagi sibuk mbak, nggak bisa diganggu. Ma'af ya, mungkin lain kali mbak bisa bicara dengannya..." seketika telpon langsung terputus.
Anna terdiam dengan tubuh bergetar. Air mata mulai menggenangi pipi mulusnya.
'Kenapa kamu tega ngebohongi aku Jer..? lalu apa artinya kedekatan kita selama ini? mungkin tidak akan sesakit ini jika kamu berterus terang dari awal'
__ADS_1