Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Benarkah?


__ADS_3

Hari ini Anna sengaja izin pulang lebih cepat dari butik. Dia ingin menenangkan dirinya sejenak. Saat ini Anna hanya ingin pergi ke taman dekat kontrakannya yang lama. Karna setiap kali Anna merasa sedih, hanya taman itu yang bisa membuat perasaannya lebih tenang. Lagian Anna juga merindukan kedua sahabatnya bu Wati dan bu Lastri apalagi waktu itu dia belum sempat pamit.


"Ca, anterin gua ke kontrakan yang lama ya, gua kangen pengen kesana..."


"Oke..." Icha pun menuruti permintaan sahabatnya itu. Dia sangat mengerti perasaan Anna sekarang.


Di dalam perjalanan Anna hanya diam, pandangan matanya lurus ke depan. Bayang-bayang Hazel dan Rayyan selalu muncul di pikirannya.


Dret..dret.. ponsel di tangan Anna tiba-tiba bergetar. Di sana tampak Rayyan memanggilnya. Dan Anna pun mengangkatnya.


"Iya mas..." suara Anna terdengar lirih.


"Kamu kenapa sayang..? kamu sakit..?" terdengar kekhawatiran di ujung sana.


Anna memaksakan senyumnya. "Nggak kok, aku baik-baik aja.."


"Syukurlah.. Aku sangat merindukanmu.."


Anna tersenyum getir merasa apa yang di katakan Rayyan itu tidak sesuai dengan kenyataannya.


"Nanti aku akan pulang lebih cepat. Kita makan malam di luar ya sayang.."


"Ma'af mas, aku nggak bisa. Aku juga mau bilang kalau aku bakal keluar bareng Icha.."


"Kemana..?"


"Nggak usah khawatir, aku nggak bakal pergi jauh kok. Ya udah ya, aku tutup dulu..." Anna kemudian memutuskan sambungan telponnya tanpa meminta persetujuan si penelpon.


"Semua laki-laki itu sama..!" umpat Anna.

__ADS_1


"Sabar ya An..." Ica mengelus tangan Anna.


Tak lama kemudian mobil Icha pun memasuki gang sempit kontrakan Anna. Banyak kenangan yang terlintas di ingatan Anna saat ini. Terutama saat dirinya masih kuliah dulu, hampir tiap hari dia melewati jalan itu dengan berjalan kaki. Kadang dia juga harus berlari karna takut ketinggalan kopaja yang akan mengantarkannya ke kampus.


Kini mobil Icha berhenti tepat di depan kontrakan itu.


"An, lo mau ngapain ke sini..?" tanya Icha penasaran. Kontrakan itu terlihat tak berpenghuni.


Anna tak menjawab, matanya menatap sendu rumah petak yang ada di depannya itu. Rumah yang mengajarinya banyak pengalaman hidup. Dari seorang gadis manja menjadi gadis dewasa yang sangat mandiri. Tak ada yang berubah di sana, semuanya masih terlihat sama. Kemudian Anna melirik ke arah warungnya bu Lastri, di sana terlihat sepi. Tak ada duo julid yang selalu sibuk menggosip. Kemudian Anna teringat jika sekarang adalah jadwalnya ibu-ibu senam aerobik di taman. Anna pun langsung meminta Icha membawanya kesana.


Ternyata benar dugaan Anna, terlihat ibu-ibu sedang asyik melakukan senam menggerakkan tubuhnya dengan penuh semangat. Namun di sisi lain Anna melihat Sari sedang duduk melamun sendiri. Dan Anna pun langsung menghampiri Sari bersama Icha.


"Baaaa..." Anna mengagetkan Sari. Dengan melihat Sari aja suasana hati Anna mulai terasa baikan.


"Abra da kadabra..." ucap Sari spontan yang langsung di sambut gelak tawa oleh Anna dan Icha.


"Kamu ngapain sih Sar, ngelamun aja. Ntar kerasukan lo..." ujar Anna.


Sari pun langsung menghambur memeluk Anna. Dan Anna pun membalasnya.


"Kamu kemana sih An, pergi nggak pamit-pamit...?"


"Ma'af ya Sar, waktu itu aku buru-buru. Dan aku nggak sempat lagi pamitan ma kalian..."


"Kami di sini kehilangan kamu banget tau nggak.."


Anna tak kuasa menahan air matanya, ada rasa haru seperti bertemu keluarganya sendiri. "Aku kangen kalian.."


"Sama, kami di sini juga kangen kamu.." Sari makin mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Kata siapa..? kita nggak kangen tuh.." sahut seseorang. Dan Anna pun langsung mengenali suara itu.


"Bu Wati, bu Lastri...?" tanpa persetujuan mereka Anna pun langsung memeluk wanita paruh baya itu secara bergantian.


"Aduhh ni anak kenapa sih peluk-peluk..." ucap bu Wati sambil menyeka air matanya yang berhasil terjun bebas dari pipinya.


"Anna kangen ibu berdua..."


"Kan udah di bilang, kita nggak kangen sama kamu..."


"Jahat banget sih..?" Anna cemberut.


"Kamu juga jahat kali An, ninggalin kami di sini tanpa pamit. Mentang-mentang sekarang tinggalnya di apartemen mewah..hufftt.." ibu Wati merengut.


"Ibu kok tau kalau Anna tinggal di apartemen..?"


"Ya taulah... Orang kaya kayak kamu tinggal di mana lagi kalau bukan di apartemen atau di rumah mewah..." timpal bu Lastri.


"Orang kaya gimana sih bu..? nggak mungkin kan orang kaya tinggal di kontrakan kecil seperti itu..?"


"Udah lah An, kami udah tau kok sekarang. Rayyan itu sebenarnya anak dari pengusaha kaya raya. Dia tinggal di sini hanya untuk bersembunyi.."


"Maksud ibu apa sih..?" Anna semakin tak mengerti.


"Waktu itu ada dua orang laki-laki yang datang kesini. Mereka terlihat gagah dengan mengenakan stelan jas warna hitam seperti bodyguard orang-orang kaya yang ada di film gitu. Mereka datang mencari Rayyan. Dan mereka juga yang cerita jika Rayyan itu adalah anak dari bos mereka..."


"Iya An, mereka juga banyak bertanya tentang kehidupan kalian. Udah kayak wartawan.." sahut bu Wati.


'Apa benar yang mereka katakan jika mas Rayyan adalah anak dari pengusaha kaya raya..?' Kepala Anna semakin pusing sekarang.

__ADS_1


__ADS_2