
"Ca, lo dimana...?" Anna menelpon Icha. Suaranya terdengar serak karna habis nangis.
"Ni gua lagi di jalan pulang dari kampus. Lo kenapa An..?" suara Icha terdengar khawatir.
"Bisa jemput gua nggak..? gua pengen ketemu lo sekarang.."
"Bisa.. bisa... Lo dimana sekarang? biar gua jemput..."
"Gua di apartemen X.."
"Oke lo tunggu di sana ya, gua kesana sekarang.." Icha memutus sambungan telponnya.
Kini Anna berdiri di lobby apartemen menunggu kedatangan Icha. Tak lama kemudian terlihat Icha melambaikan tangan ke arahnya.
"Anna..." panggil Icha.
Anna pun langsung menghampiri sahabatnya itu. "Yok kita pergi dari sini..." Anna menarik tangan Icha membawanya keluar dari lobby apartemen itu.
Kini mereka dalam perjalanan yang belum jelas tujuannya.
"Lo ngapain tadi di sana..?" tanya Icha penasaran. "Lo nggak kenapa-kenapa kan..?"
"Ceritanya panjang Ca. Nanti gua ceritain..."
"Oke.., terus kita mau kemana sekarang..?"
"Cari makan dulu kayaknya, soalnya gua laper banget.." Anna memang belum sempat makan siang dari tadi.
"Oke..." Icha langsung menginjakkan pedal gasnya, menambah kecepatan mobilnya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di restoran cepat saji tempat biasa mereka makan. Anna memesan ayam goreng pedas lengkap dengan minumannya. Begitupun dengan Icha, kebetulan mereka punya selera yang sama.
"An, lo tadi kok bisa ada di apartemen itu sih..?" Icha udah nggak sabar lagi pengen tau ceritanya.
"Gua ama mas Rayyan bakal tinggal disana mulai hari ini..."
"Oh ya..? tapi kenapa lo kayak nggak senang gitu..?"
"Ya gua bukannya nggak senang, tapi gua nggak suka aja dengan caranya mas Rayyan. Dia sama sekali nggak ngasih tau gua sebelumnya, dan tiba-tiba sekarang dia bawa gua pindah kesana. Bahkan dia meminta temannya buat mindahin barang kita kesana. Dan yang lebih parahnya lagi mas Rayyan bakalan kerja di perusahaan bokapnya Elsa. Lo tau kan Ca, bokapnya Elsa yang udah ngancurin perusahaan bokap gua. Bokapnya Elsa yang udah ngerebut perusahaan bokap gua. Gua ngerasa kayak mas Rayyan mengkhianati bokap gua Ca. Lo ngerti kan perasaan gua..?"
Icha terdiam sesaat. Dia tau gimana perasaan Anna sekarang.
"Mungkin mas Rayyan punya alasan sendiri An..."
"Apapun alasannya tetap aja cara dia itu salah Ca. Kenapa harus di perusahaan itu dari sekian banyaknya perusahaan yang ada di Jakarta ini..."
__ADS_1
"Gua bener-bener bingung sekarang Ca. Rasanya gua pengen nyusul bokap aja ke Jerman. Lagian ngapain juga gua di sini, udah nggak kuliah, nggak kerja juga. Lama-lama gua bisa stres.."
"An..., lo sabar ya. Jika lo nyusul bokap lo ke Jerman bukannya bokap lo makin sedih ya..? Bokap lo sekarang pasti mikirnya yang baik-baik aja tentang lo dan mas Rayyan. Jika lo tiba-tiba ke sana dan nyeritain semuanya gua takutnya bokap lo makin down..."
Anna tampak mencerna perkataan Icha, ada benarnya juga apa yang di katakan sahabatnya itu.
"An, lo percaya aja ama mas Rayyan. Apapun yang dia lakukan pasti yang terbaik untuk kalian berdua. Emangnya lo mau jika mas Rayyan terus-terusan bekerja di restoran..? lo mau terus-terusan tinggal di kontrakan sempit itu..? nggak kan An..?"
"Iya nggak sih..."
"Makanya lo tenang aja ya. Buang pikiran buruk lo itu jauh-jauh dan percayakan semuanya sama mas Rayyan..."
"Caiyo Anna.." Icha mengangkat tangannya memberi semangat kepada Anna.
Anna tersenyum.. " Thank's ya Ca, lo emang sahabat gua yang paling baik..."
"Sama-sama An.. Oh ya gimana jika abis ni kita ke butiknya kak Intan..? udah lama juga kan kita nggak kesana..." Intan adalah kakak sepupunya Icha sekaligus pemilik butik langganan Anna.
"Oke..." Anna bersemangat.
"Tapi mas Rayyan nggak marah kan...?"
Anna hanya mengedikkan bahunya. Saat ini dia butuh refresing untuk menghilangkan beban pikirannya.
"Hallo kak, kangeeenn..." Icha langsung memeluk Intan.
"Kakak juga kangen..." Intan membalas pelukan Icha. "Kemana aja kamu udah lama nggak datang kesini..?"
"Sibuk kuliah kak..." Icha melepas pelukannya.
"Ehh ada Anna juga ternyata..." ucap Intan.
"Hai kak..." sapa Anna dengan senyum manisnya.
"Kamu apa kabar An..? makin cantik aja..." puji Intan.
"Baik kak.. Ehh kakak bisa aja..." Anna malu-malu.
"Oh ya barusan Dewa baru aja keluar dari sini sama pacarnya. Mereka abis fitting baju untuk acara pertunangan katanya.." Intan terdengar kecewa. Intan juga mengenal Dewa karna Dewa sering mengantarkan Anna belanja di butiknya.
"Oh ya..?" Anna terlihat biasa-biasa aja.
"Kenapa bukan kamu aja yang tunangan ma Dewa.. Nggak cocok banget tau nggak Dewa ma tu cewek. Mana tu cewek jutek banget lagi. Kesal deh kakak..." Intan mendengus kesal.
"Iya namanya juga nggak jodoh kak. Anna bahkan dapat yang lebih baik dari dia.." sahut Icha.
__ADS_1
"Iya sih.. Ya udah kalian mau minum apa ni..? mau makan apa, biar kakak pesan.."
"Nggak usah repot-repot kak..." ucap Anna.
"Nggak apa-apa An, sekali-sekali.. Lagian kakak sekarang lagi banjir job.." ucap Intan senang.
"Ciiieee,, yang banjir job. Jangan lupa bagi rezky sama adeknya ya.." goda Icha.
"Tenang aja.. Tapi kakak lagi pusing ini, salah satu karyawan kakak tiba-tiba berhenti kerja. Katanya mau pulang kampung orangtuanya sakit. Bingung juga sih mau cari karyawan mendadak gini..."
"Anna aja kak..." ucap Anna semangat.
"Iihh Anna kakak lagi serius juga..."
"Anna serius kak..."
"Iya kak, Anna itu emang punya bakat desainer kak. Dari dulu malah..." Icha meyakinkan.
"Tapi kan Anna kuliah, gimana caranya...?" ternyata Intan belum tau jika Anna berhenti kuliah sementara, Intan hanya tau jika orangtua Anna bangkrut itupun karna Anna jarang belanja di butiknya lagi dan Icha pun akhirnya menceritakannya.
"Kebetulan Anna lagi cuti kuliah kak. Jadi Anna agak bete juga sih di rumah terus..." ucap Anna sambil menundukkan kepalanya.
"Ohh gitu.. Ya udah kalau gitu kamu boleh kerja di sini. Anggap aja kamu lagi ngasah bakat kamu sekaligus belajar lagi sama kakak.."
"Beneran kak...?" Anna kembali semangat. Dari dulu Anna memang berkeinginan menjadi desainer. Cuma papanya memaksa untuk mengambil kuliah jurusan bisnis.
"Iya..." Intan menyunggingkan senyumnya.
"Makasih kak, kakak emang baik banget..." Anna menghambur memeluk Intan.
"Kakak tu udah nganggap kamu seperti adik kakak sendiri, sama kayak Icha..." Intan mengelus punggung Anna lembut.
"Sekali lagi makasih kak..." Anna benar-benar terharu. "Kalau gitu kapan aku bisa mulainya kak...?"
"Terserah kamu aja, lebih cepat lebih baik..."
"Oke kak, aku akan mulai besok..."
"Oke... kakak tunggu besok..."
Anna seolah melupakan kesedihannya. Dia senang karna bisa mengasah bakatnya lagi sebagai desainer. Tapi Anna tak akan menceritakannya kepada Rayyan. Dia akan bekerja secara diam-diam. Karena jika Rayyan mengetahuinya, Rayyan pasti tidak akan mengizinkannya...
***
Jangan lupa likenya ya, makasih😘
__ADS_1