Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
94


__ADS_3

Rayyan sudah mendatangi rumah sakit terdekat dengan restorannya, namun dia tidak menemukan Anna di sana. Rayyan juga sudah mencari informasi dari rumah sakit lainnya, namun sama sekali tak tak ada pasien yang bernama Anna Rahardian. Sementara Anna masih belum mau mengangkat telponnya dan membaca pesan darinya.


'Kamu tu dimana sih An..? aku nggak bisa kayak gini terus. Aku bisa gila karna terus mencarimu' Rayyan mengusap wajahnya kasar.


Rayyan kemudian langsung menelpon Dio. "Dio, cari tau siapa yang sudah membuat istri saya cedera. Periksa rekaman CCTV kejadian..." titah Rayyan sambil menutup telponnya. Dia tidak akan memberi ampun kepada orang yang sudah mencelakai istrinya.


Setelah itu Rayyan langsung menuju rumah Anna. Berharap Anna sudah pulang kerumahnya. Namun sesampainya disana tak terlihat satupun mobil yang terparkir di depan rumah itu. Tak lama kemudian terlihat mang Asep membuka pintu gerbang dan Rayyan pun langsung masuk.


"Apa Anna dan Rayna udah pulang mang..?" tanya Rayyan.


"Non Anna sepertinya masih di butik mas. Kalau Rayna harusnya sih udah pulang jam segini, tapi sampai sekarang belum sampai juga. Mungkin lagi pergi sama mas Jerry.." jelas mang Asep.


'Jerry..? Kamu bawa kemana anakku Jerry' Rayyan mengepal tangannya kuat.


Tak lama kemudian terlihat mobil yang biasa antar jemput Rayna datang.


"Itu Rayna pulang..." ujar mang Asep.


Namun sepertinya mang Asep salah, karna hanya terlihat Adi sang sopir yang turun.


"Adi, Rayna mana...?" tanya mang Asep.


"Anu pak, tadi bukan saya yang jemput Rayna. Soalnya tadi mobil ini tiba-tiba mogok. Jadi saya minta Fitri buat telpon mbak Anna..." Adi adalah putranya mang Asep. Mereka bekerja satu keluarga disana.


"Mogok gimana sih Di, inikan mobil baru. Jangan ngada-ngada deh kamu..." mang Asep tak percaya.


"Beneran pak. Kalau bapak nggak percaya tanya aja langsung ke bengkelnya..."


"Telpon Fitri sekarang, apa non Anna udah datang jemput atau belum..?"


"Baik pak..." Adi kemudian langsung menghubungi Fitri.


"Ya udah..." hanya itu kata terakhir dari Adi sebelum menutup telponnya.


"Gimana...?" tanya mang Asep tak sabaran.


"Mereka sekarang lagi main di mall pak, sama non Anna..."

__ADS_1


"Mall...?" Rayyan melototkan matanya. Karna tadi Dio bilang jika Anna cidera.


"Iya mas.., Mall K..." ujar Adi.


"Ya udah.., makasih...." Rayyan kemudian langsung bergegas meninggalkan tempat itu dan menuju Mall K.


Sementara Anna kini sedang berada di sebuah cafe yang ada di dekat playground tempat Rayna bermain. Anna benar-benar sudah tak sanggup lagi untuk jalan. Kakinya terasa sangat sakit. Dan juga mulai membengkak.


"Kenapa sesakit ini sih..?" ringis Anna. Air mata tampak menetes di sudut pipinya tanpa bisa di tahan. Seandainya bukan karna ingin membahagiakan Rayna, Anna takkan sanggup menuju mall itu tadi. Namun Anna tak bisa melihat putrinya bersedih, cukup dia saja yang merasakannya.


"Ibu kenapa...?" tanya Fitri khawatir.


"Nggak apa-apa kok..." Anna menyeka airmatanya.


"Mommy...." teriak Rayna sambil melambaikan tangannya. Terlihat jelas kebahagiaan di wajahnya. Sepertinya Rayna sudah melupakan kesedihannya tadi.


Anna tersenyum sambil melambaikan tangannya. Anna tak ingin Rayna melihatnya bersedih.


"Have fun baby.." ucap Anna dengan gerakan bibirnya.


Rayna mengacungkan kedua jempolnya, kemudian melanjutkan permainannya kembali.


"Oohh... tadi aku terjatuh Fit, sepertinya keseleo..."


"Udah di obatin belum bu? takutnya nanti makin parah...." Fitri khawatir.


"Belum sih..."


"Astaga bu.. Ayo kita kerumah sakit sekarang. Kaki ibu harus segera di obati..."


"Nanti aja Fit, Rayna masih main..." rasanya tidak tega mengganggu kebahagiaan putrinya.


"Tapi bu..."


"Udah nggak apa-apa...." Anna tersenyum seolah-olah memang tidak apa-apa.


"Ayo kerumah sakit..." ucap Rayyan yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Kamu...?" Anna melototkan matanya. "Ngapain kamu kesini..?" Anna menatap Rayyan penuh kebencian. Anna merasa apa yang terjadi padanya dan Rayna hari ini adalah karna Rayyan. Seandainya dari awal Rayyan berkata jujur mungkin ini semua takkan terjadi.


Rayyan tak menjawab. Matanya sibuk mencari keberadaan Rayna, hingga kemudian dia melihat Rayna sedang asyik bermain. "Fitri tolong bawa Rayna ke sini, kita kerumah sakit sekarang..."


"Baik pak..." Fitri langsung bergegas menuju ketempat Rayna bermain.


"Pergi dari sini sekarang, sebelum Rayna datang. Aku nggak mau Rayna melihatmu disini.." ketus Anna.


"Emangnya kenapa kalau Rayna melihatku..? aku ini ayahnya An, bukan si pengecut itu..." Rayyan mendengar semua yang dikatakan mama Jerry tadi.


"Maksud kamu apaan sih..? pergiii....!"


Tanpa mempedulikan perkataan Anna, Rayyan pun langsung mengangkat tubuh Anna ala bridal style dan membawanya pergi dari tempat itu.


"Kamu apaan sih, turunin aku..." Anna memberontak. Anna merasa sangat malu karna semua orang memperhatikannya.


Rayyan hanya tersenyum, dia sama sekali tidak peduli.


"Mommy aku kenapa sus..? apa uncle itu jahat padanya..?" bisik Rayna ke Fitri.


"Nggak kok Na.. Mommy Nana lagi sakit, makanya di gendong sama uncle..."


"Ooo gitu ya sus..." Rayna manggut-manggut.


Sepertinya Rayna sudah tak takut lagi dengan Rayyan. Dia mulai mau di ajak bicara, walaupun tidak seperti awal-awal dulu. Rayyan merasa sangat senang, dia yakin bisa merebut hati bocah kecil itu lagi dan kembali dekat seperti dulu. Bahkan lebih, karna dia adalah ayah kandungnya.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit. Anna langsung di periksa oleh dokter spesialis tulang. Tampak jelas kekhawatiran dari wajah Rayyan.


"Gimana dok, kaki istri saya..?" tanya Rayyan khawatir. Yang seketika langsung mendapat tatapan tajam dari Anna.


"Tidak apa-apa.. Hanya mengalami kebengkakan di pergelangan kakinya akibat keseleo. Mungkin untuk beberapa hari kedepan istri anda tidak bisa berjalan. Saya akan memasangkan gips pada kakinya supaya cepat membaik.. Dan istri anda harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.." jelas sang dokter.


Anna menghela nafasnya berat. Pasti dia akan sangat kesulitan beberapa hari kedepan.


Rayyan tersenyum kearah Anna, ini adalah kesempatan baginya untuk bisa mendekati istri dan anaknya lagi.


"Terima kasih dok, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya..." ujar Rayyan sambil melirik ke arah Anna.

__ADS_1


"Tentu saja pak..."


Setelah itu mereka pun langsung pulang kerumah. Di sepanjang perjalanan Anna hanya diam, tampak jelas kekesalan di wajahnya karna Rayyan terus saja menyebut dirinya sebagai suaminya. Namun Anna juga sangat senang, seandainya Rayyan tak datang entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Karna dirinya benar-benar sudah tak mampu lagi untuk berjalan.


__ADS_2