Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Menyusul Rayyan ke Bali


__ADS_3

Di perusahaan Star Ligt


"Dewa, bagaimana dengan proyek perumahan di kota Z, apakah kamu berhasil mendapatkannya..?" tanya Fahri pada menantunya. Semenjak Elsa dan Dewa menikah mereka lah yang membantunya di perusahaan. Apalagi Rayyan juga sudah tak mau lagi bekerja dengannya karna Rayyan sudah punya perusahaan sendiri.


Dewa tertunduk "Ma'af pa, aku gagal mendapatkannya.."


Plak.. Fahri melempar berkas di tangannya ke meja dengan kasar. "Kamu tu gimana sih Wa, selalu saja gagal. Ini udah ketiga kalinya kamu gagal mendapatkan proyek besar.."


Dewa tak berani menjawab, dia hanya tertunduk. Dewa memang tidak terlalu handal dalam urusan bisnis apalagi dia baru terjun ke dunia itu.


"Papa apaan sih kok malah marah ama Dewa? papa nggak tau aja kalau pesaingnya itu berat pa. Ya wajarlah kalau Dewa gagal..." bela Elsa.


"Makanya bersungguh-sungguh dan belajar dari kesalahan. Coba lihat Rayyan, dia sukses besar sekarang. Itu berkat kegigihan dan kerja kerasnya. Kalau seperti ini papa jadi ragu menyerahkan perusahaan ini kepada kalian..."


"Pa...." Elsa langsung berdiri dari duduknya. Elsa sangat takut jika papanya akan menyerahkan perusahaan itu kepada Rayyan.


"Papa nggak mau tau ya, untuk selanjutnya nggak ada lagi kata gagal. Dan kamu Elsa,, berhenti menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadimu. Kamu pikir selama ini papa nggak tau kelakuanmu. Bisa-bisa kita bangkrut karna ulahmu.." Fahri sinis.


Deg

__ADS_1


Kok papa bisa tau sih? jangan-jangan pak Dodi yang membocorkan kepadanya. Iihh dasar tua bangka itu.. Elsa mengepal tangannya kuat.


Pak Dodi adalah kepala bagian keuangan di perusahaan itu. Dan Elsa memang sudah beberapa kali mengambil uang perusahaan untuk kepentingannya sendiri. Dari dulu Elsa sangat suka belanja dan mengoleksi barang-barang mewah. Namun semenjak menikah Elsa tak bisa seperti dulu lagi meminta uang dengan mudahnya kepada orangtuanya. Jalan satu-satunya hanyalah dengan menggunakan uang perusahaan yang dia ambil secara diam-diam.


Elsa dan Dewa kemudian keluar dari ruangan papanya. Terlalu lama berada di ruangan itu hanya akan membuat telinga panas dan sakit hati. Apalagi papa Fahri selalu mengomeli mereka.


"Sayang, kamu yang sabar ya. Nggak usah dengerin omongan papa. Masih banyak proyek-proyek besar lainnya yang bisa kita dapatkan. Kita harus buktikan ke papa kalau kita juga nggak kalah hebatnya dari kak Rayyan..." ujar Elsa.


Dewa hanya tersenyum kilat.


"Kamu semangat kerjanya ya. Aku mau menemui kak Hazel bentar..."


Setelah itu Elsa pun langsung meninggalkan Dewa. Dewa hanya bisa memandangi kepergian istrinya. Sesungguhnya dia mulai muak menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Elsa. Apalagi sampai saat ini mereka belum juga mempunyai momongan.


Tak lama kemudian Elsa pun sampai di perusahaannya Ryn group. Dia langsung menuju keruangan Hazel untuk bertemu kakak iparnya itu. Dari dulu Elsa memang sangat dekat dengan Hazel. Mereka mempunyai hobby yang sama yaitu memburu barang-barang mewah.


"Hai kakak sayang.." ucap Elsa ketika masuk keruangan Hazel.


"Hei..." Hazel langsung berdiri dari duduknya dan mereka cipika cipiki.

__ADS_1


"Apa kabar sayang, kok udah lama banget nggak nyamperin kakak, sibuk banget ya..?" tanya Hazel.


"Ya gitu deh.. Oh ya, kak Rayyan mana sih? kok nggak pernah angkat telpon aku..sebel deh..." Elsa mencebik.


"Mungkin lagi sibuk.. Dia di Bali sekarang ngurusin proyek di sana.."


"Oh ya..? sejak kapan..?"


"Tiga hari lalu..."


"What..? kak Rayyan tiga hari di Bali dan kakak tetap di sini. Aduuhh nggak ngerti lagi, kenapa sih kakak nggak ikut aja..? nggak takut kak Rayyan ngelirik wanita lain gitu..."


Hazel hanya tersenyum. Sangat mustahil jika Rayyan melirik wanita lain, hati laki-laki itu bagaikan mati. Dia takkan pernah menyukai wanita manapun selain mantan istrinya Anna. Hazel tau itu, sekeras apapun dia berusaha merebut hati Rayyan namun dia tak pernah bisa.


"Gimana kalau kita nyusul dia ke Bali..? soalnya aku juga butuh refreshing ni kak..." rengek Elsa.


Hazel tampak berpikir sejenak. Dan tak ada salahnya juga dia menyusul suaminya itu.


" Oke.., kita akan nyusul Rayyan ke Bali..."

__ADS_1


"Yeee..." Elsa senang.


__ADS_2