
"Sayang.., apa cucu papa yang kamu maksud tadi anaknya kak Rayyan dan Anna ya..?" tanya Dewa yang dari tadi sudah tak sabar menunggu Elsa keluar dari kamar mandi. Tak bisa di pungkiri sampai saat ini Dewa masih sering memikirkan Anna. Apalagi Anna yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar sama sekali.
"Kenapa emangnya..? jangan bilang kamu masih mengharapkan Anna...?"
Elsa menatap Dewa dengan tatapan membunuh.
Seketika Dewa mengalihkan pandangannya tak tahan dengan tatapan mematikan istrinya itu "Ya nggak lah.., sedikitpun aku nggak pernah berpikiran seperti itu. Anna itu hanya masalalu sayang..."
Ciihh..
"Masalalu tapi sulit ngelupakan.."
"Udah deh jangan mulai lagi. Kamu tau kan Anna itu wanita yang sangat dicintai kak Rayyan..? Sampai kapanpun kak Rayyan pasti akan memperjuangkan cintanya. Apalagi ada anak mereka sekarang. Kamu juga harus bisa terima kenyataan jika Anna itu merupakan bagian dari keluarga kita..."
Elsa tertunduk.., sesungguhnya apa yang dikatakan Dewa itu benar adanya. Tak ada lagi alasan baginya untuk membenci Anna sekarang. Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini. Apalagi sekarang ada Rayna, darah daging kakaknya sendiri. Dengan melihat wajah Rayna saja mampu menyejukkan hatinya. Apalagi wajah Rayna juga sangat mirip dengan Rayyan, dan itu artinya sedikit banyaknya juga mirip dengannya.
"Kamu jangan bersikap seperti anak kecil lagi. Semua orang menyayangimu dan berharap yang terbaik untukmu. Mari kita mulai lagi hubungan kita yang lebih baik. Aku janji akan terus membimbingmu dan berada disampingmu..."
Seketika air mata Elsa jatuh di sudut pipinya. Kemudian dia langsung memeluk Dewa.
"Bimbing aku menjadi istri yang baik untukmu, menjadi anak yang berguna bagi papa dan mama, menjadi adik yang bisa di andalkan bagi kak Rayyan dan istrinya nanti..."
"Iya sayang..., aku janji..." Dewa membalas pelukan Elsa.
Sementara Fahri kini sedang berada di ruang kerjanya. Dia kemudian menelpon orang suruhannya untuk mencari tahu tentang ucapan Elsa tadi.
__ADS_1
"Ikuti Rayyan kemanapun dia pergi..! kapan perlu ikuti dia selama dua puluh jam. Kabari saya apapun yang kamu lihat. Mengerti...!"
"Baik tuan.."
Fahri memutuskan sambungan telponnya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Rayyan sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Daritadi dia selalu gelisah memikirkan Anna. Tadi Rayyan tidak bisa menjemput Anna pulang kerja karna ada pekerjaan penting yang harus segera di selesaikannya.
Satu jam yang lalu saat masih di kantor, Anna memberitahunya jika dia sudah sampai di rumah dan setelah itu nomornya sama sekali tak bisa di hubungi lagi. Sepertinya Anna sudah tidur karna memang seharian ini dia sibuk dengan pekerjaannya di butik.
"Aku nggak bisa kayak gini terus. Aku harus ke rumah Anna sekarang..."
Tak butuh waktu lama Rayyan pun telah sampai di depan rumah Anna. Terlihat satpam yang berjaga di sana membukakan pintu gerbang untuknya, dan Rayyan pun langsung masuk.
"Malam tuan..." sapa satpam yang bernama Tono itu. Dia adalah satpam baru, orang kepercayaan Rayyan yang dia perkerjakan di sana.
"Malam mang.." jawab Rayyan yang kemudian langsung masuk kedalam rumah. Tujuan utamanya sekarang adalah kamar Rayna. Karna memang seharian ini dia belum bertemu putrinya itu.
Rayyan mencium kening Rayna yang tertidur pulas. Kemudian dia mengusap-usap rambut putrinya itu lembut.
"Ma'afin daddy ya sayang, daddy belum bisa nepati janji buat tinggal bersama kalian di sini. Kita bujuk mommy sama-sama ya, agar mommy mau terima daddy lagi..."
Sampai saat ini memang belum ada jawaban pasti dari Anna untuk mau menikah lagi dengannya. Dan itu membuat Rayyan frustasi. Sepertinya Anna masih ragu padanya.
__ADS_1
Rayyan kemudian menuju kamar Anna yang bersebelahan dengan kamar Rayna. Terlihat Anna sedang tidur pulas dengan lampu yang masih menyala. Sepertinya Anna lupa mematikannya. Rayyan lalu duduk di sisi ranjang, sambil memperhatikan wajah cantik mantan istrinya itu. Tangannya membelai pipi mulus Anna, menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Ia bahkan tak bisa menahan dirinya saat melihat bibir seksi Anna yang sedikit terbuka itu. Rayyan lalu mengecupnya ringan.
Anna menggeliatkan badannya, dan perlahan membuka matanya. Kemudian dia langsung bangun saat melihat Rayyan yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.
"Mas, ngapain kesini..?" tanya Anna dengan mata yang membulat sempurna.
"Aku nggak bisa tidur, makanya aku datang kesini..."
"Mas..., kamu nggak bisa datang kesini seenaknya gitu. Apalagi ini udah malam. Nggak enak di liat orang mas..."
"Emangnya siapa yang peduli. Lagian aku pulang kerumah istriku sendiri..."
"Mas..., pliss deh jangan kayak gini..."
"Makanya An.., kita nikah lagi. Aku nggak bisa kayak gini terus..."
"Oke... kita nikah lagi..." ujar Anna spontan.
"Yang bener sayang..? ya udah kalau gitu kita akan menikah besok..." ujar Rayyan senang.
"Besok...?" Anna membulatkan matanya.
"Iya besok..."
'Astaga.., aku kenapa sih nggak mikir dulu tadi'
__ADS_1