Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Tertangkap Basah


__ADS_3

Cukup lama Anna tertidur, dan ketika bangun dia merasakan badannya sakit-sakit semua. Rasanya sama seperti ketika pertama kali mereka melakukannya. Anna kemudian ingin bangun, namun dia merasakan area sensitifnya begitu nyeri. Itu karna Rayyan yang melakukannya secara brutal.


"Awww..." Anna merintih. Kemudian dengan pelan Anna mulai bangun dan menuju kamar mandi.


Anna berdiri di depan kaca, dan dia bisa melihat tanda merah memenuhi tubuhnya. Terutama di bagian leher hingga dadanya.


Anna mencebik "Mas Rayyan jahat banget sih, tega banget bikin aku kesakitan gini..Hiks" Setelah itu Anna pun mulai membersihkan badannya.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Anna segera mengenakan pakaian rumahannya. Sejenak Anna mematung di depan kaca, dia bingung gimana cara menghilangkan tanda merah itu karna begitu mencolok. Tak lama kemudian tiba-tiba hidung Anna mencium aroma masakan yang begitu wangi dari arah dapur. Seketika perut Anna langsung terasa lapar. Anna pun langsung menuju dapur. Terlihat di sana bik Sri sedang sibuk memasak.


"Lagi masak apa bik..? wangi banget..." ucap Anna sambil menghampiri bik Sri.


"Ehh non udah bangun..?" bik Sri menampilkan senyum manisnya. "Ini bibik lagi masak ayam kecap pedas kesukaan non..."


"Wahh... Jadi nggak sabar pengen makan..." ucap Anna senang. "Oh ya, mas Rayyan pergi ya bik..?"


"Iya non. Tadi bibik liat pak Rayyan buru-buru gitu..."


"Ummpp..." Anna tampak kecewa. Bisa-bisanya Rayyan meninggalkannya setelah apa yang di lakukannya tadi.

__ADS_1


"Oh ya kemaren non kemana sih? kok nggak pulang..? bibik khawatir banget non..."


"Ma'af ya bik, udah bikin bibik khawatir.."


"Bibik kasian non sama pak Rayyan. Pak Rayyan terlihat begitu sedih..."


Anna menarik nafasnya panjang. Andai aja Rayyan jujur dari awal pasti dia tidak akan berbuat seperti itu. Anna kemudian duduk di meja makan, dan tak lama bik Sri pun langsung menghidangkan makanan di sana.


"Makan yang banyak ya non..." ucap bik Sri.


"Tentunya dong bik. Makanan enak gini.." Anna tersenyum senang. Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin memakan ayam kecap pedas kesukaannya. Dari dulu Anna memang penyuka makanan pedas. "Ayo bik, temanin aku makan.."


"Bibik masih kenyang non.."


"Nggak apa-apa non.., bibik malah seneng kalau non bisa makan banyak..." ujar bik Sri sambil menyunggingkan senyumnya. Melihat badan Anna yang kurusan membuat bik Sri sedih. Dari dulu nona mudanya selalu hidup senang, dan makan teratur setiap harinya.


Tak butuh waktu lama, Anna pun menghabiskan semua makanan yang ada di depannya. Mungkin karna sangat lapar atau memang karna masakan bik Sri yang begitu enak. Yang selalu berhasil membuat Anna makan banyak dari dulu.


Setelah selesai makan, Anna pun kembali ke kamarnya. Namun ketika melewati ruangan kerja Rayyan, Anna pun tergelitik untuk masuk kesana. Ruangan yang belum pernah di masukinya selama tinggal di apartemen itu. Anna perlahan membuka pintunya yang kebetulan tidak di kunci. Ruangannya cukup luas dan juga sangat rapi tentunya. Anna mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu, terlihat buku-buku tersusun rapi di sana dan juga dindingnya di penuhi lukisan dan kata-kata motivasi. Anna kemudian masuk dan menuju meja kerja Rayyan.

__ADS_1


Mata Anna tiba-tiba tertuju pada sebuah berkas yang ada di meja itu.


LAPORAN BULANAN RYN RESTO 1 & 2


Anna penasaran, dan mengambil berkas itu. " "Kok laporan bulan Ryn resto bisa ada di sini sih..?" gumam Anna dalam hati. Kemudian Anna teringat jika Rayyan pernah bekerja di restoran itu, mungkin Rayyan belum memberikan laporan itu kepada bosnya.


Lalu ada PROPOSAL RYN HOTEL juga di sana. "Mas Rayyan juga memegang proposal ini. Mungkin bosnya sangat mempercayakannya.." Anna sama sekali tidak curiga jika suaminya adalah pebisnis sukses yang memiliki dua restoran dan sebentar lagi juga akan memiliki hotel berbintang.


Tidak puas sampai di situ, tangan Anna perlahan menarik laci meja Rayyan. Ternyata hanya ada alat-alat kerja Rayyan yang tersusun rapi. Kemudian mata Anna tertuju pada sebuah foto yang terselip di sana. Foto masa kecil Rayyan dan mamanya, foto itu juga terpajang di ruang tamu. Namun sepertinya mereka tidak hanya berdua di foto itu, karna bagian yang lainnya sengaja di lipat. Anna mulai penasaran, siapa sosok di balik foto yang di lipat itu. Anna yakin itu adalah papanya Rayyan. Namun ketika Anna ingin membuka lipatan foto itu, tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya.


"Anna, kamu ngapain di sini...?" tanya Rayyan dengan suara dingin.


Anna langsung terperanjat kaget dan memasukkan kembali foto itu ke dalam laci. "Mas udah pulang..?" tanya Anna sedikit gemetar.


"Ummpp.. Kamu ngapain di sini..?" Rayyan menatap Anna tajam.


"Em.., nggak ngapa-ngapain kok mas. Aku hanya penasaran aja dengan ruangan ini. Ternyata ini ruangan kerja mas.." ucap Anna sambil menyunggingkan senyumnya. Andai saja Rayyan tau jika dadanya hampir meledak sekarang karna tertangkap basah melihat barang Rayyan tanpa izin.


"Ayo keluar..."

__ADS_1


Dengan cepat Anna melangkahkan kakinya dan mengikuti Rayyan sambil mengusap dadanya.


***


__ADS_2