Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Ngidam


__ADS_3

Hari ini Rayyan benar-benar tak keluar rumah seharian. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Anna yang dari tadi selalu saja muntah-muntah. Tak ada makanan yang berhasil masuk ke perutnya karna selalu di muntahkannya. Tubuh Anna juga terlihat sangat lemas. Dari tadi dia hanya tiduran dan Rayyan pun dengan setia menemaninya.


"Mas, aku pengen bakso..." ujar Anna manja. Entah kenapa Anna tiba-tiba menginginkan bakso, padahal mencium aroma sop daging aja dia langsung mual.


"Bakso..?"


"Um.." Anna mengangguk.


"Tapi sayang, daritadi kamu belum makan nasi. Jangan bakso ya, yang lain aja..?"


Anna menggeleng "Tapi aku pengennya bakso..." rengek Anna.


Rayyan pun akhirnya luluh, dia tidak tega melihat wajah istrinya memelas seperti itu. Dan yang terpenting perut Anna terisi.


"Ya udah, kamu tunggu bentar ya. Aku akan membelikan bakso untukmu..."


"Tapi aku pengen ikut. Aku pengen makannya di sana. Nggak enak kalau di bungkus..." rengek Anna lagi.


"Tapi kamu lagi sakit sayang. Makan di rumah aja ya..." bujuk Rayyan. Di luar juga lagi turun hujan. Rayyan takut jika Anna tambah sakit.


"Nggak mau... hiks..." Anna menangis seperti anak kecil.


"Ya udah sayang, kita berangkat sekarang..." Rayyan lalu mengambil jaket untuk Anna dan memakaikannya.


Anna tampak begitu senang karna Rayyan mau menuruti permintaannya.


"Mas, aku mau bakso yang di taman melati dekat kontrakan kita dulu. Di sana baksonya enak banget, dulu aku sering di ajak makan di sana bareng bu Lastri dan bu Wati.."


"Tapi itu terlalu jauh sayang. Yang dekat-dekat sini aja ya.."


"Nggak mau, nggak enak..."


Rayyan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Anna bahkan belum mencobanya tapi sudah bilang nggak enak. "Ya udah kita ke taman melati sekarang..."

__ADS_1


"Sekalian ajak bu Lastri dan bu Wati juga ya mas..." Anna bersemangat.


"Terserah kamu aja..." Kemudian Rayyan pun menambah kecepatan mobilnya menuju kontrakan mereka yang dulu.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di warung bakso itu. Di sana terlihat begitu rame pengunjung, mungkin karna hujan banyak yang ingin makan yang hangat-hangat dan pedas.


"Kamu yakin ingin makan di sini..?" tanya Rayyan.


"Yakin dong mas.. Bentar ya, aku telpon bu Lastri dan bu Wati dulu..." Anna langsung menghubungi kedua temannya itu.


Benar saja tak lama kemudian terlihat bu Wati datang menggunakan payung. Bu Wati hanya datang sendiri karna bu Lastri sedang keluar kota ada saudaranya yang nikahan.


"Itu bu Wati udah datang.." ujar Anna senang.


Rayyan lalu mengambil payung dan membawa Anna turun dari mobil.


"Bu Wati..." panggil Anna.


"Apa kabar bu...?" tanya Anna.


"Baik An. Kalian berdua apa kabar..? makin bersinar aja..." goda bu Wati.


"Bersinar..? Emang matahari bersinar, hujan kali bu..." sahut Rayyan.


Bu Wati langsung terkekeh. "Wajahnya bersinar... Ayok ah, kita pesan baksonya. Laper ni, kebetulan belum makan tadi..." bu Wati mengusap perutnya.


"Iya bu..." jawab Anna.


Bu Wati kemudian memanggil masnya dan memesan porsi jumbo. Begitupun dengan Anna, dia tak mau kalah dari bu Wati. Apalagi dari tadi dia udah ngiler ngeliat orang yang makan di sana.


"Gimana An, udah ngisi belum..?" selidik bu Wati.


Anna tersenyum malu-malu. "Udah bu..."

__ADS_1


"Wah tokcer kamu Ray.. Langsung hamil si Anna..."


"Pastinya dong bu..." Rayyan sombong.


"Ngidamnya yang aneh-aneh nggak An..?" tanya bu Wati lagi.


"Nggak sih bu.. Hanya mual dan pusing.." jawab Anna.


"Kamu harus siaga Ray, apapun yang diminta Anna sebisa mungkin harus di dapatin. Selagi yang masuk akal sih..." nasehat bu Wati.


"Iya bu.." jawab Rayyan.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Anna langsung menyantapnya sambil terus mengobrol dengan bu Wati. Begitu banyak yang mereka ceritakan, tentang kehamilan dan tentang yang lainnya. Tak ketinggalan juga cerita tentang bu Lastri. Senyum dan tawa seketika menghiasi wajah cantik Anna, dirinya terlihat langsung sehat dan tidak lemas seperti tadi.


Ting...


Notifikasi pesan masuk ke ponsel Rayyan. Dan Rayyan pun langsung membukanya, yang ternyata pesan dari Alfahri.


Ray, kamu nggak lupa kan tentang acara malam nanti? jangan sampai nggak datang


Ting..


Satu pesan lagi. Kali ini foto seorang wanita yang tidak menampakkan wajahnya. Wanita itu sepertinya sedang berada di hotel.


'Mama..' batin Rayyan terkejut. 'Jadi mama beneran datang?'


Rayyan kemudian langsung menuju keluar untuk menghubungi papanya. Dia ingin bicara dengan mamanya karna sampai saat ini nomor mamanya nggak bisa di hubungi.


Berkali-kali Rayyan menghubungi papanya namun tak ada jawaban dari laki-laki itu. Bahkan Alfahri langsung menonaktifkan ponselnya dan itu membuat Rayyan meradang.


"Shiitt... Apa yang kau rencanakan Alfahri..?" pekik Rayyan dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2