Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Aku bukan istrimu lagi


__ADS_3

Setelah mengobati luka Anna, Rayyan pun langsung mengantarkan Anna pulang. Sebenarnya Anna tak ingin di antar olehnya dan ingin pulang sendiri dengan taksi, namun Rayyan tak membiarkannya. Dia kemudian memaksa Anna untuk naik ke mobilnya.


Di sepanjang perjalanan Anna hanya diam, dan memilih melihat keluar jendela. Sesekali dia menguap karna merasa sangat ngantuk, hingga tak lama kemudian dia pun tertidur. Sementara Rayyan sedang sibuk menerima panggilan telpon dari kliennya, mereka sedang membahas masalah proyek yang ada di Bali. Kliennya meminta Rayyan untuk segera datang ke Bali, namun Rayyan menyatakan belum ada waktu. Banyak hal yang harus di selesaikannya sekarang, terutama masalah perceraiannya dengan Hazel.


Setelah selesai menelpon, Rayyan lalu melirik Anna yang ada di sampingnya. Ternyata Anna sudah tertidur pulas dengan menyandarkan kepalanya di jok. Seketika Rayyan menyunggingkan senyumnya.


'Kamu masih sama seperti dulu An, cantik dan menggemaskan'


Rayyan kemudian menepikan mobilnya dan membuka jasnya. Lalu menyelimuti Anna dengan jasnya itu.


Tak lama kemudian mobil yang di kemudikan Rayyan pun sampai di depan rumah Anna, tampak seseorang membukakan pintu gerbang untuknya, dia adalah mang Asep. Seketika Rayyan langsung teringat saat-saat dulu, waktu masih bekerja dengan pak Rama dia sangat sering datang kerumah itu dan Rayyan tidak menyangka jika mang Asep masih tetap bekerja di sana sampai sekarang.


"Makasih mang..." ucap Rayyan setelah menurunkan kaca mobilnya.


"Iya mas..." ujar mang Asep. Kemudian dia tampak mengingat-ngingat, karna wajah Rayyan tidak terlalu jelas olehnya.


Melihat Anna yang tertidur pulas, Rayyan jadi tidak tega untuk membangunkannya. Rayyan terus menatap wajah Anna, kemudian tangannya terangkat untuk menyisipkan anak rambut Anna yang menutupi wajahnya. Seketika Anna pun langsung terbangun. Menyadari dia sudah sampai di rumahnya, Anna pun segera turun tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada laki-laki di sampingnya.


"Aaww..." Anna meringis karna kakinya terasa sakit. Dia lupa jika kakinya terluka.


Seketika Rayyan langsung turun, dan mengangkat tubuh Anna ala bridal style.


"Kamu apaan sih, lepasin aku.." Anna memukul bahu Rayyan.


Namun Rayyan sama sekali tak mempedulikannya, dia langsung membawa Anna masuk ke dalam rumah. Dengan terpaksa Anna mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki itu karna takut terjatuh. Seketika dia langsung melihat laki-laki itu tersenyum.


Dug...dug..


Seketika jantung Anna berdetak lebih kencang dari bisanya, mungkin Rayyan pun bisa mendengarnya. Anna memejamkan matanya berharap situasi seperti ini segera berakhir.


Rayyan sepertinya tahu kamar Anna, dia pun langsung masuk ke kamar itu tanpa bertanya. Di sana terlihat Rayna sedang tidur pulas. Rayyan pun langsung membaringkan tubuh Anna di samping gadis kecil itu. Dan lagi-lagi detak jantung Anna berpacu dengan cepat ketika wajah Rayyan hanya berjarak beberapa senti darinya. Bahkan dia bisa merasakan nafas Rayyan yang berhembus cepat, karna kelelahan mengangkat tubuhnya.


Ketika wajah Rayyan semakin mendekat, Anna pun langsung mengalihkan pandangannya ke samping. Anna takut jika putrinya terbangun dan menyaksikan apa yang seharusnya tidak dia lihat.


"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang. Kasian istrimu menunggu di rumah..." ucap Anna.


"Aku sudah bersama istriku sekarang..." jawab Rayyan.


"Tolong jangan seperti ini, aku nggak mau anakku tau tentang kita..." wajah Anna terlihat memohon.

__ADS_1


Entah kenapa Rayyan merasa sedih, jauh di dalam lubuk hatinya dia yakin jika Rayna itu adalah anaknya. Dan Rayna berhak tau siapa ayahnya yang sebenarnya. Rayyan kemudian beranjak menghampiri Rayna. Lama dia menatap gadis kecil itu.


'Aku yakin kamu adalah anakku. Sabar ya sayang, sampai papa mendapatkan semua bukti-buktinya' Rayyan mengusap rambut Rayna lembut. Setelah itu Rayyan pun langsung meninggalkan kamar itu.


Saat ini Rayyan sedang meminta orang suruhannya untuk mencari tahu semua tentang Anna di Jerman. Dia yakin kali ini tak kan gagal lagi karna melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya. Dulu Rayyan hanya bergerak sendiri mengikuti kata hatinya, sehingga dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan istrinya itu.


**


Pagi menjelang begitu cepat. Anna dan Rayna kini sudah bersiap-siap untuk sarapan. Hari ini Anna akan memasukkan Rayna ke sekolah. Namun sepertinya Rayna sama sekali tidak bersemangat, dari tadi dia terus cemberut dan tak mau makan.


"Sayang, makan dong. Kan kamu mau sekolah.." ujar Anna.


"No..! aku nggak mau cekolah mom tanpa daddy.."


"Daddynya nggak bisa nganterin sayang, tapi pulangnya daddy yang jemput, oke..." bujuk Anna.


"Daddy udah nggak sayang aku lagi ya mom..?" tanya Rayna dengan wajah sedih.


Anna kemudian langsung berjongkok di depan putrinya itu. "Daddy sayang kok sama Rayna, tapi sekarang daddy lagi sibuk banyak kerjaan.."


"Hai Rayna...." sapa Rayyan yang tiba-tiba datang.


Dan Rayyan pun langsung menggendongnya.


"Uncle kemana aja, kok nggak jadi bawa aku beli es clim.." Rayna sepertinya masih mengingat janji mereka.


"Hmmm.. uncle sibuk sayang. Gimana kalau hari ini, sekalian kita jalan-jalan ke mall. Tapi nanti setelah Rayna pulang sekolah..." sepertinya Rayyan mendengarkan ucapan mereka tadi.


"Really...?"


"Yeah... Tapi Rayna sarapan dulu ya.."


"Oke uncle.." Rayna bersemangat.


Anna tak bisa berkata apa-apa lagi, di satu sisi dia senang melihat Rayna bahagia bersama papanya, dan di satu sisi lagi Anna tak ingin mereka terlalu dekat, karna Anna tak ingin Rayna tau jika Rayyan itu adalah papanya begitupun sebaliknya.


Dret.. dret... ponsel Anna tiba-tiba berdering. Di layar ponsel itu terlihat Jerry memanggil. Anna langsung panik, dia takut Jerry akan datang kesana karna udah janji mau nganterin Rayna ke sekolah.


"Hallo Jer..." ucap Anna pelan.

__ADS_1


Seketika terlihat Rayyan menatapnya tajam.


"Rayna udah siap belum...?"


"Udah, ni lagi sarapan..."


"Aduuhh..., gimana ya An, kemaren aku lupa beliin boneka Barbie buat Rayna. Sekarang tokonya malah belum buka. Takutnya Rayna bakalan sedih nanti..." ujar Jerry di ujung sana.


Anna pun segera meninggalkan ruangan itu dan menuju ke luar, takutnya Rayna akan mendengarkan ucapan mereka. "Ya udah nanti aja kamu jemput dia sekalian bawa bonekanya. Sekarang biar aku aja yang nganterin dia..."


"Emang nggak apa-apa..? kan aku dah janji mau nganterin dia sekolah..."


"Nggak apa-apa sih, asal nanti kamu beneran datang jemput dia..."


"Oke An..., makasih ya pengertiannya. Aku kangen banget ma kamu, rasanya udah nggak sabar lagi pengen ketemu..."


"Aku juga kangen kamu..." ujar Anna.


Ehem.... Rayyan tiba-tiba berdiri di belakang Anna dengan wajah dinginnya.


"Ya udah kalau gitu sampai ketemu nanti ya, aku berangkat dulu..." Anna menutup sambungan telponnya.


"Siapa laki-laki itu...?" tanya Rayyan.


"Bukan urusanmu...!" jawab Anna sambil berjalan ingin masuk. Namun dengan cepat Rayyan menarik tangannya dan langsung membekap mulut Anna dengan cium*annya.


mm...m... Anna mrmukul-mukul dada Rayyan berharap laki-laki itu akan melepaskannya, namun usahanya sama sekali tak berhasil. Akhirnya Anna pun menggigit bibir Rayyan.


"Kamu gila ya...?" ujar Anna.


"Iya... Gimana nggak gila jika istrinya main gila sama laki-laki lain..." sinis Rayyan.


"Aku bukan istrimu lagi, dan kamu nggak berhak ikut campur urusanku..."


"Kata siapa aku nggak berhak..? kamu adalah ibu dari anakku, dan aku berhak tau siapa laki-laki yang mendekatimu. Atau aku akan membawa pergi anakku..?"


Anna terbelalak kaget "Maksudmu apa...?"


***

__ADS_1


__ADS_2