Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
96


__ADS_3

Malam yang indah kini telah berganti dengan pagi yang cerah. Anna membuka matanya perlahan dan langsung melirik sofa yang ada di kamarnya itu, karna semalam Rayyan tidur disana. Namun dia tidak melihat Rayyan disana sepertinya Rayyan sudah pergi.


Kemudian pandangan mata Anna tertuju pada meja nakas di sampingnya. Di sana telah tersedia sarapan dan juga obat untuknya. Tangan Anna terulur untuk meraih secarik kertas yang ada di sana, lalu membacanya.


"Ma'af sayang, aku tinggal bentar ya. Soalnya ada urusan penting di kantor. Obatnya jangan lupa diminum ya.." dengan emoji senyum.


Anna menyunggingkan senyumnya, perhatian Rayyan benar-benar membuat hatinya tersentuh. Apalagi Rayyan juga sudah menjaganya semalaman.


"Mommy, gimana kabarnya..? mommy udah nggak sakit lagi kan..?" tanya Rayna yang tiba-tiba datang. Wajah Rayna terlihat begitu khawatir.


"Nggak sayang.. Mommy udah sembuh kok.." Anna tersenyum.


"Aku nggak mau mommy sakit..." Rayna mencebik.


"Mommy udah nggak sakit lagi kok. Oh ya, kok Nana belum siap-siap kesekolah sih..? nanti terlambat loh..."


"Aku nggak mau sekolah mih..." Rayna menundukkan wajah sedih.

__ADS_1


"Kenapa sayang..?"


"Teman-teman di sekolah aku jahat mih. Mereka bilang aku tu nggak punya papa. Dan daddy itu bukan papa kandung aku. Apa benar mih...?" Rayna menatap Anna penuh tanya.


"Apa yang harus aku katakan pada Rayna? Rayna masih terlalu kecil untuk memahami semuanya.." batin Anna sedih.


"Mih, telpon daddy dong. Aku mau kesekolah di antar daddy..."


Deg... Anna semakin bingung. Dia sudah berjanji tidak akan menghubungi Jerry lagi. Dan lagi Jerry sekarang sedang berada di luar Negeri. Dari kemaren Jerry juga belum menghubunginya sama sekali. Mungkin Jerry tak ingin mengecewakan keluarganya.


"Mmm..., daddy kan lagi keluar Negeri sayang. Nggak bisa di telpon. Gimana kalau mommy aja yang nganter..?" bujuk Anna. Walaupun dia belum bisa jalan, dia akan berusaha menggunakan tongkat agar Rayna mau sekolah.


"Gimana kalau uncle yang antar...?" ujar Rayyan yang tiba-tiba datang, kemudian berdiri di samping Rayna. Rayyan terlihat sangat tampan dengan stelan jas hitamnya.


"Mas kenapa datang lagi...? bukannya mas ada urusan di kantor...?" tanya Anna.


"Udah selesai kok..." jawab Rayyan sambil menyunggingkan senyumnya. Rayyan sengaja membatalkan jadwal meetingnya agar bisa menjaga dan merawat Anna.

__ADS_1


"Nggak mau sama uncle..." Rayna langsung meninggalkan tempat itu.


"Rayna..." panggil Rayyan. Namun Rayna tak mempedulikannya.


"Rayna nggak mau kesekolah karna teman-temannya pada ngetawain dia nggak punya papa..." Anna membuang wajahnya keluar jendela. Membayangkan itu membuat hatinya kembali sedih.


Deg...


Rayyan terduduk di sisi ranjang. Dadanya terasa sesak bagai di hantam batu yang sangat besar. Sungguh apa yang terjadi dengan Rayna adalah karna kesalahan dan kebodohannya sendiri. Dan dia merasa tidak pantas di panggil seorang ayah.


"Ma'afkan aku.." Rayyan tertunduk sambil memegang kepalanya. Tak terasa air matanya menetes di sudut pipinya. Sungguh tak terbayangkan bagaimana Rayna bisa menghadapinya. Rayyan paham betul apa yang dirasakan putrinya itu, karna dulu dia juga merasakannya. Di ejek oleh teman-teman seusianya karna tidak memiliki seorang ayah. Tapi kini putrinya harus mengalami nasib yang sama dengannya.


"Kamu dan Rayna pantas membenciku. Aku sama sekali tidak berguna.."


"Mas..." Anna merasa sangat bersalah.


"Aku harus gimana An, agar aku bisa menebus semua kesalahanku..? aku terlalu banyak dosa kepada kalian.." Rayyan terisak.

__ADS_1


Anna kemudian langsung memeluk Rayyan, menenangkan laki-laki yang sangat di cintainya itu.


__ADS_2