Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Ujian di hari pertama kerja


__ADS_3

Rayyan kini sudah berada di perusahaan Star Light. Kehadirannya sukses membuat semua mata tertuju padanya. Terutama karyawan wanita, mereka terlihat berbisik-bisik memuji ketampanannya. Namun tak ada seorangpun yang tau jika dirinya adalah anak dari pemilik perusahaan tersebut. Rayyan sepertinya tak mempedulikan itu, dia langsung menuju ruangan pak Fahri di lantai paling atas gedung itu. Kali ini Rayyan tidak langsung masuk seperti biasanya, tapi di antar oleh sekretaris papanya.


"Pak Rayyan sudah datang pak..." ucap sekretaris itu. Sepertinya dia sudah di beritahu sebelumnya oleh pak Fahri.


"Oke.., suruh dia masuk..."


Setelah memanggil Rayyan untuk masuk, sekretaris itupun meninggalkan ruangan itu.


"Selamat datang di Star Light Ray..." ucap pak Fahri senang.


Rayyan hanya tersenyum tipis. Sungguh jika bukan karna Anna dia juga tidak sudi bekerja dengan papanya itu.


"Kamu tau, papa baru saja menelpon mama kamu. Dia sangat senang ketika papa bilang kamu akan bekerja dengan papa. Sekarang kamu tinggal bilang, jabatan apa yang kamu inginkan. Papa akan memberikan jabatan apapun untukmu.."


"Aku tidak menginginkan jabatan apapun. Menjadi staf sepertinya cukup.."


"Staf..?" Fahri mengerutkan keningnya. "Kamu itu putra dari pemilik perusahaan ini, mana mungkin papa akan menempatkan kamu di posisi staf..."


"Aku karyawan baru di sini, nggak mungkin langsung mendapat jabatan tinggi..."


"Why not..?" Fahri mengedikkan bahunya. "Ini perusahaan papa, dan papa yang berkuasa. Bahkan papa bisa menjadikan kamu CEO sekaligus untuk menggantikan posisi papa..."


Rayyan tersenyum sinis. Baginya perusahaan Star Light bukanlah milik papanya sepenuhnya, melainkan milik keluarga istrinya. Papanya hanya melanjutkan. Mana mungkin papanya bisa berkuasa sepenuhnya dan menjadikan dia sebagai Ceo, ada Elsa yang lebih berhak dengan perusahaan itu.


"Aku tidak pernah berfikir untuk menggantikan posisi papa. Aku tidak berhak untuk itu..."


"Oke... Sekarang papa serahkan pilihan kepadamu. Terserah kamu mau di tempatkan dimana. Yang penting kamu mau membantu papa untuk memajukan perusahaan ini..."


"Tempatkan aku di kantor RH group. Maksud saya kantor cabang Star Light..."


Fahri menjadikan gedung perusahaan RH group sebagai kantor cabang perusahaannya. Bahkan banyak karyawan RH group yang masih tetap bekerja di sana demi menyambung hidup mereka.


"Kantor cabang...?" Fahri tampak berfikir sejenak. Mungkin Rayyan malas berada satu kantor dengannya, begitu pikirnya. Namun tak masalah Fahri percaya pada putranya itu.


"Oke..., papa setuju..."


'Akhirnya..' Rayyan lega.


"Makasih pa..."


"Kapan kamu akan mulai bekerja..?"


"Hari ini..."

__ADS_1


Fahri tersenyum lega. "Papa suka semangatmu. Selamat bekerja Ray, papa percayakan kantor cabang Star Light di tanganmu..."


Rayyan mengangguk. Kemudian Rayyan pun meninggalkan ruangan itu.


_ _ _


Di butik Anna Anna tampak melamun, dia masih kepikiran tentang Rayyan. Anna tak habis pikir kenapa Rayyan tega membohonginya selama ini.


"An..." panggil Intan. Namun Anna sepertinya tidak mendengar.


"Anna..." panggil Intan lagi.


"Eh kak Intan. Kenapa kak...?" tanya Anna terkejut.


"Kamu kenapa sih, daritadi kakak liat ngelamun aja. Ada masalah apa sih..?" tanya Intan dengan senyum menggoda.


Anna cengengesan "Nggak ada masalah apa-apa kok kak. Anna baik-baik aja..."


"Syukurlah.." mata Intan kemudian tertuju pada buku yang ada di tangan Anna. "Itu kamu yang desain ya..?" tanya Intan.


"Iya kak..." ucap Anna dengan senyum malu-malu. Sesungguhnya Anna belum merasa percaya diri.


"Wahh bagus banget An desain kebayanya.."


"beneran.. Boleh nggak kakak buatkan kebayanya..? pasti banyak yang suka..."


"Boleh kok kak..." ucap Anna senang.


"Kamu tenang aja, nanti hasil penjualannya kita bagi rata.." ucap Intan dengan senyum manisnya.


"Iihh kakak, belum tentu juga ada peminatnya udah langsung bikin kesepakatan bagi hasil..." Anna terkekeh.


"Percaya deh An, pasti banyak peminatnya..! Secara kebayanya bagus gitu.." Intan meyakinkan. "Oh ya bentar lagi kita kedatangan pelanggan yang mau fitting baju. Kamu bantu Dewi ya, buat ngelayanin mereka soalnya kakak sibuk..."


"Oke kak..." ucap Anna semangat.


"Ya udah kalau gitu kakak keruangan dulu ya..." Intan kemudian meninggalkan Anna dan menuju ruangannya.


Anna kembali bersemangat. Dia akan kembali mendesain model gaun pengantin lainnya. Karna butik Intan memang lebih mengutamakan pakaian pengantin dan sangat terkenal di luar sana.


Di saat Anna sedang sibuk mendesain tiba-tiba ada yang datang. Mungkin pelanggan yang tadi di katakan kak Intan. Anna mengangkat kepalanya, dan ternyata Jerry lah yang datang bersama calon tunangannya.


'Astaga, itu kan si Jerry. Aduuhh kenapa harus dia sih'

__ADS_1


Anna rasanya ingin bersembunyi, namun dia ingat pesan Intan tadi yang memintanya untuk melayani pelanggan yang datang bersama Dewi.


Jerry langsung tersenyum ketika melihat Anna. Padahal tadi wajahnya terlihat gusar dan tak ada senyum kebahagiaan yang menghiasi wajahnya.


"Selamat datang mbak, mas.. Mari silahkan pilih gaun yang kalian suka..." ucap Dewi.


Tania begitu bersemangat memilih gaun yang di sukainya. Sementara Jerry tak berkedip menatap Anna seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikannya.


"Jerry, sini deh ini cantikkan...?" tanya Tania.


"Semua yang ada di sini cantik..." ucap Jerry cuek.


"Ya udah kalau gitu aku ingin mencoba yang ini..." Tania kemudian masuk keruangan ganti di bantu oleh Dewi.


Sedangkan Jerry langsung menghampiri Anna. "Kamu ngapain di sini..? nungguin aku ya..?" tanya Jerry dengan senyum jahilnya.


"Kepedean banget sih..." Anna mendengus kesal. "Tuh calon istrinya dah siap tu, coba liat sana.."


"Males ah.. Biarin aja..."


"Lo apaan sih nggak ngehargai cewek banget..." Anna kemudian langsung menyusul Tania.


Jerry pun terpaksa duduk di sofa yang tersedia di sana.


Tak lama kemudian terlihat Tania keluar dengan memakai gaun yang begitu indah di tubuhnya, namun Jerry sama sekali tidak menyukainya. Kemudian Tania mencoba gaun lainnya, dan Jerry masih tetap sama. Hingga akhirnya Tania merasa lelah karna Jerry selalu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa nggak ada yang kamu suka sih Jer..?" tanya Tania mulai kesal.


"Aku suka desain kebaya yang ada di buku tadi, sebaiknya kita pesan yang itu aja..." Ternyata tadi Jerry juga melihat desain gaun yang ada di buku Anna.


"Hah...?" Anna membulatkan matanya. "Itu baru rencana mas, belum tentu di buat..." Sungguh Anna begitu kesal pada Jerry, hari pertamanya bekerja langsung mendapat ujian yang berat. Ingin Anna mengatainya namun Anna juga takut butik Intan akan mendapat citra buruk.


"Itu kan baru desain Jer, belum tentu bakal di buatkan juga. Kita udah nggak punya banyak waktu lagi..." ucap Tania menghiba.


"Ya udah kita undurin aja waktunya hingga kebaya itu jadi..."


"Nggak bisa gitu dong Jer..." Tania hampir menangis.


Anna kemudian dapat ide. Dia akan menyelesaikan kemeja itu secepatnya.


"Oke, kalau gitu dua hari lagi kalian bisa ambil kebaya itu di sini..." ucap Anna.


"Hah...?" Jerry terbelalak. Anna benar-benar tidak bisa di ajak kerja sama. Padahal niatnya agar pertunangannya di batalkan dan dia akan kembali ke Jerman sesuai waktu yang sudah di tetapkan...

__ADS_1


__ADS_2