
Selepas kepulangan Fahri dan Elsa, Anna pun meminta Fitri untuk segera membawa Rayna pulang. Suasana hatinya sedang tidak baik sekarang, dan kepalanya juga terasa sangat sakit. Anna tak tau harus berbuat apa sekarang. Haruskah dia mema'afkan laki-laki yang sudah menjadi mertuanya itu dan menerima keluarga itu dalam hidupnya. Jujur saat ini Anna merasa belum siap, begitu sulit baginya melupakan semua penderitaan yang telah di sebabkan laki-laki itu. Walaupun laki-laki itu sudah meminta ma'af secara tulus.
Anna tak bisa terus berdiam diri diruangannya. Dia harus mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya. Anna meraih kunci mobilnya, dan langsung menuju taman melati yang ada di kontrakannya dulu. Lagian taman itu juga tidak terlalu jauh dari butiknya.
Anna turun dari mobilnya, dan menuju kursi panjang yang ada di taman itu. Tak banyak yang berubah dari taman itu, masih terlihat sama seperti dulu, hanya saja pohon yang dulunya kecil kini tumbuh besar seiring berjalannya waktu.
Anna memejamkan matanya sambil menghirup nafas dalam. Kemudian melepasnya secara perlahan. Anna melakukannya berulang kali. Dan itu terasa melegakan.
"Ternyata taman ini nggak berubah ya, masih sama seperti empat tahun lalu..." ujar seseorang yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Anna.
Seketika Anna langsung mengenali orang itu, dari suaranya dan juga parfum yang di pakainya. Dia adalah Jerry.
"Taman ini memang tidak banyak berubah. Dia masih menjadi tempat ternyaman bagi para pengunjungnya. Tidak sama dengan manusia yang hatinya bisa berubah-ubah, dan tak pernah bisa di tebak..." ujar Anna tanpa membuka matanya.
"Semua manusia pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupnya. Walau terkadang harus mengorbankan perasaan orang lain.."
Anna membuka matanya perlahan, dan menatap Jerry yang ada di sampingnya. Laki-laki terlihat sedikit kurus dari biasanya.
__ADS_1
"Kamu apa kabar...?" tanya Anna.
"Aku baik. Kamu sendiri..?"
"Seperti yang kamu lihat..."
"Ma'afin aku ya An yang udah ngecewain kamu dan Rayna. Kamu boleh membenciku, dan aku pantas menerimanya..." Jerry terdengar sedih.
Anna lalu meraih tangan Jerry dan menggenggamnya erat. "Kamu sama sekali nggak salah Jer. Justru aku bangga padamu. Karna kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Aku sangat mengerti posisimu, dan akupun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu.."
"Aku hanya sedikit kecewa, karna kamu tidak berkata jujur padaku.. Tapi itu sudah berlalu, aku sudah mema'afkan kamu..." Anna tersenyum.
Tatapan mata Jerry kemudian tertuju pada cincin yang melingkar di jari Anna. Dan dia yakin jika Anna sekarang sudah kembali lagi pada Rayyan.
"Apa kamu sudah kembali lagi pada Rayyan...?" tanya Jerry.
Entah kenapa hati Jerry terasa sakit. Sejujurnya sampai saat ini dia masih belum bisa melupakan Anna sepenuhnya.
__ADS_1
Anna kemudian menarik tangannya.
"Hum..." mengangguk perlahan.
"Oooh... Selamat ya, akhirnya keluarga kalian bersatu lagi..." Jerry berkata lirih.
Dari awal Jerry sadar, dia takkan mungkin bisa memiliki Anna. Karna dia bisa melihat jika Anna tak pernah bisa melupakan Rayyan. Sebenarnya Itu juga yang membuat Jerry mundur dan belajar menerima Tania dalam hidupnya. Dia tak ingin bersikap egois yang akhirnya hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
"Jer, mari kita belajar ikhlas menerima takdir kita masing-masing. Semoga kamu bahagia bersama Tania, begitupun dengan aku. Aku ingin hubungan kita selalu terjalin baik, dan menjadi sahabat selamanya..."
"Oke An..., kita akan menjadi sahabat selamanya..." Jerry mengembangkan senyum manisnya.
Seketika Anna menitikkan airmatanya. Lebih tepatnya air mata bahagia. Dia sangat terharu karna akhirnya hubungannya dengan Jerry berakhir baik. Mereka akan menjadi sahabat yang saling melengkapi.
"Boleh aku peluk kamu..?" tanya Anna.
Tanpa menjawab, Jerry langsung memeluk Anna erat.
__ADS_1
"Makasih Jerry..."
****