
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit Dio dan Anna pun sampai di rumah sakit. Anna kemudian mengikuti Dio menuju ruangan tempat Rayyan di rawat. Tak lama kemudian Dio menghentikan langkahnya di depan ruangan VIP yang ada di sana. Dan ketika Dio membuka pintu ruangan itu, Anna langsung melihat Rayyan sedang duduk di ranjang sambil sibuk dengan ponselnya. Sangat jauh dari apa yang Anna pikirkan tadi. Menyadari ada yang membuka pintunya, Rayyan pun menoleh.
"Anna..?" Rayyan terkejut. Rayyan tidak menyangka Anna bakalan datang karna tadi dia hanya meminta Dio untuk memberitahunya saja.
'Apaan sih, katanya lagi sakit kok malah sibuk maen Hp' Anna cemberut.
"Ma'af pak, eh mas tadi aku sudah melarang mbak Anna agar tidak ikut tapi mbak Annanya tetap maksa..." lagi-lagi Dio salah ucap. Entah sampai kapan sandiwara ini akan berakhir. Rasanya dia ingin berteriak jika Rayyan itu adalah bosnya, bukan rekan kerjanya.
"Iya nggak apa-apa.."
Rayyan menatap Anna yang berdiri jauh darinya, dan dia melihat mata istrinya sembab seperti habis menangis.
"Ya udah kalau gitu aku permisi dulu ya mas, udah malam soalnya..." Dio cengengesan.
"Makasih banyak Yo..." ucap Rayyan.
"Siap mas..." ucap Dio sambil meninggalkan ruangan itu.
Setelah kepergian Dio, Anna pun menghampiri suaminya itu.
__ADS_1
"Katanya lagi sakit tapi malah sibuk main hp. Lagi ngabarin siapa..?" Rasanya begitu kesal ketika melihat suaminya sibuk dengan hp, padahal lagi sakit.
Tanpa menjawab, Rayyan langsung menarik tangan Anna hingga membuat Anna terjatuh di pangkuannya. Seketika Rayyan pun memeluk Anna erat tanpa mempedulikan sakit di tangannya yang di infus.
"Kangen..." ucap Rayyan di telinga Anna.
Anna tak bisa berkata apa-apa lagi, dia pun membalas pelukan Rayyan. Sesungguhnya Anna pun merasakan hal yang sama dengan suaminya itu. Rindu yang teramat dalam seolah mereka sudah berpisah selama bertahun-tahun.
"Aku juga kangen mas..." seketika air mata Anna menetes. Ada rasa penyesalan karna sudah mengabaikan suaminya itu, apalagi melihat keadaannya sekarang. Wajah suaminya terlihat pucat dan juga lemes. "Mas kenapa jadi begini..?" Anna terisak.
"Aku nggak apa-apa sayang..."
"Nggak apa-apa gimana..? lihatlah keadaan mas sekarang. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama mas..." Anna makin terisak.
Seandainya saja Anna tau jika dirinya terkena malaria. Dan itu semua juga salahnya sendiri yang mau tinggal di kontrakan kecil. Sebenarnya kontrakan mereka tidak terlalu kumuh, hanya saja memang terlalu banyak nyamuk di sana. Dan Rayyan sekarang sangat mengkhawatirkan Anna, takut jika Anna akan mengalami hal yang sama dengannya.
"Makanya mas nggak usah kerja di restoran lagi. Kerja di restoran itu berat mas, apalagi restoran mewah kayak gitu..."
"Iya sayang.., aku akan berhenti kerja di restoran. Dan aku akan mencari pekerjaan lainnya..."
__ADS_1
"Nah gitu dong..." Anna semangat. "Mas nggak usah kerja yang berat-berat..."
"Kalau jadi CEO gimana...?" goda Rayyan
Anna mengangkat kedua bahunya "Sepertinya nggak mungkin.."
"Anna seandainya kamu tau siapa suamimu ini sebenarnya.." ucap Rayyan dalam hati.
"Ya udah sekarang mas istirahat ya.." Anna membantu Rayyan berbaring di ranjang.
"Kamu juga dong..." ucap Rayyan.
"Iya, aku akan tidur di sofa..." Anna menunjuk sofa yang ada di ruangan itu.
"Nggak usah, kamu di sini aja, di samping aku.." Rayyan menepuk-nepuk tempat tidur di sebelahnya.
"Nggak usah mas, mas kan lagi sakit. Takutnya nanti mas nggak bisa beristirahat gara-gara aku..."
"Ya udah kalau gitu.." Rayyan akhirnya setuju.
__ADS_1
Anna kemudian berbaring di sofa, dan dia pun langsung tertidur. Sementara Rayyan belum bisa memejamkan matanya, daritadi matanya terus terpaku menatap Anna.
'Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan membawamu pindah kembali ke apartement. Aku nggak mau kamu sakit sepertikuR'