Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Aku ingin kita segera memiliki anak


__ADS_3

Rayyan melepaskan dasinya kemudian duduk di sisi ranjangnya.


"Apa kamu masih sakit..?" tanya Rayyan sambil menarik tangan Anna dan membawanya ke dalam pelukannya. Rayyan ingat jika tadi Jerry bilang istrinya itu sedang sakit dan itu juga yang membuat dirinya cepat pulang karna terus kepikiran istrinya itu.


Anna menggeleng pelan.


'Iya sakit, bahkan semuanya terasa sakit sekarang. Itu semua karna kamu!'


Mata Rayyan kemudian tertuju pada leher Anna yang di penuhi banyak tanda merah karna ulahnya. Rayyan ingin memeriksanya lebih dalam, tangannya perlahan melepaskan kancing baju istrinya itu. Namun dengan cepat Anna mencegahnya dan menggelengkan kepalanya seakan memberitahu jika dirinya tidak sanggup lagi untuk mengulangi yang tadi.


Rayyan tersenyum. "Aku hanya ingin memeriksanya sayang.." Rayyan merasa bersalah karna tadi dia memperlakukan Anna dengan sangat kasar dan penuh amarah.


"Janji ya.." Anna mencebikkan bibirnya.


"Hem..." Rayyan tersenyum.


Anna pun akhirnya membiarkan Rayyan membuka kancing bajunya satu persatu. Benar saja begitu banyak tanda merah dan juga ada sedikit luka bekas gigitannya.


"Sakit ya..?" tanya Rayyan sambil mengusap bekas gigitannya itu.


"Um.." Anna mengangguk.

__ADS_1


"Aku minta ma'af ya.." wajah Rayyan tampak bersalah.


"Iya mas, nggak apa-apa kok..." Marah dan kesal yang Anna rasakan tadi seketika hilang begitu saja. Yang ada hanya rasa cinta yang kian bertambah pada suaminya itu.


Rayyan kemudian meniup luka itu lembut, dan


Cup.. Rayyan mengecup luka itu satu persatu.


"Udah nggak sakit lagi kan...?" tanya Rayyan sambil mengangkat kepalanya.


Anna menggelengkan kepalanya sambil senyum malu-malu. Jantungnya seakan melompat dari tempatnya sekarang. Perlakuan Rayyan benar-benar membuat Anna tersipu malu.


"Lain kali jangan bikin aku marah lagi ya. Ini (jari Rayyan menyentuh bibir Anna) ini, (kemudian menyentuh dada Anna) dan seluruh tubuhmu ini adalah milikku. Tak kan kubiarkan satu orangpun menyentuhnya.." tegas Rayyan.


"Aku juga sayang kamu An..." Rayyan mengecup pucuk kepala Anna dengan lembut.


Berada di pelukan Rayyan membuat Anna begitu nyaman, Anna juga sangat menyukai wangi tubuh suaminya itu, rasanya dia tak ingin melepaskan pelukannya.


"Sayang, aku ingin kita segera memiliki anak...." ujar Rayyan sambil mengelus rambut Anna. Keinginan itu sudah lama di pendamnya.


Anna terkejut, seketika dia langsung melepaskan pelukannya. "Punya anak...?" Anna menatap Rayyan lekat. Selama ini dia belum berpikiran sejauh itu.

__ADS_1


"Em.." Rayyan menganggukkan kepalanya. Dengan punya anak mungkin Anna takkan pernah meninggalkannya. Rayyan begitu takut jika suatu hari nanti Anna akan pergi meninggalkannya apalagi setelah tau siapa dia sebenarnya.


"Tapi mas.., aku belum siap punya anak..."


"Kenapa sayang..? kamu nggak mau ya punya anak dariku..?" suara Rayyan terdengar kecewa.


"Bukan begitu mas. Aku juga mau kita punya anak, tapi nanti. Setelah aku benar-benar siap.." Sejujurnya sampai saat ini Anna masih belum yakin terhadap Rayyan. Anna merasa ada sesuatu yang Rayyan sembunyikan darinya. Lagian Anna masih berkeinginan kuat untuk melanjutkan kuliahnya.


"Oke, aku mengerti.. Dan aku akan selalu menantinya sayang.."


"Makasih ya mas..."


Rayyan kemudian meraih jemari Anna. "Tapi kamu janji ya nggak akan ninggalin aku.."


Anna tersenyum "Nggak ada alasan buat aku ninggalin kamu mas. Karna kamu adalah laki-laki terbaik yang udah di pilihkan papa untukku.." Anna mencubit pipi Rayyan gemas.


Rayyan hanya tersenyum, walau sebenarnya hatinya terasa sakit karna sudah membohongi orang-orang yang sudah sangat tulus kepadanya.


"Ya udah, sekarang kamu mandi ya. Biar aku siapin makan malam..." Anna segera beranjak. Namun Rayyan tiba-tiba menariknya kembali.


"Tapi aku sangat lelah. Temenin aku tidur bentar ya.." Rayyan kembali memeluk Anna erat.

__ADS_1


Anna lalu mengelus-ngelus pipi Rayyan, hingga tak lama kemudian Rayyan pun langsung tertidur.


__ADS_2