
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Anna sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Dari tadi dia terlihat gelisah, miring kiri dan miring ke kanan. Yang ada dalam pikirannya hanya Rayyan. Setelah pertemuannya dengan Rayyan tadi, sedikitpun dia tak bisa menghilangkan wajah Rayyan dari ingatannya. Apalagi setelah dia tau yang sebenarnya.
"Arrrgghhh... Ngapain sih ingat dia terus. Ingat Anna, dia itu hanya masalalu. Walaupun waktu itu dia berjuang untuk keluargamu, tapi tetap saja dia yang sudah menyebabkan papamu meninggal. Jangan mudah percaya begitu aja.." Anna menasehati dirinya sendiri.
Karna suasana terasa panas, Anna akhirnya keluar kamar untuk mencari udara segar. Dia kemudian duduk di kursi santai yang ada di tepi kolam sambil menatap indahnya langit malam yang di penuhi cahaya bintang. Anna lalu memotret pemandangan itu dan mengunggahnya di media sosialnya tanpa memberi caption. Baru beberapa detik tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Jerry yang menelponnya. Dan Anna pun langsung menjawabnya.
"Hallo Jer..."
"Kok belum tidur sih? buruan masuk kamar, angin malam itu nggak baik untuk kesehatan.." ujar Jerry di ujung sana.
"Nggak bisa tidur..."
"Kenapa.., jangan bilang karna mikirin aku..?" Jerry kepedean.
"Apaan sih kamu, kepedean banget.." ucap Anna sambil tersenyum.
"Oh ya Rayna gimana..? ma'af ya, hari ini aku sibuk banget. Sampai nggak sempat ngubungin kamu dan Rayna.." Jerry merasa bersalah.
"Nggak apa-apa kok.. Rayna sepertinya senang banget tinggal di sini. Jadi galau deh, apa sebaiknya aku sama Rayna menetap di sini aja kali ya...?"
"Apaan sih An, kok pikirannya berubah-ubah terus..? kamu kan yang minta aku untuk tinggal di Jakarta..? giliran akunya udah di sini kamunya malah pengen menetap di sana. Pokonya aku nggak setuju, TITIK..! dan lagi aku sudah menemukan toko yang cocok untuk butikmu..."
"Oh ya..? dimana..?" Anna senang.
"Nggak terlalu jauh kok dari rumahku, dan tempatnya juga sangat strategis..."
"Berarti nggak jauh dong dari kontrakanku yang dulu. Wah aku jadi nggak sabar pengen datang kesana..."
__ADS_1
"Makanya An, jangan berubah pikiran terus dong. Aku kan dah bilang kalau aku nggak bisa jauh-jauh dari Rayna..."
"Iya..., cuma becanda doang kok, nggak usah di ambil pusing. Lagian aku juga udah nggak sabar pengen balik ke Jakarta. Aku juga udah nggak sabar pengen segera launching butik ku.."
"Nah gitu dong.."
"Oh ya, kira-kira Sari gimana ya kabarnya? udah nikah apa belum ya..? terus bu Sri dan bu Wati gimana ya kabarnya sekarang..? jadi kangen..." Anna tiba-tiba teringat teman lamanya.
"Kamu tu ya An, bertahun-tahun tinggal di luar Negeri tetap aja masih ingat orang-orang itu..."
"Iya dong.. mereka itu baik banget ma aku. Mereka juga banyak memberiku pelajaran hidup..." Anna tiba-tiba melow jika mengingat kenangannya saat masih tinggal di kontrakan dulu. Di sanalah dia memulai hidup baru dengan Rayyan. Walaupun hidup mereka sangat sederhana namun mereka begitu bahagia.
"Yahh kok jadi bahas ibu-ibu komplek sih. Mendingan bahas masa depan kita. Lagian mereka itu nggak bakal kemana-mana kok. Dan masih sama seperti dulu. Kemaren aku malah ketemu Sari si rumah sakit, sepertinya dia mau melahirkan..." Walaupun cuek, sebenarnya Jerry juga sangat perhatian.
"Oh ya..?jadi Sari beneran udah nikah...? berarti dia bisa dong move on dari kamu..." Anna terkekeh.
Deg... Anna tiba-tiba terdiam. Bagaimana jika keluarga Jerry tidak menyukainya.
"Kok diem sih..? kamu nggak mau ya ketemu keluarga aku..?"
"Aku hanya takut mereka tidak bisa menerima aku dan Rayna..." Anna sedih.
"Nggak usah khawatir, keluarga aku baik kok. Ya udah kalau gitu kamu istirahat ya.., aku juga udah ngantuk.. hoooamm" Jerry menguap.
"Ya udah... selamat istirahat.." Tak lama kemudian sambungan telpon terputus.
Anna tampak termenung, rasanya dia belum siap bertemu keluarga Jerry. Bagaimana jika keluarga Jerry tidak menyukainya mengingat statusnya yang hanya seorang janda dan sudah memiliki anak.
__ADS_1
"Jadi sekarang calon suaminya orang Jakarta ya.." Rayyan tiba-tiba duduk di samping Anna. Tanpa Anna sadari, Rayyan sudah mendengar semua ucapannya tadi. Dan itu membuat hati Rayyan sangat sakit.
Dug..
Anna terkejut, dengan cepat dia menjauhkan dirinya dari Rayyan.
"Terus suami bulenya gimana..? udah nggak di pakai lagi ya..? oh iyaaa kan udah ada yang baru..." ujar Rayyan sinis.
Anna melototkan matanya. Bisa-bisanya Rayyan berpikiran buruk kepadanya, seolah-olah dirinya suka bergonta ganti pasangan. "Suka-suka aku dong, apa urusannya denganmu.." Anna tak kalah sinis.
"Yah kalau aku sih kasian aja sama Rayna. Saat tinggal di luar Negeri papanya seorang bule, terus pas balik ke Indonesia papanya ganti lagi..."
Kali ini Anna sudah tak mampu lagi menahan kesabarannya.
Plaaakk... satu tamparan mendarat di pipi kanan Rayyan.
"Kalau ngomong di jaga ya mulutnya.." ucap Anna penuh amarah, bulir bening tampak menetes di sudut matanya. Anna tak menyangka jika Rayyan tega menuduhnya seperti itu.
Seketika Rayyan langsung menarik tubuh Anna ke dalam pelukannya dan menci*um bibir Anna rakus, menjelajahi setiap rongga di mulutnya, memainkan lidahnya menyecap setiap kenikmatan yang ada di sana. Sedangkan Anna hanya bisa menitikkan airmatanya menerima setiap serangan yang di berikan Rayyan sebelum akhirnya dia mulai hanyut dan mulai mengikuti permainan Rayyan. Anna membalas cium*an Rayyan, perasaan marah dan benci seketika hilang, yang ada hanya kerinduan.
"Aku mencintaimu An, sangat mencintaimu.." bisik Rayyan ketelinga Anna.
Seketika Anna langsung terkesiap, akal sehatnya mulai kembali. Dia tidak boleh terbuai, mereka bukan siapa-siapa lagi. Dengan segera Anna melepaskan pagutan bibirnya dan menjauhkan dirinya dari Rayyan.
***
Ma'af ya readers, klw trlalu di jelaskan nanti proses review nya lama. Bisa2 gk lolos. udah prnah ngalamin soalnya. Jadi hayal sendiri aja ya😃
__ADS_1