
Pagi-pagi sekali Anna tiba-tiba terbangun dan merasakan mual yang amat hebat. Itu karna dia mencium aroma sop daging dari arah dapur. Entah kenapa sejak kemaren Anna selalu mual mencium aroma itu. Padahal sebelumnya Anna sangat menyukai sop daging.
Hoeekk... Anna menutup mulutnya. Perutnya terasa bergejolak dan ingin muntah.
Hooeekk... Anna sudah tak tahan lagi sekarang, dengan segera dia turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi.
Hooekk...hoeekk.. Anna berjongkok di closet dan memuntahkan semua isi perutnya.
Hoeekk... hoekk..
Rayyan yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun karna mendengar Anna muntah-muntah di kamar mandi. Dan Rayyan pun segera menghampiri Anna.
"Kamu kenapa sayang..?" tanyanya khawatir. Kemudian Rayyan memijit tengkuk Anna.
"Aku nggak tau mas, tiba-tiba mual dan pengen muntah..." Anna menangis. Tubuhnya benar-benar lemas sekarang dan kepalanya juga sangat pusing.
"Kita ke rumah sakit ya..." Rayyan cemas.
Kemudian dengan cepat Rayyan mengangkat tubuh Anna dan membawanya ke rumah sakit.
"Dokter, gimana keadaan istri saya dok..?" tanya Rayyan setelah dokter itu siap memeriksa keadaan istrinya. Wajah Rayyan terlihat begitu panik.
Dokter itu tersenyum. "Selamat pak, istri bapak hamil..."
"Apa dok, Istri saya hamil...?" Rayyan terkejut. Seketika raut wajahnya berubah bahagia.
'Apa..? aku hamil..?' batin Anna terkejut.
"Iya... Usia kehamilan istri bapak sekarang berusia tiga minggu. Tolong jaga pola makannya, istirahat yang cukup dan jangan sampai kelelahan. Dan yang paling utama adalah jangan sampai banyak fikiran. Karena itu akan berpengaruh pada perkembangan janinnya..."
__ADS_1
Rayyan sumringah " Baik dok, terimakasih.."
"Sama-sama pak..." setelah itu dokter pun meresepkan obat dan juga vitamin untuk Anna.
Kini mereka dalam perjalanan menuju pulang. Dari tadi Rayyan tak hentinya menunjukkan kebahagiaanya. Dia begitu senang karna impiannya untuk segera memiliki anak sudah tercapai. Lain halnya dengan Anna, daritadi dia hanya melamun dan tak banyak bicara. Pikirannya benar-benar kacau sekarang, dia belum siap untuk mempunyai anak dari Rayyan walaupun dia sangat mencintai suaminya itu.
"Sayang, kamu nggak senang ya kita punya anak...?" tanya Rayyan memecah kesunyian.
Anna menghirup nafasnya dalam. Tak ada yang bisa di lakukannya lagi sekarang. Harusnya waktu itu dia meminum obat penunda kehamilan atau apapun itu agar dia tidak hamil. Tapi kini benih itu sudah tertanam di rahimnya, siap tidak siap dia harus menerimanya. "Senang..." jawab Anna singkat.
"Makasih ya sayang.." Rayyan menggenggam jemari Anna erat.
Sesampainya di rumah Anna langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Sedangkan Rayyan langsung menuju ke dapur meminta bik Sri untuk menyiapkan makanan untuk Anna. Tadi Rayyan juga sudah meminta bik Sri untuk menyimpan sop daging itu hingga baunya tak tercium lagi oleh Anna.
Dret... dret... ponsel Anna berdering. Dengan malas Anna meraih ponselnya, ternyata Ica yang menelpon. Dan Anna pun langsung menjawab telpon sahabatnya itu.
"Iya Ca..." suara Anna lirih.
"Nggak kok, gua nggak apa-apa..."
"Kok suara lo lesu gitu. Oh ya, gua mau ke butik nih mau ambil gaun yang gua pesan kemaren. Soalnya mau gua pakai nanti malam..."
Anna ingat nanti malam adalah pesta pertunangannya Dewa dan Elsa. Dan Ica juga bakalan menghadiri pesta itu. Tentu karna Anna yang sudah mengizinkannya. Anna tak ingin karna dirinya Ica juga harus membenci Dewa dan Elsa.
"Tapi gua nggak ke butik hari ini. Gua di apartement.."
"Kenapa lo nggak ke butik..? pasti ketahuan mas Rayyan ya..? pasti udah nggak di bolehin kerja lagi ya..?" tebak Ica.
Anna memang belum menceritakannya kepada Ica. "Gua hamil Ca..."
__ADS_1
"Apa..? lo hamil..? beneran..?" suara Ica terdengar semangat.
"Ump.."
"Wahh selamat An.. Berarti sebentar lagi gua bakal jadi auntynya baby Rayna dong..."
"Baby Rayna siapa..?" Anna bingung.
"Baby Rayyan dan Anna maksudnya..." jelas Ica terkekeh.
"Ya ampun.., ada-ada aja sih..." Anna tersenyum geli.
"Wahh menang banyak berarti lo An, Dewa baru aja mau tunangan nanti malam, sedangkan lo udah mau punya anak..."
"Apaan sih lo, kok bawa-bawa Dewa sih..?"
"Ya udah kalau gitu bumil istirahat yang banyak ya.. bye bumil cantik, muuacc.." Ica menutup telponnya.
"Dasar gila..." Anna tersenyum.
"Siapa yang gila...?" tanya Rayyan yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Anna. Di tangannya ada nampan berisi makanan. " Abis telponan ama siapa...?"
"Telponan ma Ica..."
"Kamu nggak bohong kan..?"
Anna menatap Rayyan jengah, bisa-bisanya Rayyan tidak mempercayainya setelah apa yang terjadi hari ini. "Aku nggak bohong mas.. Nih... Anna menunjukkan ponselnya itu.
Rayyan lega.. "Syukurlah.. Ingat ya, mulai hari ini kamu nggak boleh lagi pergi kemana-mana tanpa aku. Apalagi kerja. Apapun yang kamu inginkan, bilang padaku..."
__ADS_1
Rayyan kemudian menyuapi Anna hingga Anna menghabiskan makanan itu.
**