Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Jerry menikah


__ADS_3

Flash Back Jerry


Jerry yang rencananya berangkat subuh ke Singapura tiba-tiba menunda keberangkatannya karna ada masalah penting yang harus segera di tanganinya di kantor. Setelah menyelesaikannya, Jerry pun bersiap-siap ke Bandara di antar oleh sopirnya. Dia tidak sendiri ada asistennya juga.


Saat dalam perjalanan Jerry tiba-tiba mendapat telpon dari papanya untuk segera pulang dan membatalkan keberangkatannya ke Singapura. Papanya beralasan jika bisnis mereka di sana sudah di tangani oleh orang kepercayaannya yang ada di sana. Jerry begitu senang karna akhirnya dia tak perlu berpisah dengan Anna. Dia lalu meminta sopirnya untuk memutar kembali mobilnya pulang rumah.


Sesampainya di rumah, Jerry langsung menuju kamar papanya. Karna ada hal penting yang akan di bicarakan papanya itu.


"Papa ingin bicara apa...?" tanya Jerry sambil berdiri di belakang kursi roda papanya.


Seketika papa langsung memutar kursi rodanya untuk menghadap ke arah putranya.


"Duduk nak..." ujarnya sambil menunjuk sofa yang ada di kamarnya itu. Seketika Jerry langsung duduk.


"Papa bangga padamu Jer. Kamu mampu menyelesaikan masalah perusahaan dengan cepat tanpa bantuan papa..." ujarnya tersenyum.


Jerry juga tersenyum. "Hanya masalah kecil pa, semua orang juga bisa mengatasinya..."


Papa menggeleng "No..no... Itu bukan masalah kecil Jer, itu menyangkut nama baik rumah sakit dan nama baik perusahaan kita. Bahkan om Bram saja sampai memujimu.." ujar papa bangga. Bram adalah nama ayahnya Tania.


Jerry tersenyum kecut, jika papa sudah menyebut nama Bram itu berarti dirinya dalam masalah besar.


"Oh ya, kemaren om Bram datang kesini jenguk papa. Katanya sekalian ingin jumpa kamu. Tapi kamunya malah di rumah sakit. Kami sempat membahas masalah pernikahan kalian.." papa tersenyum sambil mengingat kembali pertemuan mereka kemaren.


"Pa..."


Belum sempat Jerry melanjutkan kata-katanya, namun papa langsung memotong pembicaraannya.


"Acara pernikahan kalian akan di adakan secara tertutup dan hanya di hadiri keluarga dekat saja. Untuk resepsinya, kami serahkan sepenuhnya pada kalian..." ujar papa dengan mata berbinar.


"Aku memang akan menikah pa, tapi tidak dengan Tania. Kami sudah lama putus pa. Dan Tania juga tau jika aku sudah punya pacar..." jelas Jerry.


Seketika wajah papa berubah marah "Papa hanya menyetujui kamu menikah dengan Tania. Bukan dengan janda itu..." tegasnya.


"Memangnya kenapa pa..? aku tidak peduli dengan statusnya pa, yang jelas aku mencintainya.."


"Persetan dengan cinta..! asal kamu tau, nggak ada sejarahnya dalam keluarga besar kita menikahi seorang janda. Kamu ingin mencoreng muka papa..., Iya..?" suara papa mulai meninggi.

__ADS_1


"Aku nggak peduli pa. Aku tetap akan menikah dengan Anna..." Jerry kemudian berdiri dari duduknya dan meninggalkan kamar itu.


"Jerry...Jerry..." panggil papa sambil memegang dadanya. Setelah dia tak sadarkan diri.


Sedangkan Jerry langsung menuju kamarnya di lantai atas dengan perasaan marah. Seketika dia menghentikan langkahnya karna suara teriakan asisten rumah tangganya meminta tolong. Dan suara itu berasal dari kamar papanya.


Seketika Jerry langsung turun dan berlari menuju kamar papanya.


"Astaga papa..." teriaknya panik.


Jerry langsung mengangkat tubuh papanya ke ranjangnya dan memeriksa keadaanya dengan tubuh bergetar.


"Pa bangun pa..." ujar Jerry sambil memberikan pertolongannya.


Namun sama sekali tak ada hasil. Akhirnya Jerry pun membawa papanya menuju rumah sakitnya agar mendapatkan penangan serius. Karna papanya bukan hanya sekedar pingsan tapi kritis.


Sesampainya di rumah sakit papanya langsung di bawa keruangan ICU untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan Jerry hanya bisa menunggu di luar. Walaupun dirinya juga seorang dokter, namun dia menyerahkan sepenuhnya pada dokter terbaik yang ada dirumah sakitnya.


Jerry duduk di kursi tunggu sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Air mata tampak membasahi pipinya. Jerry sangat menyesal dan terpukul atas apa yang terjadi dengan papanya. Dia tidak akan mema'afkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada papanya.


Tak lama kemudian terlihat mamanya datang di dampingi asisten rumah tangganya. Mamanya tampak menangis histeris. Kemudian Jerry langsung berdiri dan menghampiri mamanya.


"Ma..." Jerry merangkul bahu mamanya yang terlihat lemas. Namun seketika tangannya di tepis kasar oleh mamanya.


"Puas sudah membuat papamu kritis..?" teriaknya penuh kebencian.


"Aku minta ma'af ma..." ujar Jerry merasa sangat bersalah. Air mata masih menggenangi pipinya.


"Mama tidak akan mema'afkan kamu jika sampai terjadi sesuatu pada papamu. Sekarang pergi dari sini..." teriaknya.


"Ma.., tenang ma..." Jerry mencoba menenangkan mamanya.


"Mama nggak kan tenang jika papamu masih berada di dalam sana. Sekarang tolong pergi dari sini, mama nggak mau melihat wajahmu..." ujarnya memohon. Jerry tak punya pilihan lain selain menghindari mamanya.


Seketika mama terduduk di lantai "Pa..., tolong jangan bikin mama cemas pa. Ma'afkan mama tadi meninggalkan papa sendiri.." ujar wanita itu terisak. Dia sangat menyesal karna telah meninggalkan suaminya sendiri. Dan itu karna dia harus bertemu dengan Anna.


'Ini semua gara-gara kamu Anna' suntuknya

__ADS_1


Hati Jerry benar-benar hancur sekarang. Dia merasa tak berguna sama sekali sebagai seorang anak. Karna selama ini dia tak pernah melakukan yang terbaik untuk keluarganya dan hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.


Saat itu juga Jerry langsung mengambil keputusan dan berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan menikah dengan Tania dan menuruti semua permintaan orangtuanya. Dia terus berdo'a agar papanya segera siuman.


Cukup lama Jerry menunggu di sana. Sedangkan mamanya sudah di bawa keruangannya untuk beristirahat. Walaupun tadi mamanya bersikeras untuk tetap menunggu di sana. Namun kondisi tubuhnya mulai melemah, Jerry tak ingin mamanya juga ikutan sakit.


Tak lama kemudian terlihat dokter keluar dari ruangan papanya. Seketika Jerry langsung menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan papa dok...? papa baik-baik aja kan dok..?" tanya Jerry dengan wajah kusutnya.


Dokter tersenyum "Ini berkat kamu Jer. Papamu berhasil melewati masa kritisnya..."


"Terima kasih dok..." ujar Jerry senang.


"Sama-sama Jer.. Kalau begitu saya permisi dulu ya"


"Baik dok..."


Jerry kemudian bergegas masuk keruangan papanya. Lagi-lagi airmatanya menetes melihat papanya yang terbaring dengan banyaknya alat bantu terpasang di tubuhnya. Seketika Jerry mendekati papanya dan memegang tangan papanya itu.


"Pa.., papa cepat sembuh ya. Jangan sakit-sakit lagi. Kan papa mau lihat aku nikah dengan Tania..." Jerry berusaha tersenyum walau hatinya sakit. "Aku minta ma'af ya pa, selama ini udah banyak ngecewain papa dan mama. Aku janji pa, tak akan ngecewain papa lagi..."


Seketika tangan papa langsung bergerak, dan perlahan membuka matanya.


"Pa..., papa udah sadar...?"


Papa mengedipkan matanya sambil tersenyum. Sepertinya dia mendengarkan apa yang di sampaikan Jerry tadi.


"Papa ingin kamu menikahi Tania besok..." ujarnya pelan. "Telpon om Bram sekarang. Papa nggak mau nunggu lagi..."


"Baik pa, aku akan menelpon om Bram sekarang..."


Sesuai dengan permintaan papanya, hari ini pernikahan Jerry dan Tania akan segera di selenggarakan di rumah sakit itu. Papa Jerry juga semakin membaik dan sudah di pindahkan keruangan khusus rumah sakitnya itu. Pernikahan mereka hanya di hadiri keluarga dekat saja. Papa Jerry tak ingin menundanya lagi, karna takut Jerry aka. berubah pikiran.


Flash Back Jerry off


**

__ADS_1


__ADS_2