Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Selamat Tinggal Rayyan


__ADS_3

"Anna lo mau kemana..?" tanya Jerry.


"Gua harus pergi Jer..." Anna mengelus bekas infus di tangannya yang terasa perih. Lalu turun dari ranjangnya.


"Tapi lo lagi sakit An.." Jerry mencoba menghalangi Anna.


"Gua nggak peduli Jer, yang gua pikirin sekarang adalah bokap gua. Bokap gua mengalami serangan jantung, dan gua harus berangkat ke Jerman sekarang juga..."


"Oke..., kalau gitu gua juga bakal pergi bareng lo..."


"Nggak usah Jer. Gua bisa sendiri..."


"An.., lo tau kan berapa lama penerbangan ke Jerman itu? Apa lo sanggup dengan kondisi lo yang kayak gini. Gua dokter An, gua akan ngedampingin lo..."


"Tapi Jer..." Anna tak ingin menambah beban masalah.


"Nggak ada tapi-tapian An. Karna gua juga mau balik kesana, jadi gua bakal berangkat bareng lo sekarang..."


"Tapi gimana dengan keluarga lo..?"


"Lo tenang aja, bokap ama nyokap gua lagi di Singapur. Mereka juga nggak bakal peduli gua mau berangkat kapan. Ya udah, kita berangkat sekarang..."


Anna lalu menoleh ke arah bik Sri, wanita itu terlihat begitu sedih dari tadi dia tak hentinya menangis.

__ADS_1


"Bik..., Anna meraih tangan bik Sri.


"Non..." bik Sri menangkup tangan Anna.


"Ma'afin aku ya bik, aku terpaksa harus ninggalin bibik. Bibik jaga diri baik-baik ya. Semoga suatu saat nanti kita masih bisa bertemu.."


Bik Sri mengangguk, hatinya terasa begitu hancur karna harus berpisah untuk yang kedua kalinya dengan Anna. Mungkin kali ini akan sulit baginya untuk bertemu Anna lagi, karna Anna akan pergi jauh dan mungkin juga akan sulit kembali lagi ke Indonesia. Apalagi dengan masalah yang di hadapinya sekarang. Bik Sri tidak menyangka jika Rayyan tega membohongi nona muda dan juga tuannya, selama ini dia pikir Rayyan itu laki-laki yang baik.


"Non juga baik-baik di sana ya, moga tuan cepat sembuh dan nggak kenapa-napa.."


Anna lalu memeluk bik Sri. Wanita itu sudah di anggapnya sebagai orangtuanya sendiri. Dan setelah itu Anna dan Jerry pun langsung menuju bandara. Dalam waktu yang singkat kehidupan Anna berubah, dia benar-benar pergi meninggalkan Rayyan. Orang yang sangat di cintainya, kini menjadi orang yang sangat di bencinya.


***


"Batalkan pemberian saham itu kepada Rayyan. Kamu tidak berhak memberikan saham perusahaan kepada siapapun tanpa seizinku..." tegas Mirna.


"Kenapa aku tidak berhak, Rayyan itu anakku.." balas Fahri.


Huuhh Mirna mendengus, "Dia anakmu, bukan anak kita. Dia tidak punya andil dalam perusahaan Start Ligh. Bahkan Elsa sendiri hanya memiliki 15% saham, separoh dari yang kamu berikan pada Rayyan..."


"Elsa itu masih kuliah ma, juga tidak akan berpengaruh. Nanti jika dia sudah memasuki dunia kerja maka papa akan memberikan seluruh saham kita kepadanya. Aku hanya memberikan Rayyan 30%, anggap saja untuk menebus kesalahanku padanya karna selama ini aku sudah mengabaikannya..."


Mirna tersenyum miring. "Jangan-jangan kamu masih mencintai mamanya Rayyan. Iya kan..?"

__ADS_1


"Mamanya Rayyan itu sudah menikah ma, bukankah kamu juga melihatnya datang bersama suaminya..."


"Aku tidak yakin jika itu beneran suaminya, bisa saja itu hanya orang bayarannya. Dia pasti sudah merencanakan banyak hal agar anaknya mendapatkan saham perusahaan kita.."


"Terserah kamu mau bilang apa, yang pasti aku akan tetap menyerahkan saham ku pada Rayyan.." Fahri lalu melenggang pergi dengan membawa map di tangannya. Dia akan meminta Rayyan untuk menandatangi surat penyerahan saham itu.


Sementara Rayyan kini sedang bersama mamanya.


"Ma, ada apa semua ini..? kenapa mama bisa datang bersama om Steve...?" tanya Rayyan.


"Mama datang karna mama akan membuktikan sendiri jika papamu benar-benar memberimu 30% saham Start Light. Dan mengenai om Steve, papamu yang memintanya berpura-pura menjadi suami mama agar Mirna tidak curiga. Sekarang mama senang, akhirnya papamu mengakuimu di depan publik, dan juga kamu punya hak atas perusahaan papamu..." Ratih tersenyum senang.


"Mama mungkin senang, tapi tidak denganku ma. Aku sama sekali tidak berharap papa mengakuiku. Dan asal mama tau, mungkin sekarang aku akan kehilangan orang yang aku sayang. Aku juga akan di nilai buruk oleh orang-orang ma..." teriak Rayyan. .


"Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi ma. Tujuanku hanya satu sekarang, yaitu membuat istri dan calon anakku bahagia..."


"Istri? calon anak? apa maksudmu Ray...?"


"Aku sudah menikah ma, dan sebentar lagi aku juga akan memiliki anak..."


"Apa...?" mama Ratih syok. Dia tiba-tiba terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri hingga harus di larikan ke rumah sakit.


****

__ADS_1


__ADS_2