
"Sayangnya namaku tidak terdaftar di dalam kartu keluarga mereka. Alfahri Sadiq diketahui hanya memiliki seorang anak dan itupun perempuan. Lagian jika bisa milih aku juga nggak mau punya ayah seperti dia..." ujar Rayyan sambil menyunggingkan senyumnya.
Apa yang di katakan Rayyan benar-benar sesuai dengan isi hatinya. Dan lagi tak ada bukti yang menunjukkan bahwa dirinya adalah anak dari laki-laki kejam itu.
Anna menatap Rayyan dengan tatapan kesal, masih sempat-sempatnya suaminya itu bercanda di saat dirinya sedang serius.
Rayyan menarik tubuh Anna dan membawanya kedalam pelukannya "Kamu nggak usah dengerin kata orang ya, percaya aja pada suamimu sendiri. Siapapun orangtuaku yang jelas aku sangat mencintaimu.." kata-kata Rayyan terdengar begitu tulus.
"Apa kamu yakin mencintaiku..?" Anna mengangkat wajahnya dan menatap Rayyan tajam.
"Kok kamu nanya gitu sih sayang..? setelah apa yang kita jalani selama ini kamu masih belum yakin padaku...?"
Anna melepas tangan Rayyan dan menjauhkan dirinya "Lalu bagaimana dengan Hazel..? wanita cantik yang sudah di jodohkan denganmu itu...?" sindir Anna.
"Hazel itu temanku sayang. Mama memang ingin menjodohkan aku dengannya, tapi aku udah bilang nggak mau dan mama juga udah ngerti kok. Kamu nggak usah khawatirin tentang itu ya, di hati aku hanya ada kamu..." lagi-lagi Rayyan menyunggingkan senyum manisnya.
Rayyan merasa semuanya baik-baik aja sekarang, karna papanya sudah berjanji tidak akan lagi mencampuri urusan pribadinya. Bahkan papanya juga tidak pernah membahas tentang Hazel lagi. Dan tadi hanya kebetulan saja dirinya bertemu Hazel itupun karna suatu pekerjaan.
"Aku pikir kamu akan berkata jujur mas, tapi ternyata kamu masih tetap menyembunyikannya.." batin Anna pilu.
"Aku mau masuk...!" ujar Anna dengan wajah kesal.
Tak ada gunanya juga dia bicara dengan Rayyan jika Rayyan masih tetap tidak menceritakan yang sebenarnya. Dan lagi Anna mulai merasa dingin karna hembusan angin malam yang menerpa tubuhnya. Apalagi dirinya hanya mengenakan baju tidur tipis yang di pinjamnya dari Icha.
"Sayang..." Rayyan menarik tangan Anna.
"Udah mas pulang aja sana.."
"Aku ingin kamu juga ikut pulang bersamaku.."
"Aku nggak akan pulang sebelum mas menyadari kesalahan mas..." Anna kemudian langsung berjalan cepat untuk masuk dalam rumah.
Sementara Rayyan hanya bisa melihat kepergian istrinya tanpa menyadari kesalahannya.
__ADS_1
***
Pagi-pagi sekali Anna tiba-tiba terbangun dari tidurnya karna merasakan mual yang begitu hebat. Anna benar-benar udah nggak tahan lagi ingin memuntahkan semua isi perutnya.
Hoeek...hoeek... Anna kemudian langsung berlari menuju kamar mandi.
Hoeekk...hoeeek... Anna berjongkok di toilet dan memuntahkan isi perutnya.
"Kamu kenapa An...?" tanya Ica cemas. Ica langsung terbangun mendengar suara Anna dari kamar mandi.
"Nggak tau Ca, gua tiba-tiba aja mual dan pengen muntah... hoeekk..." Anna masih memuntahkan isi perutnya.
"Ya ampun An.., kok bisa sih...?" Icha mengelus-ngelus punggung Anna.
"Gua juga nggak tau Ca. Mungkin masuk angin karna semalam gua keluar nemuin mas Rayyan..."
"Hah...? lo nemuin mas Rayyan..? kapan..?" Ica terkejut. Karna dia sama sekali nggak tau.
"Tadi malam mas Rayyan datang kesini buat jemput gua. Tapi gua nggak mau pulang.."
"Kan lo udah tidur duluan..."
"Bentar An,gua ambil air putih dulu.." Ica langsung bergegas mengambil segelas air putih yang tersedia di kamarnya lalu memberikannya kepada Anna.
"Ini An, minum dulu..."
Anna kemudian langsung meminum air itu. "Makasih Ca.."
"Ya udah An, sekarang kita kebawah ya.." Ica kemudian menuntun Anna berjalan turun kebawah. Anna benar-benar merasa lemas sekarang karna energinya terkuras abis.
"Astaga, non Anna kenapa..?" tanya bik Inah yang kebetulan sudah bangun.
"Anna tiba-tiba muntah bik.." jawab Ica.
__ADS_1
Bik Inah langsung membantu Anna dan mendudukkannya di meja makan. "Non Anna duduk dulu, bibik bikinin teh ya..."
"Makasih bik, dan ma'af udah ngerepotin..." Anna merasa bersalah. Dia sudah menyusahkan banyak orang.
"Nggak apa-apa non..." bik Inah kemudian langsung membuatkan teh untuk Anna.
"Ini non, diminum tehnya.."
Anna kemudian langsung meminum teh buatan bik Inah yang memang tidak dibuat terlalu panas.
"Oh ya bibik lupa, kemaren bibik bikin sop daging. Bentar bibik panasin dulu ya. Perut non Anna harus di isi..."
Bik Inah langsung membuka lemari pendingin dan lagi-lagi Anna kembali mual mencium aroma sop yang ada di dalam lemari itu.
Hoek...hoekkk... Anna menutup hidungnya.
"Bik, aku nggak suka baunya... hooeekk... Anna langsung berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan kembali isi perutnya.
"Aduuhh gimana nih, kok Anna muntah-muntah terus sih..?" Ica mulai panik. Kemudian Ica bergegas menuju ke kamar mamanya untuk membangunkan mamanya, namun ternyata kamar itu kosong.
"Bik, papa sama mama semalam nggak pulang ya..?" tanya Ica.
"Sepertinya nggak non..." jawab bik Inah dari kamar mandi. Dia yang membantu Anna mengelus punggungnya.
"Tuhkan.... Mereka selalu aja gitu. Dasar orangtua nggak bisa ngasih contoh yang baik untuk anaknya..." Icha sebal. Karna begitu sering kedua orangtuanya tak pulang ke rumah karna sibuk dengan urusan masing-masing. Dan sekarang Ica sangat membutuhkan bantuan mamanya karna panik melihat keadaan Anna.
"An,, kita kerumah sakit aja ya, aku takut terjadi sesuatu yang buruk ma kamu..."
Anna menggeleng "Nggak usah Ca, gua nggak apa-apa kok. Gua cuma masuk angin..." ucap Anna lirih.
"Nggak apa-apa gimana An, kamu tu udah lemes tau nggak. Atau gua telpon mas Rayyan ya..." Ica benar-benar terlihat panik.
"Nggak usah Ca..." Anna menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
'Ya Tuhan, penyakit apa yang aku derita sekarang? aku belum siap mati sebelum mencapai tujuanku. Aku ingin papa mendapatkan kembali perusahaannya'
***