Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Aku tertangkap


__ADS_3

Ibu peri meminta Cinderella untuk percaya pada keajaiban. Ia lalu membantunya untuk bersiap pergi ke pesta dansa. Ibu peri menggunakan tongkat sihirnya dan mengubah labu menjadi kereta kencana yang indah. Ia juga mengubah penampilan Cinderella. ......


Belum selesai Anna membacakan dongeng itu, seketika terdengar dengkuran kecil gadis mungil itu. Ternyata Rayna benar-benar sudah tidur. Tidak biasanya Rayna ingin tidur cepat, padahal jam baru menunjukkan pukul delapan.


Dreet... drettt... ponsel Anna berdering. Segera Anna meraih benda pipih itu dan menempelkannya di telinganya.


"Hallo Jer, kemana aja sih kok baru aktif..?"


Anna kemudian menuju balkon, agar Rayna tak terbangun. Dari tadi dia sudah menghubungi Jerry berkali-kali namun sama sekali nggak bisa di hubungi.


"Ciiieee... ada yang kangen berat nih.." goda Jerry di ujung sana.


"Iya kangeeeeeen banget..., kangen marahin kamu..!" sungut Anna kesal.


"Yahhh... kok kangen marah sih An..? emangnya aku salah apa..?"


"Mobil... Kenapa kamu belikan aku mobil..?"


Tadi sore tiba-tiba ada orang showroom yang datang mengantarkan sebuah mobil ke rumahnya. Dan Anna sangat terkejut karna dia sama sekali tidak memesan mobil tersebut. Anna memang ingin membeli mobil, tapi itu belum di lakukannya karna masih ragu-ragu memilih modelnya. Tapi orang showroom itu mengatakan jika mobil itu memang untuknya. Alamat dan nama yang tertera di sana juga tertulis nama Anna Rahardian. Anna yakin pasti Jerry yang membelikan mobil itu untuknya.


"Oohh jadi mobil buat Rayna udah datang ya..? cepat juga ya..." ujar Jerry santai.


"Jer, kamu nggak perlu belikan mobil segala buat Rayna. Kan aku dah bilang, aku bisa beli sendiri..."


"Emangnya kenapa sih An, kamu nggak suka ya sama modelnya..? padahal itu mobil keluaran terbaru lo..."


"Bukan gitu Jer.. Tapi itu mobil mahal. Kamu bahkan baru kerja dua hari masa udah bisa beli mobil aja. Ntar apa kata keluargamu..? bisa-bisa mereka mikir kalau kamu menggunakan uang perusahaan..."


"Astaga An.., kok kamu mikirnya gitu sih. Aku beli mobil itu pakai uang aku sendiri, uang hasil kerja aku selama di Jerman. Bukan uang perusahaan..."


"Tetap aja Jer.. Harusnya kamu nggak usah melakukan itu. Aku ganti aja ya duitnya..." Anna benar-benar merasa nggak enakan.


"Nggak..! aku emang udah niat beliin mobil untuk keperluan Rayna. Awas aja kalau kamu sampai ganti duitnya, aku bakalan marah. Ya udah ya, aku masih ada kerjaan. See u tomorrow..." Jerry langsung memutuskan sambungan telponnya.

__ADS_1


"Iihhh Jerry tu kenapa sih seenaknya aja.." Anna merasa kesal. Takutnya keluarga Jerry akan berpikiran buruk padanya setelah tau Jerry membelikan mobil untuknya.


Tok...tok... bu Anna... panggil Fitri dari luar.


"Iya Fit masuk..." sahut Anna.


Fitri pun langsung masuk. "Ehh Rayna udah tidur ya bu, tumben amat bisa tidur cepat..." ujar Fitri.


"Nggak tau tuh, kecapean mungkin..."


"Oh ya bu, susu Rayna habis bu. Tadi aku lupa ngecek..." Fitri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ooo.. ya udah.. Biar aku beli dulu. Selain susu ada lagi yang mau di beli..?"


"Susu aja sih bu, sekalian cemilan kalau bisa..." Fitri cengengesan.


"Ya udah kalau gitu aku keluar bentar ya.." Anna kemudian mengambil kunci mobil yang terletak di meja. Tak ada pilihan lain, dia terpaksa menggunakan mobil itu. Karna hanya itu mobil satu-satunya yang ada di rumahnya.


Anna melajukan mobil barunya memecah jalanan ibu kota yang masih suka macet. Sudah lama sekali Anna tak mengendarai mobil di kota itu apalagi setelah papanya bangkrut empat tahun lalu. Anna benar-benar tak punya apa-apa lagi setelah itu.


"Aduuuhhh... kok bisa sampai sini sih..?" Anna menepuk jidatnya. Entah apa yang dia pikirkan tadi selama di perjalanan yang jelas dia sudah di sini sekarang. "Gimana kalau aku ketemu tu orang di sini, sia-sia dong rencana aku.. Bodoh... bodoh..." Anna merutuki kebodohannya sendiri.


Anna ingin memutar kembali mobilnya, tapi tiba-tiba dia kepikiran Rayyan mungkin sudah tidak tinggal di apartement itu lagi. Secara Rayyan kini sudah sangat kaya, dia pasti tinggal di rumah mewah bersama Hazel.


Setelah memarkirkan mobilnya, Anna pun langsung turun dan memasuki supermarket itu, sebuah troli sudah berada di tangannya. Anna ingat dulu dia sering belanja di tempat itu bersama Rayyan saat tinggal di apartement. Memory lama seakan berputar kembali dalam ingatannya.


Tak ingin berlarut mengingat masalalunya, Anna pun mulai memilih belanjaannya dan memasukkannya ke dalam trolinya. Kemudian Anna menuju ke tempat barisan susu. Ternyata susu yang di carinya ada di rak paling atas. Anna pun kesulitan mengambilnya karna tangannya tak sampai walau sudah berjinjit sekalipun.


'Aduuhh kok tinggi banget sih letaknya..? gimana cara ngambilnya..?'


Anna kembali mencobanya kembali dan berjinjit, namun tiba-tiba ada seseorang berdiri di belakangnya dan mengambil susu itu lalu memasukkannya ke dalam troli yang ada di dekatnya. Anna pun membalikkan badannya, dan alangkah terkejutnya dia karna itu adalah Rayyan.


"Kamu...?" Anna terbelalak kaget.

__ADS_1


Namun berbeda dengan Rayyan, tanpa berkata apa-apa dia langsung memeluk tubuh Anna erat. Rayyan tak menyangka bisa bertemu Anna di sana setelah dua hari ini dia hampir gila mencari keberadaan wanitanya itu.


"LEPASIN AKU..." Anna memberontak.


Bukannya mendengarkan perkataan Anna, Rayyan makin mengeratkan pelukannya. Rasanya dia tak ingin melepaskan tubuh itu lagi, tubuh yang sangat di rindukannya selama ini.


"Lepasin nggak, atau aku teriak ni..." ancam Anna.


"Teriak aja, biar mereka memukulku sampai mati atau memasukkan aku ke dalam penjara.." bisik Rayyan ke telinga Anna.


"Kamu tu apaan sih, aku mohon lepasin aku..." suara Anna bergetar. Anna tak tau lagi harus berbuat apa. Yang jelas dia sangat ketakutan sekarang.


"Aku akan ngelepasin kamu asal kamu janji ikut denganku sebentar..."


"Aku nggak mau...!"


"Ya udah, kalau gitu aku nggak akan ngelepasin kamu.."


"Oke, fine... aku akan ikut denganmu, tapi sebentar..." Anna terpaksa menuruti perkataan Rayyan. Terlalu lama seperti itu hanya akan menambah masalah baginya karna itu di tempat umum. "Tapi tunggu, aku bereskan dulu belanjaanku..."


Rayyan kemudian melepaskan pelukannya dan langsung menghubungi seseorang agar datang ketempat itu.


"Mana kunci mobilmu, dan juga kasih tau alamatmu.." ucap Rayyan.


"Buat apa..?" Anna tak ingin Rayyan tau tempat tinggalnya.


"Udah cepetan. Atau mau aku ci*m di sini..?" ancam Rayyan.


Seketika Anna langsung memundurkan langkahnya. Anna takut jika Rayyan benar-benar akan melakukannya. Namun apalah daya tangannya di pegang erat oleh laki-laki itu sehingga dia tak bisa menjauh. Dengan terpaksa Anna mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tasnya. "Alamatnya kamu pasti tau kok. Dulu kamu sering datang kesana.." ujar Anna sambil menundukkan wajahnya.


"Jadi kamu...? Astaga..." Rayyan memegang kepalanya. Begitu bodohnya dia karna tak kepikiran tentang itu.


Setelah orang suruhannya datang Rayyan pun langsung memberikan kunci mobil Anna kepadanya dan meminta orang itu untuk mengantarkan mobil Anna pulang. Setelah itu dia pun membawa Anna masuk ke mobilnya dan menuju apartementnya.

__ADS_1


****


__ADS_2