Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Boneka Barby


__ADS_3

Seminggu sudah sejak kejadian itu, Rayna benar-benar tak ingin lagi bertemu Rayyan. Setiap kali melihat wajah Rayyan dia selalu ketakutan. Mungkin dia masih trauma. Akhirnya Rayyan pun memutuskan untuk tidak menemui Rayna dulu untuk sementara waktu. Karna jika tetap di paksakan dan menuruti egonya, takutnya akan berpengaruh buruk bagi psikis putrinya itu.


Anna juga sudah mulai sibuk dengan butiknya yang baru launching tiga hari lalu. Sungguh di luar dugaannya setiap hari butiknya selalu ramai pembeli sehingga Anna benar-benar harus bekerja keras. Banyak pesanan juga yang harus di selesaikannya dalam waktu dekat.


Anna menutup laptopnya, karna merasa sangat lelah. Di liriknya jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah beberapa malam ini dia selalu begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Ting... satu notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Anna pun meraih ponselnya dan membuka pesan itu.


Jangan begadang ya honey, jaga kesehatan. Besok mama papa aku pulang ke Jakarta, dan aku akan segera mengenalkan kamu dan Rayna pada mereka. Love U ( dengan emoji hati )


Dug..


Jantung Anna berdetak kencang. Badannya mendadak panas dingin. Anna tidak menyangka jika akan secepat itu bertemu keluarga Jerry. Rasanya terlalu mendadak dan dia belum siap. Bukan karna takut mereka tidak menerimanya, tapi Anna merasa belum yakin sepenuhnya dengan hatinya. Anna takut jika nanti dia tidak bisa membahagiakan Jerry karna sampai saat ini Anna masih belum bisa mencintai laki-laki itu sepenuhnya. Sungguh jahat memang, tapi itulah yang dirasakan olehnya.


Anna menghirup nafasnya dalam lalu melepaskannya secara perlahan.


'Aku harus gimana ni?' Anna memegang kepalanya yang terasa pusing. Lalu dia pun turun kebawah untuk mengambil minum. Kerongkongannya terasa kering.


Anna menuang air ke dalam gelasnya dan meminumnya sampai habis.


"Ibu belum tidur..?" tanya Fitri yang tiba-tiba datang. Fitri sepertinya juga haus sama seperti dirinya.


"Belum Fit. Kamu kok belum tidur juga..?" tanya Anna balik.


"Masih belum ngantuk bu.." jawab Fitri dengan senyum lebarnya.


"Jangan kemalaman Fit tidurnya, takutnya besok terlambat bangun..."


"Nggak kok bu, ini mau tidur..." Fitri kemudian langsung menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Fitri..." Anna kembali memanggilnya.


Seketika Fitri langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan. "Iya bu...?"


"Hmm.. Apa pak Rayyan masih suka datang ke sekolah Rayna...?" beberapa hari ini Rayna dan Fitri pulang di jemput sopir karna dirinya selalu sibuk di butik.


"Udah nggak pernah bu, hanya waktu tu aja. Pas ada ibu dan Rayna ketakutan..." jawab Fitri.


"Ohh ya udah..." Anna terdengar kecewa, entah apa yang di harapkannya. Kemudian dia langsung menuju ke luar rumah, dan duduk di tepi kolam. Entah kenapa Anna merasa sedih. Beberapa hari ini hidupnya terasa ada yang kurang. Tak bisa di pungkiri Anna sangat merindukan mantan suaminya itu.


'Ternyata hanya sebatas itu perjuanganmu mas. kamu nggak bersungguh-sungguh memperjuangkan aku dan Rayna' Anna menyeka air matanya yang lolos begitu saja tanpa bisa di tahan.


'Aku sangat merindukanmu mas' Anna tak kuasa lagi menahan tangisnya.


"Anna.... Anna....." samar-samar Anna mendengar suara seseorang memanggil namanya. Segera Anna menyeka airmatanya dan mencari arah suara tersebut.


"Ma'af mas Rayyan.., mamang nggak bisa..." ujar mang Asep merasa bersalah. Anna berpesan padanya agar tak mengizinkan laki-laki itu masuk kerumahnya.


"Aku harus bertemu Anna mang, aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini. Buka gerbangnya..." teriak Rayyan lagi.


"Buka aja mang..." ujar Anna yang tiba-tiba datang.


"Sayang...." Rayyan terpaku, wajahnya terlihat sangat menyedihkan.


Setelah pintu gerbang terbuka, Rayyan pun langsung menghampiri Anna dengan berjalan sempoyongan. Kemudian dia langsung memeluk tubuh Anna erat. "Aku nggak bisa begini terus An, aku bisa mati karna merindukan kamu dan Rayna..." ujarnya sambil terisak. Rayyan tampak begitu rapuh.


Anna membalas pelukan Rayyan laki-laki yang sangat di rindukannya. Dan dia dapat merasakan tubuh Rayyan yang begitu dingin. Kemudian Anna pun melepaskan pelukannya dan meminta mang Asep untuk membawa Rayyan masuk ke dalam. Rasanya tidak tega jika harus membiarkan Rayyan pulang dengan keadaan seperti itu.


"Mang..., tolong bantu bawa mas Rayyan ke dalam ya..."

__ADS_1


"Baik non..." mang Asep merangkul bahu Rayyan dan membawanya masuk.


"Bawa ke kamar tamu aja mang..." Anna akan membiarkan Rayyan beristirahat di sana setidaknya sampai dia tersadar.


"Baik non...."


Mang Asep kemudian membaringkan tubuh Rayyan di sana.


"Ada lagi yang bisa mamang bantu non...?" tanyanya.


"Udah mang, biarkan dia istirahat di sana..." ujar Anna. Sepertinya Rayyan juga sudah tertidur, karna dia hanya diam tak seperti tadi.


"Ya udah, kalau gitu mamang permisi dulu ya non, kalau ada apa-apa panggil mamang aja non..." ucap mang Asep sambil meninggalkan kamar itu.


"Iya mang..."


Anna masih terpaku di tempatnya, dia tidak menyangka bakal bertemu Rayyan dengan keadaan menyedihkan seperti itu.


"Anna..., sayang...." panggil Rayyan dengan mata yang tertutup rapat, sepertinya dia hanya mengigau.


Perlahan Anna pun mendekatinya, dan membukakan sepatu beserta kaos kaki Rayyan. Anna juga membuka jas Rayyan dengan susah payah. Karna jas itu terasa lembab dan juga bau alkohol yang begitu menyengat. Lalu setelah itu Anna menyelimuti tubuhnya agar tak kedinginan.


"Kamu kenapa mabuk-mabukkan terus sih mas? gimana kamu akan menyayangi aku dan Rayna sedangkan kamu tidak menyayangi dirimu sendiri.." ujar Anna sambil menatap wajah Rayyan. Kemudian tangannya terangkat untuk merapikan rambut Rayyan yang tampak berantakan.


Setelah itu Anna pun ingin kembali ke kamarnya karna sudah sangat mengantuk. Namun saat dia ingin pergi, tiba-tiba Rayyan menarik tangannya hingga dia terjatuh menimpa tubuh laki-laki itu. Dengan cepat Rayyan pun menguncinya dalam pelukannya.


Dug... jantung Anna serasa melompat dari tempatnya. Dia ingin melepaskan dirinya, tapi lengan Rayyan terlalu kuat mengunci tubuh mungilnya.


"Biarkan tetap seperti ini.." bisik Rayyan ketelinganya. Hingga tak lama kemudian Anna pun mulai terbawa perasaan, dan merasa sangat nyaman hingga akhirnya dia pun tertidur pulas..

__ADS_1


__ADS_2