Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Hazel


__ADS_3

Sementara di restorannya Rayyan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ruangan dengan ukuran 3x3 itu menjadi saksi perjuangan Rayyan dalam membangun bisnisnya.


Tok...tok... terdengar suara ketokan pintu dari luar. Ternyata Dio lah yang mengetuk pintu.


"Masuk..." ucap Rayyan.


"Ma'af pak, di luar ada ... " belum sempat Dio melanjutkan ucapannya orang tersebut tiba-tiba sudah muncul di sana.


"Hai Ray..." sapanya dengan senyum manisnya. Dia adalah Hazel. Wanita cantik dengan postur tubuh bak model.


"Hazel..." Rayyan terkejut.


Dio pun segera meninggalkan ruangan itu.


"Ummp..." lagi-lagi Hazel tersenyum manis.


Hazel mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.


"Ruangan ini ternyata masih sama, nggak ada yang berubah sedikitpun.." ucap Hazel sambil terus melihat-lihat ruangan itu.


"Hazel, kamu ada perlu apa kesini..?" tanya Rayyan tanpa basa-basi.


"Kangen kamu aja. Abisnya kamu nggak pernah berniat menghubungi aku atau menemuiku. Bahkan kamu tidak pernah mengangkat telponku.." Hazel kemudian duduk di sofa.


"Ma'af.." hanya satu kata yang keluar dari bibir Rayyan.


"Nggak apa-apa kok aku tau kalau kamu itu lagi sibuk banget. By the way, selamat ya atas pembangunan hotel barunya. Aku bangga ma kamu..."

__ADS_1


'Darimana Hazel tau tentang pembangunan hotelku?'


"Kamu tau darimana..?"


"Dari papa kamu. Kebetulan waktu itu kami makan malam bersama, ada tuan Dev juga. Sepertinya tuan Dev sangat menyukaimu, dia terus memujimu katanya kamu itu anak muda yang pekerja keras. Makanya dia tidak ragu-ragu menjalin kerja sama denganmu.."


'Jadi papa juga udah tau. Aku yakin papa pasti akan mengambil kesempatan ini untuk menekanku demi melancarkan rencananya' Rayyan mengepal tangannya kuat.


"Seandainya tuan Dev tau jika kamu adalah putranya om Fahri, pasti dia tidak akan mikir dua kali untuk menjalin kerjasama denganmu..." lanjut Hazel lagi.


"Hazel, aku akan pergi.." Rayyan kemudian meninggalkan Hazel sendiri di ruangan itu, dengan cepat Hazel pun mengejar Rayyan.


"Ray, kamu mau kemana ..?"


Rayyan pun tak menjawab. Dia langsung naik ke mobilnya. Rayyan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan tanpa tujuan yang jelas. Saat ini pikirannya benar-benar lagi kacau. Rayyan tidak menyangka jika tuan Dev juga mengenal papanya. Rayyan seolah lupa jika papanya adalah pebisnis yang paling terkenal dan di segani hingga ke mancanegara sekalipun.


Kemudian tiba-tiba dia teringat akan Anna. Rayyan kemudian langsung mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Anna di sana. Tak lupa Rayyan memasang airphone di telinganya agar tidak menganggu dia saat berkendara. Dengan satu deringan pertama langsung ada jawaban di ujung sana.


"Hallo mas..."


"Kamu lagi ngapain..?"


"Lagi nonton TV. Kenapa mas...?" tanya Anna di ujung sana. Tentu saja Anna heran, karna selama ini Rayyan tidak pernah menelponnya saat bekerja.


"Nggak apa-apa. Kangen aja denger suara kamu..."


"Cuma kangen suaranya doang nih, terus sama orangnya nggak..?" Anna ngambek.

__ADS_1


Rayyan terkekeh. "Ya kangen orangnya juga lah. Oh ya gimana keadaan kamu, apa itunya masih sakit...?" tanya Rayyan hati-hati.


Pertanyaan Rayyan kembali membuat Anna memerah. Bagaimana mungkin Rayyan selalu menanyakan tentang itu dari tadi, hal yang sangat sensitif baginya. "Udah nggak..." jawab Anna malu-malu. Walaupun sebenarnya masih terasa ngilu.


"Berarti udah bisa di lanjutin dong..?" goda Rayyan.


"Apaan sih mas..." seandainya Rayyan ada di samping Anna sekarang, mungkin dia akan menertawakan Anna yang memerah menahan malu.


Rayyan terkekeh "Kamu udah makan belom...?"


"Belum sih mas, belum lapar soalnya.."


"Sekarang kan udah waktunya makan siang sayang. Ntar kamu sakit lagi. Kamu mau makan apa, biar aku belikan..."


"Nggak usah repot-repot mas, ntar aku pesen online aja. Mas kan lagi kerja..."


"Nggak apa-apa sayang. Bilang aja mau makan apa..? aku juga udah mau pulang soalnya.."


Degg... kenapa mas Rayyan cepat amat pulangnya? apa dia benar-benar mau ngelanjutin yang tadi pagi? mamp*s deh'


"Sayang..." panggil Rayyan lagi.


"Umm..., terserah mas aja deh..."


"Ya udah kalau gitu kamu tunggu di rumah ya, bentar lagi aku pulang. by sayang..." Rayyan menutup telponnya.


Rayyan kemudian langsung membelokkan mobilnya menuju restoran cepat saji yang ada di dekat sana. Setelah membeli banyak makanan dia pun langsung pulang.

__ADS_1


***


__ADS_2