
Dari tadi Rayyan dan Rayna sibuk membuka paket yang berisikan mainan itu. Sedangkan Anna tak ikut-ikutan, dia malah tertidur di sofa karna memang sangat lelah. Hanya ayah dan anak itu yang terlihat antusias.
"Yeeeaayy.." Rayna bertepuk tangan saat mainan rumah-rumahannya berhasil tersusun.
"Bagus banget dad..." ujarnya.
"Nana suka...?"
"Sukaa...."
"Sekarang kita susun prosatannya ya..."
"Ummp..." Rayna mengangguk. Dia begitu semangat karna sebentar lagi akan ada playground di rumahnya.
Anna membuka matanya perlahan, dia terbangun karna perutnya terasa lapar. Di liriknya jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, itu berarti sudah satu jam lebih dia tertidur. Kemudian matanya tertuju pada sudut ruangan itu, dimana Rayyan dan Rayna masih sibuk dengan aktifitas mereka. Setumpuk mainan dan boneka tampak berada di sekeliling mereka.
Anna kemudian bangkit dan langsung menghampiri mereka.
"Mih,, liat deh glenpa ngilimin aku banyak mainan. Aku sayang banget sama glenpa...."
Deg...
Kata-kata itu terdengar sangat tulus dari mulut Rayna. Anna hanya membalasnya dengan senyum singkat.
"Kamu dah bangun sayang..?" tanya Rayyan.
"Mas..., udah deh. Ini tu udah malam, kenapa semuanya harus di selesaikan sekarang sih..? kan bisa di sambung besok mas. Kamu bahkan belum mandi..." omel Anna yang melihat Rayyan masih dengan stelan jasnya.
"Iya sayang, kan sekalian nungguin kamu bangun..."
"Ini aku udah bangun.." Anna cemberut.
"Non..., makan malamnya udah siap..." panggil bik Nur.
"Iya bik..."
__ADS_1
"Sayang, besok di lanjutin lagi ya nyusun mainannya. Sekarang kita makan dulu..."
"Nana udah kenyang kok mih, kan udah makan tadi di suapin sus Fitri. Nana pengen bobok, udah ngantuk..." Rayna menguap lebar, terlihat jika dia memang sudah ngantuk.
"Oke sayang, kalau gitu mommy antar ke kamar ya..."
"Ump..." Rayna mengangguk.
"Sini sayang gendong daddy..."
Rayyan membungkuk agar Rayna bisa naik ke punggungnya. Dan Rayna pun langsung naik dan melingkarkan tangannya di leher daddynya. Mereka kemudian naik ke lantai atas, menuju kamar Rayna.
Rayyan membaringkan Rayna di atas tempat tidurnya. Terlihat Rayna sudah memejamkan matanya, mungkin dia sangat ngantuk dan juga lelah sehingga langsung tidur dengan mudah. Biasanya dia selalu meminta di bacakan dongeng terlebih dahulu.
"Kalau lagi tidur gini, Rayna mirip banget ya ma aku. Hidungnya, matanya, bibirnya..." ujar Rayyan sambil menatap Rayna. Tangannya terangkat untuk menyibak anak rambut Rayna yang menutupi wajahnya.
"Iya karna kamu ayahnya..."
Anna menyelimuti Rayna hingga dadanya.
"Nggak...! dia akan mirip denganku..."
"Oh ya..? kalau gitu ayo kita mulai sayang...." Rayyan menarik Anna kedalam pelukannya.
"Mas..., aku laper...."
Anna ingin melepaskan dirinya, namun Rayyan makin memeluknya erat.
"Aku juga sangat lapar sayang. Aku bahkan sudah menahannya sejak semalam, dan sekarang aku sudah tak bisa menahannya lagi. Aku akan memakanmu..." bisik Rayyan ketelinga Anna dan itu membuat Anna merinding.
Rayyan lalu menggendong tubuh Anna membawanya keluar dari kamar itu dan menuju kamar mereka. Kemudian Rayyan membaringkan tubuh Anna di atas tempat tidur, dan menindihnya. Seperti kucing lapar, Rayyan langsung ******* bibir Anna dengan rakus dan membuat Anna kehabisan nafas.
Anna memukul-mukul dada bidang Rayyan agar laki-laki itu memberinya waktu untuk menghirup nafas. Rayyan kemudian tersenyum, lalu melepaskan pangutannya agar Anna bisa bernafas.
Seketika Rayyan mulai melepaskan stelan jas yang masih melekat di tubuhnya dan membuangnya ke sembarang arah. Bibirnya kembali membekap bibir Anna, sementara tangannya dengan lincah membuka kancing blouse yang di kenakan Anna hingga tubuh itu menjadi polos sepertinya.
__ADS_1
Mereka kembali melakukan penyatuan dengan penuh cinta. Dan setelah mereka mencapai puncak Rayyan merebahkan dirinya di samping Anna dengan nafas tersengal sama seperti Anna.
"Tubuh ini yang selalu aku rindukan dari dulu..." ujar Rayyan sambil memeluk Anna erat. Tangannya membelai rambut Anna.
"Haruskah kita pergi berbulan madu sayang..? katakan kamu ingin pergi kemana..?"
"Terserah kamu aja mas..."
"Gimana kalau kita ke Jerman, saat ini lagi turun salju di sana. Sekalian aku ingin meminta ma'af dan meminta restu tante Yasmin..."
Seketika Anna langsung menjauhkan dirinya.
"Nggak mas... Aku nggak mau ke Jerman..."
Raut wajah Anna langsung berubah sedih. Terlalu banyak kenangan pahit yang di alaminya di negara itu, dan itu karna Rayyan laki-laki yang berada di sampingnya kini.
"Sayang aku minta ma'af ya, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada masa itu..." Rayyan merasa bersalah, dia tidak sadar jika itu akan mengingatkan Anna pada kenangan pahitnya. Niat Rayyan hanya ingin menemui tante Yasmin dan meminta restu padanya. Karna hanya tante Yasmin keluarga Anna satu-satunya yang dia kenal.
"Aku hanya ingin meminta restu pada tante Yasmin. Tapi jika kamu tidak setuju aku tidak akan melakukannya.
"Nggak semudah itu mas. Tante Yasmin butuh waktu untuk melupakan semuanya dan menerima kamu. Kamu sabar ya...."
Sampai saat ini Anna masih merahasiakan pernikahannya dengan Rayyan. Anna takut tantenya itu akan kecewa padanya. Nanti jika sudah waktunya Anna akan menceritakan semuanya pada tantenya itu.
"Iya sayang, aku pasti akan selalu sabar asalkan kamu tetap selalu di sampingku..."
"Aku akan selalu ada di sampingmu mendampingimu hingga kita tua nanti..."
Ucapan Anna mampu membuat Rayyan berkaca-kaca, dia sangat terharu.
"Makasih sayang..." Rayyan kembali memeluk Anna erat.
Setelah itu mereka pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
****
__ADS_1