Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Semua sudah berakhir


__ADS_3

Setelah dari kontrakan Anna tak langsung pulang. Dia mengajak Ica jalan-jalan ke Mall. Saat ini Anna benar-benar tak ingin pulang, karna nggak mau ketemu Rayyan. Anna bahkan menonaktifkan ponselnya agar Rayyan tak bisa menghubunginya. Kini jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Ica mulai gelisah. Walau bagaimanapun sahabatnya itu kini sudah punya suami. Terlepas dari masalah yang di hadapinya, Ica harus tetap membujuk Anna agar ia mau pulang kerumah.


"An.., pulang yuk..." ajak Ica. "Gua capek banget nih..."


"Ca, boleh nggak gua nginap di rumah lo..? gua lagi malas pulang ke apartement..." wajah Anna terlihat memohon.


"Gimana ya..?" Ica tampak berpikir.


"Nggak boleh ya?" Anna seolah bisa membaca wajah sahabatnya itu.


"Iya boleh sih... Tapi gimana dengan mas Rayyan? takutnya nanti dia nyariin lo.."


"Nggak usah dipikirin. Dia udah punya Hazel, mereka sudah di jodohkan dari dulu. Mas Rayyan menikahiku hanya karna terpaksa. Dia hanya kasian kepadaku..."


"Ya udah deh.." Mereka akhirnya pulang kerumah Icha.


Sesampainya di rumah Ica, Anna langsung menuju ke kamar dan merebahkan badannya di sana. Sedangkan Ica langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Anna memandangi langit-langit kamar Icha. Tak terasa air matanya kembali menetes mengingat kebersamaan Rayyan dan Hazel tadi. Mereka terlihat sangat serasi.

__ADS_1


'Mas, kenapa kamu tega banget mempermainkan perasaanku? apa kamu nggak tau kalau aku sekarang sudah sangat mencintaimu. Aku mencintaimu mas, dan aku sangat takut kehilangan kamu' air mata Anna tak berhenti menetes.


Anna kemudian meraih tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Anna lalu menghidupkan ponselnya, dan alangkah banyaknya pesan yang masuk ke ponselnya itu terutama dari Rayyan.


Sayang, kamu dimana..?


Sayang, kenapa belum pulang-pulang juga..?


Sayang, aku khawatir.


Sayang, pulang sekarang


Belum selesai Anna membaca semua pesan yang di kirimkan Rayyan, tiba-tiba saja dia melihat Rayyan melakukan panggilan padanya. Mungkin daritadi mata Rayyan tak lepas dari ponselnya.


"Hallo..."


"Sayang, kamu tu lagi dimana sih? kenapa daritadi nomor kamu nggak bisa di hubungi. Kamu tu bikin aku khawatir tau nggak.."


"Ma'af udah bikin kamu khawatir.. Kamu nggak perlu mikirin aku, aku baik-baik aja kok.."

__ADS_1


"Maksud kamu apa sih? kok tiba-tiba ngomong kayak **gi**tu..?" Rayyan tak mengerti.


Anna memejamkan matanya sambil menghirup nafas dalam-dalam. "Aku udah tau semuanya.."


"Tau apa sayang..?" Rayyan semakin tak mengerti.


"Udahlah mas, mulai sekarang mas nggak perlu lagi memikirkan aku. Nggak usah lagi mencariku. Anggap aja nggak pernah terjadi apa-apa di antara kita.." Anna berusaha menahan tangisnya.


"Kamu bicara apa sih sayang? jangan aneh-aneh deh. Kamu dimana, aku kesana ya..?"


"Nggak perlu.." Anna kemudian langsung memutuskan sambungan telponnya dan langsung menonaktifkan ponselnya.


'Semua sudah berakhir sekarang'


"An.., kenapa begitu cepat mengambil keputusan..? kan kita belum tau kebenarannya seperti apa.." ujar Ica yang tiba-tiba muncul di samping Anna. Sepertinya tadi Ica mendengar percakapan Anna.


"Semuanya udah jelas Ca. Dariawal aku udah pernah denger jika mas Rayyan itu udah di jodohkan dengan Hazel itu.."


"Tapikan kamu bilang mas Rayyannya nggak mau..."

__ADS_1


"Buktinya tadi mereka datang bersama ke butiknya kak Intan Ca. Jika mas Rayyan tidak menyukainya, dia nggak mungkin menemani wanita itu belanja. Apa tadi kamu nggak liat, mas Rayyan memilih sendiri gaun untuk wanita itu.."


Icha terdiam. Karna memang tadi dia juga melihat Rayyan memilih salah satu gaun di butik itu..


__ADS_2