
Rayyan menatap monitor laptopnya dengan pandangan mata yang berkunang-kunang. Kepalanya terasa sangat pusing. Dari tadi tangannya sibuk memijit pelipisnya berharap sakit kepalanya akan mereda, namun malah semakin menjadi-jadi. Sebenarnya Rayyan sedang banyak pikiran. Bukan hanya memikirkan masalah pekerjaannya namun juga memikirkan masalahnya dengan Anna. Dari kemaren Anna masih tak mau bicara dengannya dan selalu menghindarinya.
Di sudut lainnya Dio juga sibuk dengan laporan bulanan kedua restoran Ryn resto. Sesekali dia memperhatikan bosnya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Bapak kenapa, apakah bapak sakit...?" Dio akhirnya bertanya.
"Iya sepertinya saya kurang enak badan. Oh ya Yo, tolong batalkan jadwal ketemu klien hari ini ya, jadwalkan ulang besok.." ucap Rayyan kemudian berdiri dari duduknya.
"Baik pak... Bapak mau kemana...?"
"Saya mau pulang.."
"Apa perlu saya antar pak..?" Dio khawatir.
"Nggak usah, kamu tetap di sini..."
Rayyan kemudian bergegas ke tempat parkiran dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartementnya. Saat ini dia butuh istirahat, dan pulang ke apartement adalah pilihan terbaik karna dekat dari restoran.
Sesampainya di apartement, Rayyan langsung merebahkan badannya di ranjang king size miliknya. Kemudian menutup matanya berharap saat bangun nanti sakit kepalanya akan hilang. Di saat-saat seperti ini Rayyan sangat merindukan Anna, berharap istrinya itu ada di sampingnya.
Rayyan terbangun dan merasakan tubuhnya kedinginan. Rayyan tidak tau sudah berapa lama dia tertidur tapi melihat keluar jendela yang kelihatan gelap menandakan hari sudah malam.
"Ternyata udah malam..." gumamnya.
Rayyan kemudian meraih ponselnya yang dia taruh di nakas, namun ternyata ponselnya mati.
"Arrrgghhh..., habis batrai lagi..." Rayyan membanting ponselnya dengan kasar.
Rayyan ingin bangun, namun kepalanya terasa sangat berat dan juga pusing. Dan dia benar-benar tidak sanggup untuk mengangkat kepalanya.
'Gimana mau pulang, bangun aja nggak bisa'
__ADS_1
Kemudian Rayyan teringat akan Dio. Hanya Dio yang bisa membantunya saat ini untuk mengantarkannya pulang ke kontrakan. Rayyan meraih gagang telpon yang ada di nakas, lalu meraba tombolnya dan menyambungkannya ke restoran. Karna jam segini Dio pasti masih berada di restoran. Dan lagi Rayyan tidak hafal nomor asistennya itu.
"Hallo selamat malam dengan Ryn resto di sini, ada yang bisa kami bantu..?" tanya pelayan dengan ramah.
"Apa Dio masih di sana..?" suara Rayyan terdengar serak.
"Ma'af, apa ini pak Rayyan..?" pelayan itu langsung mengenali suara bosnya.
"Iya..."
"Pak Dio nya Ada ni pak, tunggu sebentar ya.." pelayan itu langsung memberikan telponnya pada Dio, kebetulan Dio sedang berada dekat dengannya.
"Iya pak.." jawab Dio.
"Dio, tolong datang ke apartement saya sekarang..."
"Baik pak, saya akan kesana sekarang.."
Tak lama kemudian Dio pun sampai di apartement Rayyan. Hanya Dio satu-satunya yang tau password apartement bosnya itu, karna dia sering bolak-balik datang kesana. Terutama untuk membawa pekerja yang akan membersihkan apartement itu.
"Gimana keadaan bapak...?" tanya Dio.
"Sepertinya makin parah. Tolong antarkan saya pulang ke kontrakan ya, karna saya nggak kuat bawa mobil sendiri..." Rayyan bangun perlahan.
"Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit aja pak..? supaya bapak mendapat perawatan di sana..."
"Tidak perlu..!" jawab Rayyan singkat.
Dio akhirnya mengikuti bosnya itu menuju basement. Sebenarnya Dio ingin protes dan meminta bosnya itu di rawat dulu di rumah sakit, apalagi bosnya itu kelihatan pucat dan juga lemas. Namun Dio juga tidak bisa memaksa, karna jika bosnya bilang tidak, maka tak kan berubah pendiriannya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Rayyan belum sampai juga di rumah. Tidak biasanya seperti itu, apalagi tanpa memberi kabar. Anna mulai khawatir, bahkan dia tidak bisa tidur. Daritadi Anna terus mondar mandir depan pintu menunggu Rayyan pulang. Walupun begitu Anna tidak berniat menghubungi suaminya itu duluan. Karna Anna merasa gengsi jika harus menghubungi Rayyan terlebih dahulu.
__ADS_1
'Mas Rayyan mana sih? kok nggak pulang-pulang juga..? Dia nggak-nggak apa-apa kan..?'
"Atau jangan-jangan dia lagi asyik-asyikan dengan wanita di luar sana.." pikiran buruk mulai menguasai Anna.
'Udah ahh, ngapain juga mikirin dia. Mendingan aku tidur.." Anna berusaha bersikap masa bodoh. Kemudian Anna pun masuk ke kamarnya. Namun belum sempat merebahkan badannya tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu dari luar.
Tok..tok..tok...
'Siapa sih yang datang malam-malam gini..? mas Rayyan kan bawa kunci sendiri'
Anna kemudian mengintip dari balik tirai jendelanya, dan dia pun langsung melihat Dio.
'Dio..? ngapain dia ke sini..'
Anna pun bergegas membukakan pintu untuk Dio.
"Dio, ada apa ya..?" tanya Anna.
"Ma'af mbak ganggu malam-malam. Saya datang kesini untuk memberitahu mbak Anna, jika mas Rayyan sedang sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit.." ucap Dio. Tadi dalam perjalanan bosnya itu tiba-tiba berubah pikiran. Rayyan memintanya untuk mengantarkannya kerumah sakit. Padahal biasanya bosnya itu paling anti berurusan ke rumah sakit, mungkin sekarang bosnya itu benar-benar sudah tak kuat lagi menahan sakitnya.
"Apa..? mas Rayyan sakit...?" Seketika badan Anna terasa lemas, dan bulir bening pun langsung menetes di sudut pipinya.
"Iya mbak.."
"Dio, tolong antarkan aku kesana ya.." suara Anna terdengar memohon.
"Tapi mbak, kata mas Rayyan mbak di rumah aja..."
Anna menggeleng "Nggak Dio, aku harus kesana sekarang..."
"Ya udah kalau gitu..." Dio terpaksa menurut karna dia kasian terhadap Anna. Walau bagaimanapun Anna adalah istri bosnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Anna terlihat menangis, dia begitu khawatir dan juga sangat menyesal karna sudah mendiami suaminya itu selama beberapa hari. Dan Anna juga tidak tau jika suaminya ternyata sedang sakit.
***