Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Pindah ke apartement


__ADS_3

Hari ini Rayyan sudah di perbolehkan untuk pulang. Keadaannya juga sudah mulai membaik. Hari ini juga Rayyan akan membawa Anna kembali pindah ke apartementnya. Walau tidak sesuai dengan rencana awalnya, namun Rayyan melakukan itu karna takut Anna juga akan mengalami sakit yang sama sepertinya. Tadi Rayyan sudah meminta Dio untuk memindahkan semua barang-barang mereka ke apartement, tentu saja tanpa sepengetahuan Anna. Biarlah nanti dia akan menjelaskannya kepada Anna. Yang jelas dia tidak mau lagi mengajak Anna tinggal di kontrakan itu.


Di kontrakan Dio sedang sibuk mengemasi semua barang-barang bosnya itu. Dio juga membawa serta dua orang karyawan restoran untuk menolongnya. Sebenarnya tak banyak juga yang mereka bawa dari kontrakan itu hanya pakaian dan juga barang-barang yang di rasa perlu.


Rayyan tidak boleh mengosongkan kontrakan itu, karna dia akan meminta Tika dan Devi untuk tinggal di sana. Setahunya Tika dan Devi itu merantau di Jakarta dan mereka berdua tinggal di kosan. Lagian Rayyan juga sudah membayar sewanya untuk setahun kedepan. Daripada kosong lebih baik karyawannya yang tinggal disana.


Sementara di tempat lainnya ada bu Wati yang dari tadi sangat penasaran karna melihat orang yang tidak di kenalnya masuk ke rumah temannya Anna. Buru-buru bu Wati mendatangi warungnya bu Lastri.


"Bu Lastri... Bu Lastri..." panggilnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ada apa bu Wati, kok kayak di kejar setan gitu..?" tanya bu Lastri heran.


Bu Wati mengatur nafasnya. " Aku melihat ada orang asing masuk ke rumah Anna. Jangan-jangan dia mau mencuri lagi..."


"Oohh mereka itu kenalannya Rayyan dan Anna..." jawab bu Lastri tenang.


"Darimana bu Lastri tau..? jangan-jangan mereka hanya membohongi ibu..." bu Wati tidak mudah percaya begitu aja.


"Tadi mereka udah datang kesini buat minta izin masuk kesana, katanya mereka mau mengambil barang-barangnya Anna dan Rayyan..."


"Kok di ambil bu, kan bener dugaan saya mereka itu mau nyuri.."


"Aduuhh bu Wati gimana sih, kalau mereka mau nyuri ngapain juga izin saya. Anna dan Rayyan itu mau pindah, jadi mereka yang di suruh Rayyan untuk mengemasi barang-barangnya..." jelas bu Lastri.


"Jadi si Anna mau pindah ya bu..?" tiba-tiba wajah bu Wati berubah sedih.


"Iya bu Wati.. Saya juga nggak nyangka kalau Anna dan Rayyan akan pindah dari sini. Apalagi selama ini mereka terlihat aman-aman aja, nggak pernah sekalipun bilang mau pindah. Bahkan sewa kontrakannya aja udah di bayar penuh untuk satu tahun kedepan..." bu Lastri juga ikutan sedih.

__ADS_1


"Kok Anna tega banget sih bu nggak pamit ama kita. Main pindah gitu aja..." bu Wati mulai melow. "Pindah kemana emangnya bu..?"


"Nggak tau juga. Saya nggak berani banyak tanya. Soalnya temannya Rayyan itu sepertinya buru-buru. Tadi dia juga bilang kalau si Rayyan lagi sakit dan lagi di rawat di rumah sakit..."


"Hahh..? si Rayyan sakit..?" bu Wati lagi-lagi terkejut. "Pantasan saya sudah lama nggak liat mereka.."


"Iya bu, kasian ya..."


"Iya bu, saya kasian Anna. Semoga suatu saat nanti kita masih bisa bertemu Anna ya bu..." ucap bu Wati lirih.


"Amin bu..."


Setelah selesai pindahan dan membereskan apartement sesuai perintah Rayyan, Dio pun langsung menjemput bosnya itu ke rumah sakit. Terlihat bosnya itu begitu senang karna sudah bisa kembali beraktifitas lagi. Setelah itu mereka langsung pulang ke apartement.


"Kita mau kemana mas...?" tanya Anna yang menyadari jika Dio tidak membawa mereka ke arah jalan kontrakan.


"Kok lewat sini..? bukannya kontrakan kita arah sana ya...?" tanya Anna tak mengerti.


"Kita akan pulang ke apartement..."


"Apartement..?" Anna mengerutkan keningnya.


"Iya sayang.. Mulai hari ini kita akan tinggal di apartemenku yang dulu..."


"Tapi bukannya mas bilang sewa apartement itu mahal dan mas udah nggak mampu lagi bayar sewanya..."


Dio yang mendengar perkataan Anna sungguh tak mampu lagi menahan tawanya. Dia menutup mulutnya dengan tangannya. Sungguh bosnya itu sangat pandai bersandiwara. Kenapa dulu bosnya itu tidak daftar jadi aktor saja, sedangkan dia sangat lihai dalam berakting.

__ADS_1


"Nanti akan ku jelaskan..." ucap Rayyan. Nggak enak juga jika Dio mendengar ucapan mereka. Ujung-ujungnya pasti mereka akan bertengkar lagi.


Setelah itu mereka hanya diam hingga tak lama kemudian Dio membelokkan mobilnya ke apartement mewah milik bosnya itu. Setelah itu Dio pun langsung pergi.


Anna tidak merasa asing lagi dengan apartement itu, karna dia sudah pernah menginap di sana. Tak banyak yang berubah, hanya dekorasi kamarnya saja yang di buat terkesan romantis.


"Nyamannya...." ucap Rayyan sambil berbaring di ranjangnya. "Sini sayang..." Rayyan menepuk-nepuk tempat tidur di sampingnya.


Anna menghampiri Rayyan, kemudian duduk di sisi ranjang itu.


"Sekarang jelaskan, kenapa kita tiba-tiba pindah kesini lagi..." ucap Anna yang dari tadi sudah tak sabar ingin tau alasannya. Matanya menatap lekat ke arah Rayyan.


Rayyan menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Anna.


"Aku di terima kerja di perusahaan, makanya aku menggunakan uang tabunganku untuk menyewa apartement ini lagi..." ucap Rayyan sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Oh ya..? Perusahaan apa...?" tanya Anna senang.


"Star Light..."


"Star Light...?" Anna melototkan matanya. Seketika perasaan senangnya berubah sedih. "Kenapa harus Star Ligh dari sekian banyaknya perusahaan yang ada di Jakarta ini mas. Mas tau kan Star Light itu yang sudah menghancurkan perusahaan papa..." Anna tak mampu lagi menahan air matanya.


"Iya aku tau An. Tapi hanya perusahaan itu yang mau menerima aku bekerja. Aku sudah mencari pekerjaan kemana-mana tapi tak ada yang mau menerimaku. Kita nggak mungkin hidup kayak gini terus An. Aku butuh pekerjaan yang layak untuk hidup kita..."


Anna kemudian langsung pergi meninggalkan Rayyan. Dia menangis sejadinya.


"Ma'afkan aku An, semua ini aku lakukan hanya untukmu. Suatu saat nanti kamu pasti akan mengerti.."

__ADS_1


__ADS_2