Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Stempel kepemilikan


__ADS_3

Anna masih mematung di depan kaca dengan wajah paniknya. Karna begitu banyak tanda merah di leher maupun di dadanya karna perbuatan Rayyan tadi. Anna bahkan sudah mengganti baju berkali-kali namun tak ada satupun yang bisa menutupinya. Padahal Anna harus segera ke butiknya karna ada klien penting yang ingin bertemu dengannya.


"Gimana cara ngilanginnya sih..? Aaahh... " Anna terlihat putus asa. Padahal dia sudah mendempulnya dengan foundation namun tanda itu masih terlihat jelas.


'Jahat..!' Anna mencebik.


Seketika Anna langsung teringat kejadian tadi, dan itu membuatnya senyum malu-malu dengan pipi yang memerah seperti kepiting rebus. Bagaimana mungkin dia begitu pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang di ciptakan Rayyan tanpa adanya penolakan. Jika saja ponsel Rayyan tak berdering dan harus segera pergi, entah apa yang akan terjadi pada mereka. Karna sama-sama di penuhi gairah dan nafsu yang tak terkendalikan lagi. Kini yang Anna rasakan hanya kerinduan yang makin bertambah.


Dret.. dret... suara deringan ponsel membuat Anna tersadar dari lamunannya. Ternyata Jerry lah yang menelponnya. Anna memang baru menghidupkan ponselnya kembali. Entah seperti apa laki-laki itu tadi mencarinya karna dirinya yang tiba-tiba menghilang.


"Iya Jer..."


"Kamu dimana sih An..? kok pagi-pagi udah pergi aja, mana ponselnya nggak aktif lagi.." omel Jerry di ujung sana.


"Aku... aku tadi ada urusan mendadak ketemu klien. Terus ponsel aku juga mati, karna lupa ngidupinnya saking buru-burunya..." Anna berbohong.


"Klien mana sih An yang ngajak ketemuan pagi-pagi buta..? laki-laki apa perempuan..?" Jerry mulai posesif.


"Iya perempuan lah Jer.. Dia mempercayakan butik aku untuk pembuatan gaun pesta keluarga besarnya. Karna dia buru-buru mau keluar kota, makanya dia memintaku untuk bertemu lebih awal..."


Akhirnya Anna menemukan alasan yang pas. Dia memang bertemu klien yang ingin memesan gaun pesta padanya, namun itu kemaren bukan tadi pagi.

__ADS_1


"Oooo... syukurlah jika bukan laki-laki. Lain kali nggak usah terlalu manjain klien ya. Jika mereka memang butuh biarkan mereka yang mencarimu.."


'Jerry gimana sih, justru saat ini aku lah yang paling membutuhkan mereka' batin Anna.


"Ya udah, semangat ya kerjanya dan jangan lupa makan. Nanti malam jam tujuh aku jemput, jangan lupa dandan yang cantik..." ujar Jerry.


Deg..


Anna melototkan matanya. Bahkan untuk bertemu Jerry pun hari ini dia tidak berani karna takut Jerry akan melihat tanda merah di lehernya itu, apalagi harus bertemu keluarganya. Apa yang akan mereka pikirkan tentang dirinya nanti? apa yang harus dilakukannya sekarang. Haruskah dirinya pergi ke dokter kulit untuk meminta obat yang bisa menghilangkannya? sungguh Rayyan sudah menyulitkan hidupnya.


"An..." panggil Jerry karna Anna tak menjawabnya.


"Iya Jer.. Kamu tenang aja, aku pasti akan dandan yang cantik kok..." Anna memaksakan senyumnya.


"Arrrrggghhh...." Anna melompat ke ranjangnya dan membenamkan kepalanya di sana.


'Kenapa jadi gini sih'?' Anna memukul-mukul kasurnya.


Dreet... ponselnya kembali berdering. Anna kemudian meraih ponselnya dan terlihat di sana suamiku melakukan panggilan video kepadanya. Tadi Rayyan merebut ponselnya dan menulis namanya dengan nama suamiku di sana.


"Ini nih orang yang udah bikin aku pusing.."

__ADS_1


Dengan malas Anna menggeser tombol yang ada di layar ponselnya itu. Dan dia langsung melihat wajah tampan Rayyan tersenyum padanya. Seketika Anna langsung menampilkan wajah cemberutnya. Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa tersenyum manis setelah apa yang dilakukannya tadi.


Lama mereka bersitatap tanpa ada yang bicara. Kemudian Rayyan tampak melirik leher Anna, lagi-lagi dia tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa sih, senang banget kayaknya..." kesal Anna.


"Nggak sakit kan...?" tanya Rayyan.


"Iya sakit.. sakitnya berasa sampai ke hati..." ketus Anna.


"Oh ya..? kalau gitu biarkan aku memeriksanya nanti. Tadi aku buru-buru, hingga tak bisa menyelesaikannya. Dan itu sangat menyiksaku.." Rayyan mengutuk Dio yang ada di depannya itu. Harusnya tadi Dio tidak perlu menelponnya dan menjadwalkan ulang acara meeting dengan klien.


"Apaan sih...?" lagi-lagi Anna memerah.


"Ingat ya, mulai sekarang kamu sudah kembali menjadi milikku. Dan tanda itu adalah stempel kemilikan yang sah milikku. Tak akan aku biarkan seorang pun mengambil apa yang sudah menjadi milikku.."


Anna tersenyum getir 'Kamu salah mas. Aku bukan lagi milikmu. Anggap aja tadi adalah pertemuan terakhir kita. Karna sebentar lagi aku akan menikah dengan Jerry'


"Kok mukanya jadi sedih gitu..?"


"Nggak kok. Ya udah ya, aku mau berangkat kerja dulu..." Anna memutuskan sambungan telponnya.

__ADS_1


Anna kemudian meraih syalnya dan melilitkannya di lehernya. Anna harus segera berangkat ke butik sekarang, jika tetap berada di rumah hanya akan membuatnya bersedih hati.


__ADS_2