Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Anna pergi


__ADS_3

Baru beberapa jam Anna tertidur, tiba-tiba dia terbangun karna mimpi buruk. Keringat dingin membasahi tubuhnya, dan jantungnya berdetak sangat cepat seakan mimpi itu begitu nyata. Di dalam mimpi itu Anna sedang berada di sebuah taman yang begitu indah. Tak lama kemudian terlihat papa dan mamanya menghampirinya dengan pakaian serba putih. Mereka bergandengan tangan dengan senyum yang menghiasi wajah mereka. Anna sangat bahagia, karna bisa bertemu mamanya lagi.


"Mama..., papa...." Anna ingin memeluk kedua orangtuanya itu, namun seperti ada sesuatu yang menghalanginya sehingga Anna tak bisa menggapainya.


"Ma, pa..., Anna rindu.." Anna mengulurkan tangannya. Airmatanya kini membasahi pipinya.


Lagi-lagi mereka hanya tersenyum tanpa bicara sepatahkatapun. Setelah itu mereka tiba-tiba menghilang meninggalkan Anna sendiri.


"Papa... mama.., jangan tinggalin Anna..." teriak Anna sambil menangis.


"Papa, mama.." Anna langsung bangun. Dadanya naik turun seiring nafasnya yang tidak teratur.


Anna menatap sekelilingnya "Ternyata aku cuma mimpi.."


Anna segera turun dari ranjang, karna kerongkongan nya terasa kering. Anna lalu menuju dapur untuk mengambil minum. Ketika melawati ruang Tv, Anna melihat bik Sri yang tengah asyik menonton.


"Bik, bibik belum tidur ya..?" tanya Anna.


"Ehh non udah bangun..? Belum non, bibik lagi nonton acara pertunangannya anak pengusaha terkenal non. Pestanya benar-benar mewah lo non, artis terkenal mah kalah..." ucap bik Sri dengan senyumnya.


Anna hanya tersenyum, dan langsung menuju dapur. Anna tau yang di maksud bik Sri adalah pesta pertunangannya Elsa. Karna memang keluarga Elsa memiliki sebuah stasiun televisi swasta.


"Apa non lapar...? bibik siapin makan ya..."


"Nggak bik, cuma mo ambil minum aja..." Anna lalu menuangkan air ke dalam gelasnya dan meminumnya sampai habis. Setelah itu Anna pun duduk di sofa, dimana bik Sri sedang menonton. Rasa kantuknya tiba-tiba hilang begitu saja.


"Mas Rayyan belum pulang ya bik...?" tanya Anna sambil melirik TV sekilas. Anna sama sekali tak berniat menonton acara itu. Bukan karna masih ada rasa, namun Anna merasa itu tidaklah penting baginya. Seandainya bik Sri tidak seantusias itu, mungkin Anna sudah mengganti channel TVnya.


"Belum non.. Emangnya pak Rayyan kemana non...?"


"Kerja bik..." jawab Anna sambil mengecek ponselnya. Ternyata begitu banyak pesan masuk dari Jerry. Jerry menagih janjinya untuk mengajak Anna keluar. Entah kenapa Jerry begitu nekat, padahal dia tau Anna sudah bersuami.


Ketika acara pertukaran cincin berlangsung, bik Sri langsung sadar jika itu adalah Dewa. Sebelumnya tadi bik Sri tidak terlalu ngeh.


"Non, sepertinya bibik tau deh laki-laki itu. Bukannya itu den Dewa ya non..?" tanya bik Sri ragu-ragu.

__ADS_1


Anna tersenyum singkat. "Iya bik... Emangnya dari tadi bibik nggak tau...?"


"Nggak non... Bibik nggak ngeh soalnya.." bik Sri cengengesan.


Anna hanya menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya bik Sri tidak mengenali Dewa, padahal dulu Dewa begitu sering datang kerumahnya.


Tak lama kemudian, Anna mendengar sesuatu yang beda di acara itu. Entah kenapa Anna tergelitik untuk melihat TV. Terlihat Alfahri Sadiq sedang berdiri dengan gagahnya di panggung. Dan yang membuat Anna tertarik, ketika Alfahri mengumumkan jika sebenarnya dia punya anak selain Elsa. Anna menjadi sangat penasaran dengan sosok anaknya tersebut.


Namun bagai di sambar petir, ketika nama yang di sebut Alfahri adalah nama suaminya sendiri, dan dengan gagahnya laki-laki yang sangat di cintainya itu menaiki panggung dan berdiri di samping musuh keluarganya sendiri. Seketika jantung Anna bagai berhenti berdetak, dunia seakan berhenti berputar. Kepala Anna terasa pusing dan badannya seketika lemas tak berdaya.


"Mas Rayyan..." lirih Anna dan setelah itu Anna langsung tak sadarkan diri.


"Non Anna..." teriak bik Sri sambil menggoyang-goyangkan badan Anna. Wanita itu begitu panik melihat nona mudanya yang tak sadarkan diri.


"Non..., bangun non. Jangan buat bibik takut non..." bik Sri menangis.


Kemudian bik Sri langsung menelpon Rayyan, namun Rayyan sama sekali tak mengangkat telpon darinya. Bik Sri makin panik, dia tidak mungkin bisa membawa Anna kerumah sakit sendiri. Di tengah kepanikannya tiba-tiba dia melihat ponsel Anna berdering, dengan cepat bik Sri mengangkat telpon itu.


"Hallo..." jawab bik Sri dengan suara bergetar. "Tolong bantu non Anna, dia pingsan..."


Tak sampai sepuluh menit, Jerry pun langsung datang. Kebetulan tadi dia sedang berada tak jauh dari apartemen. Kemudian Jerry langsung mengangkat tubuh Anna dan membawanya ke rumah sakit.


****


Setelah mendapat perawatan, Anna pun langsung tersadar. Dia membuka matanya perlahan, dan orang pertama yang dia lihat adalah Jerry dan juga bik Sri.


"Aku di mana..?" tanya Anna lirih.


"Anna, kamu udah sadar...?" ucap Jerry senang. Kemudian Jerry langsung memanggil dokter.


"Non..., syukurlah non udah sadar..." bik Sri menghampiri Anna.


Anna mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, seketika dia langsung sadar jika dirinya sedang berada di rumah sakit.


"Kenapa aku bisa ada di sini bik..." tanya Anna.

__ADS_1


"Tadi non tiba-tiba pingsan..." jawab bik Sri.


'Aku pingsan..? kenapa aku bisa pingsan..? bukankah tadi aku sedang tidur? bahkan aku mimpi buruk sebanyak dua kali. Aku bermimpi tentang papa dan juga mas Rayyan'


'Mas Rayyan...' Seketika Anna tersadar jika itu bukanlah mimpi. Rayyan adalah anak dari Alfahri Sadiq yang sengaja menyembunyikan jati dirinya. Rayyan telah membohongi dirinya dan juga papanya. Seketika Anna langsung menangis. Hatinya benar-benar hancur sekarang.


"Non..." bik Sri juga tak kuasa menahan tangisnya.


Tak lama kemudian dokter pun datang memeriksa keadaan Anna. Tak ada yang perlu di cemaskan, kondisi Anna baik begitupun dengan janinnya. Namun karna Anna terus menangis, dokter pun menyarankan agar dia tenang. karna akan berdampak buruk pada tumbuh kembang janinnya. Anna pun seolah tidak mempedulikan ucapan dokter itu, dia terus menangis.


"An..., lo nggak boleh sedih terus. Emang lo nggak kasian ama anak lo..?" tanya Jerry. "Lo harus tenang An..."


Anna menarik nafasnya dalam, berusaha untuk tidak lagi menangis. Jerry benar, dia harus kuat demi bayinya. Kemudian dokter pun meninggalkan ruangan itu.


Dret.. dret... ponsel Anna tiba-tiba berdering. Tadi bik Sri memang sengaja membawa ponsel Anna, takut ada sesuatu yang penting.


"Aku tidak mau berbicara dengannya bik..." ucap Anna tanpa tau siapa yang menelponnya.


"Tapi non, ini nyonya Yasmin..."


"Tante Yasmin...?" Anna terkejut. Tak biasanya tante Yasmin menelponnya. Apalagi ini sudah hampir tengah malam, walaupun di sana masih sore.


"Sini bik..." Anna meminta ponselnya. Dan langsung menggeser tombol hijau di layar ponsel itu.


"Hallo tan..."


"An..., papamu sudah mengetahui tentang Rayyan. Dan papamu tiba-tiba mengalami serangan jantung. Kamu harus segera berangkat ke Jerman sekarang..." ucap tante Yasmin di ujung sana.


"Apa tan...? papa mengalami serangan jantung..?" lagi-lagi badan Anna terasa lemas. Dan air mata kembali menggenangi pipinya.


"Anna sekarang bukan waktunya untuk menangis. Kamu harus segera ke bandara sekarang juga, tante sudah menyewa privat jet untukmu..." tegas tante Yasmin di ujung sana.


"Baik tan.., aku akan segera ke bandara..." Anna lalu menutup telponnya, dan mencabut selang infus yang ada di tangannya.


****

__ADS_1


__ADS_2