
Akhirnya Rayyan bertemu pak Candra juga. Ternyata pak Candra masih berada di tempat itu, dan Rayyan pun meminta waktunya untuk berbicara empat mata.
"Ada apa Ray...?" tanya pak Candra. Sebenarnya pak Candra sudah bisa menebak tujuan Rayyan menemuinya. Karna Rayyan berada di tempat itu juga, sudah pasti tadi dia melihat Anna di sana.
"Pak..., aku mohon tolong pertemukan aku dengan Anna..." ucap Rayyan dengan wajah memohon.
Pak Candra menghirup nafasnya dalam, kemudian melepasnya secara perlahan.
"Rayyan, lupakan Anna..."
"Kenapa pak, apa karna Anna sudah menikah..? aku tau pak, aku hanya ingin menjelaskan semua yang terjadi kepadanya..."
"Itu nggak perlu Ray.. Tak ada gunanya lagi membahas tentang masa lalu. Kalian sudah punya kehidupan masing-masing..."
Seketika air mata Rayyan tampak jatuh di sudut pipinya.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya untuk terakhir kalinya pak. Aku janji nggak bakalan ganggu hidupnya lagi.."
Pak Candra begitu terenyuh melihat laki-laki yang ada di depannya itu. Laki-laki tegas yang sangat di segani dan juga di takuti lawan bisnisnya itu terlihat begitu rapuh dan juga hancur. Banyak sedikitnya pak Candra juga tau mengenai kehidupan laki-laki itu. Apalagi tentang rumah tangganya. Rayyan sama sekali tak terlihat bahagia.
"Sebenarnya Anna juga menginap di tempat yang sama denganmu. Resort itu adalah milik pak Rama.."
"Apa..?" Rayyan terbelalak kaget. Sungguh dia sama sekali tidak mengetahui tentang resort itu, dan yang paling mengejutkan lagi ternyata dari kemaren dia sangat dekat dengan Anna.
"Anna dan putrinya baru saja datang kemaren. Rencananya mereka akan menetap di sini, tapi sepertinya nggak jadi..." Pak Candra akhirnya berterus terang. Rasanya sangat berdosa membiarkan Rayyan tersiksa seperti itu, apalagi selama ini Rayyan begitu baik padanya dan banyak membantunya.
'Jadi Anna benar-benar sudah menikah dan punya anak?' Rayyan sangat kecewa.
'Padahal aku selalu meyakinkan diriku, jika Anna itu sebenarnya belum menikah dan tante Yasmin hanya berbohong waktu itu. Tapi ternyata aku salah, Anna benar-benar sudah menikah dan sudah bahagia dengan keluarga barunya'
__ADS_1
"Apa Anna juga datang bersama suaminya..?" tanya Rayyan. Mungkin Rayyan tak akan sanggup bila bertemu Anna dengan suaminya, hatinya pasti akan makin hancur.
"Suami...?" pak Candra mengerutkan keningnya. Perasaan kemaren Jerry mengatakan dirinya baru akan melamar Anna. Itupun kalau Anna nya setuju. Seketika pak Candra langsung sadar, jika selama ini Anna sengaja membohongi Rayyan dan mengatakan jika dirinya sudah menikah. Dan tidak seharusnya tadi dia memberitahu Rayyan yang sebenarnya.
"Oohh.. Anna hanya datang bersama anaknya untuk liburan. Jika kamu ingin menemuinya, sebaiknya kamu cari dia sekarang..."
"Baik pak, terima kasih atas bantuan bapak. Aku akan menemui Anna sekarang.."
Rayyan sedikit lega karna Anna tak datang bersama suaminya. Setidaknya dia akan lebih mudah menjelaskan semuanya.
Rayyan kemudian langsung bergegas menuju resort dan menuju resepsionis. Rayyan kemudian menanyakan kamar yang di tempati Anna, dan resepsionis itupun memberitahunya. Setelah itu Rayyan langsung menuju kamar yang di tempati Anna. Dan alangkah terkejutnya Rayyan, ternyata kamar itu kamar yang di datanginya semalam. Ternyata yang semalam itu memang benar suaranya Anna.
"Tok...tok..." Rayyan mengetok pintu itu.
Ceklet... pintu langsung terbuka. Dan lagi-lagi Rayyan terkejut karna yang membuka pintu itu adalah pengasuhnya anak yang di temuinya kemaren. Sudah di pastikan jika anak itu adalah anaknya Anna.
Seketika Rayyan langsung terpaku, jantungnya kembali berdetak kencang melihat gadis kecil yang ada di depannya itu. Ada apa semua ini..? jika dia adalah anaknya Anna dan suami barunya, tidak mungkin anaknya bisa sebesar ini sekarang. Jika Anna menikah tiga tahun lalu, kemungkinan sekarang anaknya masih berusia dua tahunan. Sedangkan anak yang ada di depannya itu sudah berusia tiga tahun lebih.
"Uppss.. telnyata bukan mommy..." Rayna menutup mulutnya dengan tangannya.
"Hai nana..." sapa Rayyan sambil tersenyum manis. Sungguh hatinya terasa pedih sekarang. Bisa jadi gadis kecil yang ada di depannya itu adalah putrinya sendiri.
"Hay uncle... Kok uncle bisa tau aku di sini..?"
"Iya tau..., kan uncle punya pintu ajaib.."
"Yeyy uncle hebat..." Rayna tertawa kegirangan.
"Oh ya, mommy Nana ada..? uncle mau bilang akan bawa Nana makan es krim..."
__ADS_1
"Mommy belum pulang uncle. Katanya lagi ada acala..." jawabnya polos. Ternyata Anna belum sampai di resort.
"Ma'af mbak, apa saya bisa minta tolong..?" tanya Rayyan pada Fitri.
"Tolong apa pak..?"
"Tolong telpon mommynya Rayna ya, tanyakan dia dimana sekarang..." Rayyan yakin jika dia yang menelpon dan meminta nomor Anna pada pengasuh itu, sudah pasti Anna tidak akan mau menjawab telponnya.
"Baik pak, tunggu sebentar..."
Fitri kemudian langsung menelpon Anna.
"Iya Fit, kenapa...?" jawab Anna di ujung sana. Suaranya terdengar lirih.
"Ma'af bu, ibu lagi dimana sekarang...? soalnya Rayna dari tadi nyariin ibu..." Fitri sepertinya bisa di ajak kerjasama tanpa di minta.
"Aku lagi di pantai, nggak jauh kok dari kamar kita. Tolong bawa Rayna kesini ya..?"
"Iya bu, saya akan membawa Rayna ke sana.." Fitri kemudian menutup sambungan telponnya.
"Bu Annanya lagi di pantai pak, aku di suruh bawa Rayna ke sana..."
"Ya udah ayo kita kesana.."
"Nana sayang, gendong uncle ya..." ujar Rayyan.
"Okey uncle..."
Rayyan kemudian berjongkok, dan Rayna pun naik ke bahunya. Sepanjang jalan mereka tampak bercanda, dan Rayna terlihat sangat bahagia. Mereka benar-benar seperti seorang ayah dan anak.
__ADS_1