
Rayyan begitu marah saat mengetahui orang suruhannya belum juga menemukan keberadaan Anna. Padahal dia sudah meminta orang suruhannya itu untuk melakukan cara apapun agar segera menemukan wanitanya itu. Namun tetap saja kata gagal yang di dapatnya.
Rayyan begitu frustasi, berkali-kali dia memukul stir mobilnya dengan kasar. Namun saat melewati supermarket yang ada di dekat apartementnya dia tidak sengaja melihat Anna turun dari mobil, dan Rayyan pun langsung menghentikan mobilnya dan masuk ke supermarket itu.
**
Tak sampai sepuluh menit Rayyan dan Anna kini sudah sampai di apartement. Dari tadi Anna tak ingin bicara, mulutnya seakan terkunci. Pikirannya benar-benar bercampur aduk sekarang, entah apa yang akan di lakukan laki-laki itu kepadanya. Dari tadi tangan Rayyan juga tak lepas menggenggam tangannya, sepertinya Rayyan sangat takut jika Anna akan kabur. Tak lama kemudian mereka pun sampai unit apartement Rayyan.
"Ayo masuk..." ujar Rayyan sambil menarik tangan Anna yang hanya mematung.
Seketika Anna langsung terkejut melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Ruangan apartement Rayyan sangat berantakan. Botol minuman berserakan di mana-mana, dan baunya begitu menyengat. Sementara di sudut lainnya tampak pecahan botol minuman berserakan di lantai.
'Astaga..., kenapa gini amat sih apartementnya' Anna menutup hidungnya dengan tangannya.
"Ma'af, aku lupa meminta orang membersihkannya.." ujar Rayyan merasa bersalah.
Anna tak menjawab, matanya nanar menatap setiap sudut ruangan itu. Ternyata tak ada yang berubah, masih sama seperti empat tahun lalu. Hanya ada satu foto yang terpajang di dinding yaitu foto Rayyan dan mamanya, dan tak ada foto pengantin seperti yang ada dalam pikirannya. Sepertinya Hazel juga tidak mungkin tinggal di sana.
__ADS_1
"Selama empat tahun ini hidupku benar-benar hancur dan berantakan. Hanya minuman itu yang bisa membuatku sedikit tenang dan melupakan masalahku. Aku merasa tak ada gunanya lagi hidup, tapi aku juga tak bisa mati sebelum aku menjelaskan semuanya padamu..."
Anna tersenyum sinis "Oh ya..? lalu bagaimana dengan istrimu Hazel, apa dia tidak berhasil membuatmu bahagia...?" sindir Anna.
Deg...
"Aku menikah dengan Hazel bukan karna keinginanku, aku bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istriku dan melakukan tugasku sebagai suaminya. Istriku hanya kamu An sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istriku..."
"Kita sudah bercerai, ingat itu...!" tegas Anna.
"Terserah kamu mau mengakuinya atau tidak, yang jelas kita sudah tak punya hubungan apa-apa lagi sekarang.." Anna kemudian ingin meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba kakinya terinjak sesuatu dan itu rasanya sangat perih. "Aw..." Anna meringis kesakitan. "Darah segar tampak mengalir di kakinya.."
"Astaga An, kamu terluka..." Rayyan panik. Dengan cepat dia mengangkat tubuh Anna dan membawanya ke kamar. "Jangan kemana-mana, tunggu di sini aku ambilin obat dulu..." Rayyan kemudian bergegas mencari kotak P3K.
Sementara di kamar Anna langsung menitikkan airmatanya. Bukan karna luka di kakinya, tapi karna melihat barang-barangnya masih tertata rapi di tempatnya. Dulu Anna memang tak membawa apa-apa saat meninggalkan apartement itu, karna kepergiannya begitu mendadak. Anna kemudian bangun dan berjalan perlahan menuju ke ruang walk in closet. Di sana juga semua pakaiannya masih tertata rapi di tempatnya. Tak ada yang berubah sedikitpun.
"Anna, kan aku dah bilang jangan kemana-mana.." ujar Rayyan yang tiba-tiba datang. Dia tau Anna masuk keruangan itu karna melihat bercak darah Anna di lantai.
__ADS_1
"Kenapa masih menyimpan barang-barangku mas..?" tanya Anna sambil menatap Rayyan lekat.
"Karna memang di situ tempatnya. Emangnya salah jika pakaian istriku berada di antara pakaianku..?"
"Kamu tu gila ya mas, aku bukan istrimu lagi. Dan kamu benar-benar nggak menghargai perasaan istri kamu..."
"Aku memang sudah gila An, dan itu karna kamu.." Rayyan lalu mendudukkan Anna dengan paksa di kursi yang ada di ruangan itu, kemudian mulai membersihkan lukanya.
"Udah nggak usah di obatin, aku mau pulang..." ujar Anna kesal. Dia ingin segera pergi dari tempat itu.
"Bisa diam nggak..?" ucap Rayyan dengan sorot mata tajam.
Anna tak berani berkutik, kemudian membiarkan Rayyan mengobati lukanya.
"Aku sudah meminta pengacaraku untuk mengurus perceraianku dengan Hazel. Dan aku rasa Hazel juga tidak rugi bercerai denganku, karna dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Lagian Hazel berhak bahagia dan menemukan laki-laki yang baik untuknya.."
Deg.. Anna terkejut. Anna tak menyangka jika Rayyan akan menceraikan Hazel. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya jika Rayyan benar-benar bercerai dengan Hazel.
__ADS_1