
Malam semakin larut namun Anna sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Sedangkan Ica sudah berkelana ke alam mimpi. Mungkin karna dia sangat kelelahan karna seharian menemani Anna.
Tok..tok..tok.. tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Non...non Anna..." panggil bik Inah dari luar.
Anna lalu bangun dan langsung membukakan pintu.
"Ada apa bik..?" tanya Anna.
"Di luar ada orang non, katanya nyariin non.."
"Nyariin aku bik...?" Anna menunjuk dirinya.
"Iya non..." bik Inah mengangguk.
Anna melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
'Siapa yang nyari aku malam-malam kesini? apa mungkin mas Rayyan? tapi mas Rayyan kan nggak tau rumahnya Ica. Terus siapa?'
__ADS_1
"Bik, kenapa di bukain sih pintunya..? inikan udah malam bik. Gimana kalau ternyata orang jahat..?
"Sepertinya bukan orang jahat kok non. Orang wajahnya tampan gitu. Kan bibik intip dulu lewat jendela..." ujar bik Inah dengan senyumnya. Bik Inah memang sangat gaul. Dia suka begadang untuk menonton film kesukaannya.
"Astaga bik.., orang jahat itu nggak bisa dinilai dari wajahnya bik.." Anna tak mengerti dengan jalan pikiran bik Inah. Kemudian dia segera turun kebawah untuk menemui orang itu.
"Dimana orangnya bik..?" bisik Anna setelah tak melihat ada orang di ruang tamu. Sebenarnya Anna sangat takut jika ketahuan mama dan papa Ica. Walaupun sedari tadi Anna tak melihat kedua orangtua sahabatnya itu berada di rumah.
"Tadi nunggu di luar non. Dia ngga mau masuk..."
Anna semakin penasaran, dan merasa sangat deg-degan juga. Kemudian Anna langsung menuju keluar, dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat Rayyan berada di depan matanya.
"Mas Rayyan..? kamu ngapain kesini..?"
"Aku nggak mau pulang. Dan tolong pergi dari sini sekarang. Aku nggak mau jika mama dan papa Ica kebangun gara-gara kita..."
Rayyan lalu menarik tangan Anna dan membawanya menuju taman kecil yang ada di depan rumah Ica.
"Lepasin tangan aku mas..." Anna memberontak.
__ADS_1
"Kamu tu kenapa sih An, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba berubah kayak gini. Salah aku apa An..?" Rayyan menatap Anna dengan tatapan penuh tanya. Sesungguhnya dia tidak mengerti kesalahannya.
"Mas jahat..!" hanya satu kata yang terucap dari bibir Anna. Sungguh Anna berharap jika apa yang di lihatnya tadi dan apa yang di dengarnya dari bu Lastri dan bu Wati tadi hanyalah mimpi.
"Jahat gimana sayang..?"
"Kenapa mas nggak jujur padaku..?" suara Anna bergetar. "Jika aku tau semua ini dari awal, aku nggak mungkin menjalani hubungan sejauh ini denganmu mas..." kini air mata Anna tak mampu di tahannya lagi.
"Sayang..." Rayyan kemudian ingin memeluk Anna, hatinya begitu sakit melihat istrinya menangis. Namun dengan cepat Anna menepisnya.
"Kenapa kamu harus menyembunyikan jati dirimu mas, kenapa nggak cerita dari awal jika kamu adalah anak dari pengusaha kaya dan sudah di jodohkan..?"
Deg... jantung Rayyan bagai berhenti berdetak. Dia tertunduk lesu. Apa yang di takutkan nya selama ini akhirnya terjadi juga. Anna mungkin sudah tau siapa dirinya.
"Kenapa hanya diam..? benarkan apa yang aku katakan..?"
"Aku jadi penasaran sekarang, sebenarnya siapa orangtuamu sesungguhnya. Jangan-jangan kamu adalah anak dari Alfahri Sadiq..." Entah kenapa Anna langsung teringat Alfahri Sadiq, padahal dia tau jika Fahri hanya mempunyai satu orang anak yaitu Elsa.
"Jika benar aku adalah anaknya Alfahri Sadiq apa yang akan kamu lakukan..?" tanya Rayyan.
__ADS_1
Anna menatap Rayyan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Yang pastinya aku tak akan pernah mema'afkan kamu, dan akan ku pastikan hidupmu akan hancur..." ucap Anna penuh kebencian.
****