Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Bersandiwara


__ADS_3

Kini Anna benar-benar sudah sangat lapar. Dia tidak bisa lagi menahannya. Cacing di dalam perutnya sudah berdemo sejak tadi. Anna kemudian bergegas menuju dapur, dia akan memasak apapun yang bisa di masaknya.


Tiba-tiba mata Anna tertuju pada sebungkus mie instan yang terletak di atas kulkas. Anna tersenyum senang, akhirnya dia tidak perlu lagi repot-repot masak. Karena sesungguhnya Anna masih trauma ketika waktu itu dia memasak telor ceplok yang hampir berakhir petaka. Untung waktu itu Rayyan cepat menolongnya.


Kini Anna hanya perlu merebus air sampai mendidih dan memasukkan mie itu ke dalamnya dan tak lupa juga menambah satu butir ke dalamnya. Tak lama kemudian mie buatan Anna pun jadi juga. Segera Anna memindahkannya ke dalam mangkok.


Lagi-lagi Anna tersenyum senang, dari wanginya aja sudah terasa sangat nikmat. Cacing di perut Anna sepertinya sudah tidak sabar lagi ingin mencicipi mie buatannya tersebut. Saking senangnya, Anna bersenandung sambil mengangkat mangkoknya ke meja makan. Namun tiba-tiba kaki Anna terpleset di lantai yang basah dan mangkok yang ada di tangannya pun terlepas.


Praaaaaang...


Mie di dalam mangkok itu tumpah ke lantai. Bukan hanya di lantai tapi juga di kaki Anna hingga Anna menjerit karna kakinya terasa panas.


"Aaaawwww..." Anna sangat kesakitan. Kulitnya langsung terlihat memerah.


"Aduuuhhh panas.., kakiku panas dan nyeri banget.." Anna menangis sambil mengipasi kakinya dengan telapak tangannya.


Anna tak bisa membiarkan kakinya melepuh, kemudian dia beringsut ke kamar mandi untuk mencari odol. Setelah itu Anna mengolesi seluruh permukaan kakinya yang memerah itu.


Anna kemudian membersihkan mie dan juga pecahan mangkok yang berserakan di lantai. Lagi-lagi Anna menangis pilu membayangkan nasibnya yang begitu tragis. Bahkan dia belum sempat mencicipi mie buatannya itu sedikitpun.


Setelah di rasa bersih Anna kembali ke kamar. Perutnya benar-benar terasa sakit sekarang. Bahkan kakinya juga terasa sangat nyeri. Lagi-lagi Anna hanya bisa menangis sambil meringkuk memegang perutnya. Tak lama kemudian Anna pun tertidur.


Tak seperti biasanya siang ini Rayyan memilih pulang ke rumah. Ada rasa bersalah karna tadi dia tidak menyiapkan sarapan untuk Anna. Rayyan melakukan itu supaya Anna bisa belajar mandiri dan tidak selalu bergantung pada dirinya. Namun rencananya itu malah membuat dirinya tak tenang dan selalu kepikiran istrinya itu. Rayyan pulang dengan membawa makanan dari restorannya yang merupakan kesukaan Anna.


Sesampainya di rumah Rayyan langsung membuka pintu karna memang dia punya kunci cadangan. Tak pernah dia meminta Anna untuk membukakan pintu untuknya. Apalagi belakangan ini Anna lebih banyak mengurung diri di kamar dan mengunci kamarnya. Ketika Rayyan masuk ke dalam rumah, dia melihat pintu kamar Anna yang terbuka.


'Kemana perginya Anna?'


Rayyan kemudian langsung masuk ke kamar untuk mengecek keberadaan Anna. Dan dia langsung melihat istrinya itu yang sedang tidur dengan posisi meringkuk dan tangannya memegang perutnya.


'Kenapa dia tidur seperti itu? apa dia sakit?'


Rayyan perlahan mendekati Anna. Dan tiba-tiba dia melihat kaki Anna yang terlihat memutih.

__ADS_1


'Kenapa dengan kakinya?'


Rayyan semakin mendekat untuk melihat secara jelas.


"Astaga.." dia langsung tau apa yang terjadi.


Segera Rayyan menelpon asistennya, dan dia sangat panik sekarang. Dengan sekali deringan langsung terdengar jawaban dari ujung sana.


'Iya tuan..'


"Dio, tolong bawa mobil ke rumah saya sekarang juga..!" teriak Rayyan.


'Rumah yang mana pak..?'


"Maksud saya kontrakan. Cepat, jangan banyak tanya..!" Rayyan langsung memutuskan sambungan telponnya.


Mendengar suara Rayyan yang teriak-teriak membuat Anna terbangun dari tidurnya. Perlahan Anna membuka matanya yang sudah membengkak.


"Kamu kenapa bisa gini An..?" tanya Rayyan khawatir.


"Tadi aku ketumpahan mie panas.." jawab Anna lirih.


"Astaga..., kenapa sih kamu ceroboh banget..?" bentak Rayyan. Karna saking paniknya dia pun tidak bisa mengontrol dirinya.


Anna kembali menangis. Harusnya Rayyan tidak memarahinya dan membentaknya. Dia juga tidak ingin ini terjadi.


Melihat Anna menangis Rayyan merasa sangat bersalah. Segera dia menarik Anna dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku minta ma'af ya, aku nggak bermaksud bentak kamu. Aku hanya khawatir sama kamu. Kita ke rumah sakit sekarang ya..." kini suara Rayyan terdengar sangat lembut.


Anna mengangkat kepalanya. "Nggak usah ke rumah sakit, aku nggak apa-apa kok. Lagian udah nggak sakit lagi..." tolak Anna.


"Nggak apa-apa gimana, kulit kamu bisa melepuh An..."

__ADS_1


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Itu mobilnya udah datang, kita ke rumah sakit sekarang..!"


Rayyan ingin menggendong Anna, namun Anna menolaknya dan berkata jika dia masih bisa jalan sendiri.


"Tuan, mobilnya sudah siap..." ucap Dio.


Anna mengernyitkan dahinya mendengar laki-laki itu memanggil Rayyan dengan sebutan tuan.


Sedangkan Rayyan langsung memplototi asistennya tersebut dan memberi kode supaya Dio tidak memanggilnya seperti itu di hadapan Anna.


"Maksud saya, mas mobilnya sudah siap.." Dio mengulangi ucapannya kembali sambil cengengesan. Panggilan mas lebih tepat karna umur Rayyan memang lebih tua darinya.


"Ya udah kita berangkat sekarang.." Rayyan memapah Anna menuju ke mobil.


Di dalam perjalanan hanya hening tanpa suara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Anna memilih melihat ke luar jendela. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat keindahan kota itu. Anna bagaikan baru keluar penjara sekarang. Matanya nanar menatap gedung-gedung pencakar langit yang berdiri megah itu.


Dio sesekali melirik bos dan istrinya itu di kaca spion. Mereka pasangan yang sangat serasi namun juga terlihat canggung tidak seperti pasangan lainnya. Dio juga tak habis pikir kenapa pak bosnya mau tinggal di kontrakan sempit seperti tadi karna setau Dio bosnya itu orang tajir dan juga memiliki apartement mewah. Dio pernah beberapa kali datang ke apartemen Rayyan untuk membawa berkas yang harus di periksa dan juga di tanda tangani. Dio sudah bekerja dengan Rayyan sejak restoran Ryn mulai di buka dan dia tau persis berapa penghasilan yang di dapatkan bosnya itu. Di tambah lagi sekarang bosnya juga sudah membuka cabang restoran yang baru. Dengan penghasilannya itu mungkin bosnya bisa membangun istana megah untuk istrinya itu.


Tak lama kemudian Dio pun membelokkan mobilnya pada sebuah rumah sakit yang sangat terkenal di kota itu. Rayyan kemudian langsung membawa Anna menuju ruangan dokter kulit dan meminta dokter untuk segera memeriksa kaki Anna.


"Bagaimana keadaan kaki istri saya dok..?" tanya Rayyan.


"Lukanya tidak terlalu parah. Nanti akan saya resepkan obat untuk pemulihannya.."


"Tolong berikan obat yang terbaik untuk istri saya dok.." pinta Rayyan.


"Baik pak..." jawab dokter itu sambil menulis resep untuk Anna.


****

__ADS_1


__ADS_2