
Rayyan baru saja selesai meeting dengan klien pentingnya. Saat ini dia sedang sibuk memeriksa berkas yang menumpuk di mejanya setelah sekian lama tak masuk kantor. Tak lama kemudian terlihat Hazel masuk keruangannya, dan langsung melemparkan sebuah amplop besar kehadapannya.
"Itu apa Ray..?" ujar Hazel dengan nafas yang memburu.
"Bisa ketuk pintu dulu nggak sebelum masuk keruangan orang, nggak sopan..!" ketus Rayyan. Rayyan tau maksud dan tujuan Hazel menemuinya dan membawa surat gugatan perceraian itu, karna wanita itu tak kan mau bercerai darinya sama seperti sebelumnya.
"Kamu nggak bisa ngecerain aku seenaknya Ray..! dan sampai kapanpun aku tak kan pernah setuju untuk cerai dari kamu...!"
Rayyan berdiri dari duduknya dan menatap Hazel penuh kebencian. "Dengan atau tanpa persetujuanmu, aku tetap akan menceraikanmu..!" tegasnya.
"Nggak bisa Ray..! Kamu nggak bisa ngecerain aku tanpa alasan yang jelas. Dan kamu terlalu mengada-ngada Ray, aku tidak pernah berselingkuh seperti yang kamu tuduhkan itu. Selama ini aku selalu setia dan selalu sabar menghadapi sikapmu yang nggak pernah menganggapku ada, karna aku sangat mencintaimu Ray. Dan aku selalu meyakinkan hatiku jika suatu saat nanti kamu akan berubah dan menerima aku..." ujar Hazel yang sudah tak kuasa lagi menahan airmatanya.
"Oh ya..? lalu Alex Alberto itu siapa..?" tanya Rayyan sambil menatap Hazel dengan tatapan membunuh. Selama ini dia tau semua apa yang sudah di lakukan Hazel di belakangnya. Namun Rayyan tak pernah ambil pusing, apalagi dia tidak pernah mencintai perempuan itu. Hazel juga di ketahui beberapa kali mentransfer uang perusahaan pada laki-laki yang bernama Alex itu tanpa sepengetahuannya.
Deg...
Hazel sangat terkejut karna Rayyan mengetahui tentang Alex pacarnya, seketika dia terdiam dan bingung harus menjawab apa. Hazel tak berfikir jika Rayyan diam-diam memperhatikannya.
"Kenapa diam...?" desak Rayyan.
"Alex itu teman aku saat masih kuliah di New York. Mama kamu juga tau kok kalau kami berteman.."
"Jangan bawa-bawa mamaku.." bentak Rayyan. Walaupun dia tau kedekatan Hazel dan mamanya saat tinggal di New York, tapi tetap saja Rayyan tak terima jika mamanya di bawa-bawa.
"Tapi itu benar Ray, dia itu cuma teman. Dan lagi jika aku ada hubungan dengannya, aku nggak mungkin menikah denganmu. Mamamu pasti tidak akan menyetujui hubungan kita..."
"Lalu ini apa..?" Rayyan mengeluarkan selembar foto dari lacinya dan melemparkannya ke wajah Hazel.
Deg... lagi-lagi Hazel sangat terkejut. Ternyata itu foto dirinya dan Alex saat berada di Bali. Di foto itu Alex sedang menggendongnya memasuki sebuah kamar hotel.
'Kok bisa sih..? jangan-jangan Rayyan menyuruh orang untuk membuntutiku'
Hazel benar-benar tidak menyadari jika suaminya itu mempunyai mata-mata dimana-mana. Dia kemudian langsung bersimpuh di kaki Rayyan. "Waktu itu aku di jebak Ray. Aku nggak sadar sama sekali karna aku sedang mabuk berat. Aku sangat frustasi karna sangat merindukanmu.." Hazel menangis terisak. Sebenarnya apa yang di katakannya itu tidak benar sama sekali. Saat itu dia tidak mabuk, dan Alex memang sengaja menggendongnya.
Rayyan tersenyum miring. Terlihat jelas Hazel membohonginya. Selama ini mereka jarang bersama, bagaimana mungkin Hazel tiba-tiba sangat merindukannya hingga menyusulnya ke Bali.
__ADS_1
"Udahlah Zel..., memang sebaiknya kita bercerai. Kamu nggak capek apa ngejalani hubungan sembunyi-sembunyi seperti itu? lebih baik aku membebaskanmu untuk menjalani hidup seperti yang kamu inginkan. Dan lagi selama ini kita sudah terlalu banyak membuang waktu dengan sia-sia dalam menjalani hubungan yang nggak jelas ujungnya. Kamu juga tau aku tidak akan pernah bisa mencintaimu. Kita menikah hanya karna terpaksa.."
"Nggak Ray.. nggak..." Hazel mengeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menangis.
"Kamu tenang aja, aku akan memberikan kompensasi yang cukup besar untukmu karna sudah menjadi istriku selama ini. Dan satu lagi mulai besok kamu nggak perlu lagi datang ke kantor ini, aku sudah memecat mu..!" Rayyan pun kemudian langsung meninggalkan ruangan itu.
Sementara Hazel masih terduduk di lantai, tubuhnya gemetar, dan dia tidak menyangka jika kali ini Rayyan benar-benar menceraikannya dan mendepaknya dari perusahaan.
***
Setelah dari kantor, Rayyan pun langsung menuju ke sekolah Rayna. Rasanya sudah tak sabar lagi ingin menghabiskan waktu bersama putrinya itu. Saat sedang memarkirkan mobilnya, Rayyan tidak sengaja melihat Anna wanita yang sangat di cintainya sedang berada di pelukan laki-laki lain. Seketika wajah Rayyan memerah dan hatinya terasa sakit. Anna benar-benar sudah melupakannya dan menemukan penggantinya.
"Daddy...." terdengar teriakan Rayna memanggil kaki-laki itu sambil berlari kegirangan.
Hati Rayyan benar-benar hancur, harusnya dirinyalah yang di panggil dengan sebutan itu, bukan laki-laki yang bukan ayah kandungnya.
"Haii baby...." laki-laki itu langsung menyambut putrinya dengan tangan terbuka dan langsung menggendongnya. Rayna juga terlihat sangat bahagia.
Kepala Rayyan terasa panas, dia tidak tahan melihat pemandangan di depan matanya itu. Harusnya dia lah yang berada di posisi itu.
Namun tiba-tiba Rayyan teringat sesuatu, laki-laki itu sepertinya tidak asing baginya. Tapi dimana dia melihatnya. Kemudian Rayyan langsung sadar, jika laki-laki itulah yang dulu mendekati istrinya. Dan Rayyan langsung berfikir jika laki-laki juga yang sudah membuat Anna pergi meninggalkannya.
"Daddy, I miss you..." ucap Rayna manja.
"Miss you too, baby..." Jerry mencium kening Rayna. "Daddy ada sesuatu buat Rayna..."
"Oh ya..?"
Jerry kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang berisi boneka barbie kesukaan Rayna.
"Tadaa...." Jerry memberikannya kepada Rayna.
"Woooow barbie... I like barbie..." Rayna senang. "Thank you dad..."
"Sama-sama sayang.."
__ADS_1
"Ya udah kita pulang yuk..." ucap Anna.
"No mommy...! aku mau nungguin uncle baik. Kan mau beli es clim sama uncle baik..." ujar Rayna.
"Uncle baik...?" Jerry langsung melirik ke arah Anna seakan meminta jawaban, namun Anna hanya mengedikkan bahunya.
"Beli es creamnya sama mommy aja ya sayang..." bujuk Anna.
"No...!" Rayna tetap tidak mau.
"Gimana kalau sama daddy...?" tawar Jerry.
"Kamu bukan ayahnya, jangan pernah mengajarinya untuk memanggilmu dengan sebutan itu..." ucap Rayyan yang tiba-tiba datang.
'Mas Rayyan..?' Anna terkejut.
"Uncle...?" Rayna langsung menghampiri Rayyan.
"Ooo... jadi ini uncle baik yang di maksud Rayna..?" tanya Jerry sambil menatap Rayyan.
"Kenapa...? sudah merasa jadi ayahnya karna di panggil daddy..?" ucap Rayyan dengan tatapan tajamnya.
Jerry menyeringai. "Tentunya dong, karna aku memang ayahnya.."
Plaaakkk.... satu pukulan mendarat di pipi kiri Jerry hingga membuatnya jatuh tersungkur.
"Mas, hentikan...!" Anna langsung menahan tangan Rayyan ketika Rayyan ingin memukul Jerry kembali. "Kamu nggak sadar ya, di sini tu ada Rayna..." ujar Anna yang sudah tak kuasa lagi menahan tangisnya.
"Mommy..." Rayna langsung memeluk kaki Anna sambil menangis. Dia terlihat sangat ketakutan.
"Rayna...." Rayyan ingin menenangkan Rayna, namun tangan Anna menghalanginya.
"Jangan sentuh dia, pergi dari sini sekarang..."
Akhirnya Rayyan pun pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa penyesalan dan hati yang hancur
__ADS_1
***