
Seminggu berlalu
Kaki Anna kini sudah sembuh dan sudah bisa jalan seperti biasa. Anna senang akhirnya dia bisa menjalani aktifitasnya seperti biasa. Banyak pekerjaan yang harus di kerjakannya di butik. Setelah mengantar Rayna kesekolah, Anna langsung menuju butiknya. Jika saja Rayyan tau dia pasti akan sangat marah, apalagi Anna mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir. Rayyan ingin Anna tetap istirahat di rumah untuk sementara waktu sampai benar-benar pulih.
Sesampainya di butik, Anna sangat terkejut melihat banyaknya perubahan yang terjadi di sana. Terutama ruangannya yang dulu berada di lantai atas, kini sudah di pindahkan kebawah. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ruangannya itu bukan seperti ruangan kerja, melainkan seperti kamar hotel. Semua perlengkapan lengkap disana seperti ranjang dengan ukuran king size, TV, sofa dan lainnya.
"Astaga..., kenapa ruanganku jadi kayak kamar hotel sih..? memangnya aku datang kesini untuk tidur? aku kesini untuk bekerja Arrayan Alfahri.." pekik Anna dalam hati.
Memang beberapa hari lalu Siska asistennya memberitahu jika Rayyan mengiriminya banyak barang kebutiknya. Lalu meminta orang suruhannya untuk berbenah di sana. Anna lalu menanyakan itu pada Rayyan, dan Rayyan hanya bilang memindahkan ruangannya kelantai bawah agar tak perlu naik turun tangga lagi. Sangat beresiko bila dia tiba-tiba kepeleset dan keseleo lagi. Anna Namun Anna tak menyangka jika perubahannya seperti ini.
"Semoga suka ya bu, dengan ruangan barunya..." ujar Siska sambil menahan tawanya.
Anna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Rayyan.
"Makin nyaman aja bu di butik kita. Banyak AC baru yang terpasang hingga terasa lebih dingin dan sejuk dari sebelumnya. Pengunjung kita juga makin ramai yang datang dan betah berlama-lama di sini memilih pakaian..."
"Ini namanya pemborosan Sis. Siap-siap aja tagihan listrik bulan depan yang mungkin dua kali lipat dari biasanya..." ujar Anna kesal.
"Iya juga sih bu..." Siska tersenyum kecil.
Ponsel Anna tiba-tiba berdering, dan di sana terlihat Rayyan memanggilnya.
__ADS_1
'Baru juga di omongin udah nelpon ni orang'
Dengan malas Anna pun menjawab telpon itu.
"Ada apa..?" jawab Anna jengah.
"Kamu ngapain datang ke butik? kan aku udah bilang istirahat dulu di rumah.." omel Rayyan di ujung sana.
'Kok dia bisa tau sih aku kesini..? kan aku nggak bilang'
Tanpa Anna sadari Rayyan telah menghubungkan Cctv dibutik itu ke ponselnya, termasuk Cctv yang ada di rumah Anna. Itu semua Rayyan lakukan agar dia bisa terus memantau anak dan istrinya walau sedang berada jauh sekalipun.
"Aku bosan di rumah terus. Yang ada aku bakalan kepikiran Jerry terus..."
"Apa...? jadi kamu masih mikirin Jerry...?"
"Mm..maksud aku..."
"Oke..., kalau gitu aku akan membuatmu melupakan laki-laki itu selamanya. Tunggu aku di sana..." nada suara Rayyan penuh ancaman.
Tut... sambungan telpon terputus.
__ADS_1
Seketika Anna terduduk di sisi ranjang itu, menyesali perkataannya tadi.
Tak sampai dua puluh menit Rayyan telah sampai di butik. Jangan ditanya berapa kecepatan yang digunakannya. Perjalanan yang harusnya ditempuh selama empat puluh menit dari kantornya ditempuhnya hanya dalam waktu dua puluh menit saja. Bagaimana tidak saat ini hatinya sedang terbakar cemburu.
"Apa yang sudah dilakukan laki-laki itu hingga kamu nggak bisa melupakannya...?" tanya Rayyan dengan suara beratnya.
Seketika Anna berdiri dari duduknya. Bulu kuduknya terasa meremang.
"Apa kamu tidur dengannya...?" sinis Rayyan.
Deg...
Seketika airmata Anna terjun bebas di sudut pipinya. Sungguh pertanyaan Rayyan sudah keterlaluan dan melukai hatinya. Selama ini dia menjalin hubungan yang sehat dengan Jerry, bahkan untuk bercium*n sekalipun Anna tak pernah melakukannya.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu...? aku bukan perempuan murahan mas..! Dan asal kamu tau, Jerry itu laki-laki baik-baik dan sangat menghormati aku. Hanya kamu yang memperlakukan aku seperti perempuan murah*n. Yang bebas kau sentuh padahal kau tau kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi.." ujar Anna penuh kebencian.
Rayyan lalu mendekati Anna dan memeluk tubuh Anna erat. "Ma'afin aku..."
"Lepasin aku..." Anna berontak. tangannya memukul-mukul dada bidang Rayyan.
"Aku nggak bermaksud melukai hati kamu An. Kamu nggak tau gimana perasaan aku setiap kali kamu menyebut nama itu. Aku bisa mati jika kamu terus seperti ini An..." lirih Rayyan dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Aku mencintaimu..."
Anna lalu memeluk Rayyan dengan airmata yang terus membasahi pipinya.