
Sudah seharian lebih Anna menunggu Rayyan di restoran itu bersama Icha. Namun suaminya itu belum kelihatan juga batang hidungnya. Anna sangat kesal karna tadi Rayyan bilang hanya sebentar.
Berbeda dengan Icha yang begitu menikmati suasana di sana. Dia sangat senang karna bisa makan sepuasnya dengan gratis. Jangankan sehari, setiap hari pun dia mau menemani Anna di sana. Apalagi dari tadi mereka di layani dengan sangat baik dan di suguhkan berbagai macam menu andalan yang ada di restoran itu.
"An, kok feeling gua mengatakan jika status mas Rayyan di sini bukan karyawan ya, melainkan pemilik restoran ini sendiri.." ucap Icha sambil mengunyah steak di mulutnya. Di restoran ini menu utamanya bukan seafood, melainkan BBQ serta makanan Amerika lainnya. "Coba deh lo pikirin mana ada istri karyawan di layani bak ratu oleh teman sesama karyawannya. Apalagi di suguhkan makanan berkelas kayak gini, yang ada lo bakal di pandang sinis ama mereka karna ikut suami kerja.."
Anna sebenarnya juga berpikiran seperti itu, namun Rayyan sendiri yang bilang jika dirinya hanya lah karyawan. Mungkin karna restoran itu milik temannya, makanya mereka di layani dengan baik.
"Lo udah pernah ketemu ownernya belum..?"
Anna menggelengkan kepalanya.. " Belum.."
"Nah kan..."
Tak lama kemudian Icha melihat seorang cowok tampan dengan stelan jas warna hitam berjalan cool ke arah mereka.
"An, itu bukan sih ownernya..?" tanya Icha dengan sorot matanya.
Anna membalikkan badannya dan ternyata Dio lah yang datang. Namun Anna tidak melihat suaminya bersama Dio.
"Gimana mbak Anna, apakah mbak Anna menikmati makanan di sini.." tanya Dio dengan senyum manisnya.
Anna tersenyum " Ummp.. makanan di sini semuanya enak..."
'Tampan banget sih' Icha.
"Oh ya, mas Rayyan mana..?" tanya Anna setelah memastikan Rayyan tak datang bersama Dio.
"Ohh mas Rayyan tadi menemani klien yang katanya mau keliling Jakarta. Maklum mbak, kliennya datang dari luar Negeri, pengen lebih tau tentang kota Jakarta katanya ..." jawab Dio lagi dengan senyum manisnya. Dio nggak tau aja kalau dari tadi Icha sudah kesemsem dengan ketampanannya yang tak sebanding dengan Rayyan itu.
"Ohh gitu.." tercetak jelas kekecewaan di wajah Anna.
"Kenapa nggak Dio aja sih yang nemenin klien, atau pemilik restoran ini. Kenapa juga harus mas Rayyan.Huuff.." kesal Anna dalam hati.
"Ya udah mbak, aku tinggal kebelakang dulu ya. Selamat menikmati hidangannya.."
"Iya makasih..." jawab Anna. Kemudian Dio pun meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Dio siapa sih An, kok lo bisa kenal..?" tanya Icha yang dari tadi sangat penasaran.
"Dia itu manager restoran ini.."
"Oohh tampan banget sih.. Udah punya pacar belum An..?" tanya Icha bersemangat. Sepertinya Icha benar-benar tertarik.
"Ya mana gua tau. Gua nggak sedekat itu kali sampai tau kehidupan pribadinya..." Anna sewot.
"Mana tau kan An mas Rayyan cerita ke lo kalau dia punya manager tampan yang masih single. Emang lo nggak kasian ama teman lo yang jomblo berkepanjangan ini.."
"Itu mah DL (derita lo).. " cibir Anna.
"Iisshh nyebelin banget sih lo An..."
Kemudian mereka pun makan dalam diam menghabiskan semua menu yang ada di meja mereka sampai tak tersisa sedikitpun.
Hujan deras mengiringi perjalanan dua insan yang dari tadi tak saling bicara. Sebenarnya Rayyan sudah mengajak Anna bicara dan meminta ma'af padanya namun Anna sama sekali tidak menanggapinya. Anna hanya diam sambil melihat ke luar jendela. Mereka tidak lagi pulang dengan menaiki motor karna hujan deras. Rayyan membawa mobil restoran.
Berkali-kali Rayyan mencuri pandang melalui kaca spion, walau lagi marah pun wajah Anna tetap terlihat cantik.
"An..."
"Sayang..., aku benar-benar minta ma'af. Aku nggak tau kalau tuan Dev bakal memintaku untuk menemaninya jalan-jalan. Aku nggak mungkin menolaknya, aku takut dia kecewa.."
"Jadi mas lebih memikirkan perasaan klien itu daripada perasaan aku..? aku lelah mas nungguin mas seharian..." Anna tak kuasa lagi menahan air matanya. "Kenapa tadi mas melarangku pergi bareng Icha, sementara mas juga pergi ninggalin aku..." Anna semakin terisak.
"Sayang..., udah dong jangan nangis. Aku jadi makin bersalah ni..." Rayyan memegang tangan Anna.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah. Anna segera turun dari mobil sambil hujan-hujanan. Padahal Rayyan sudah memintanya untuk menunggu mengambilkan payung.
Anna langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dan lagi-lagi Anna lupa membawa handuk karna tadi sudah basah-basah. Namun Rayyan sudah tau itu dan dia pun sudah mempersiapkan handuk untuk Anna dan berdiri di depan kamar mandi.
Tok...tok... "An, ini handuknya..."
Anna segera membukakan sedikit pintu dan berdiri di belakangnya. Hanya tangannya yang dia ulurkan untuk mengambil handuk itu.
"Makasih..." ucap Anna pelan kemudian dia menutup pintunya kembali. Walau sedang marah sekalipun Anna takkan lupa berterima kasih.
__ADS_1
Karna tadi Rayyan memakai payung, jadi bajunya tidak ikut basah. Rayyan duduk di sofa sambil menunggu Anna keluar dari kamar mandi. Dia tidak akan tenang sebelum istrinya itu mema'afkannya.
Tak lama kemudian Anna pun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang dia lilitkan di dada sampai setengah paha. Kulit putihnya benar-benar terekspos sekarang. Rayyan hanya bisa menelan salivanya, istrinya benar-benar sangat menggoda namun tak bisa di sentuhnya. Bahkan sampai saat ini mereka masih tidur terpisah.
Hacim...hacimm.. Anna bersin.
Haciiimmm... handuk Anna hampir saja melorot di depan Rayyan. Dengan cepat Anna menahannya dan buru-buru menuju kamar.
"Sepertinya aku flu gara-gara terkena hujan tadi. Aku kan nggak bisa kena hujan..." gumam Anna.
Karna Anna terus-terusan bersin Rayyan pun jadi khawatir. Rayyan kemudian mengambil kotak obat dan membawanya ke kamar. Untung sekarang Anna sudah memakai pakaiannya.
"Anna, sepertinya kamu flu. Minum obat dulu, biar nggak semakin menjadi-jadi..."
"Nggak usah.." Anna kemudian langsung berbaring di tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Jangan ngebantah. Aku nggak mau sakit..."
"Biarin aja aku sakit, emang apa pedulinya kamu..."
"Anna... cepetan bangun..." suara Rayyan mulai meninggi. Namun Anna sama sekali tidak bergerak.
"Oke.., kalau kamu nggak mau bangun dan minum obat aku bakalan tidur di sini.." Rayyan kemudian berbaring di samping Anna dan memeluk tubuh Anna erat.
"Mas apaan sih..?" Anna berontak.
"Kenapa..?" Rayyan menatap Anna lekat. Pandangan mereka beradu sekarang "Aku berhak atas tubuh ini karna tubuh ini adalah milikku.." Rayyan makin mempererat pelukannya.
Deg... jantung Anna seakan melompat dari tempatnya. Bahkan Rayyan pun bisa merasakannya karna dada mereka menempel sekarang.
'Aduuhh... mas Rayyan pliss jangan kayak gini'
Rayyan tersenyum jahil, kemudian dia mulai mendekatkan wajahnya. Anna hanya pasrah dan memejamkan matanya. Namun tiba-tiba saja Anna merasakan sesuatu yang tak bisa di tahannya lagi.
Haciimmm... Anna bersin ke wajah Rayyan.
****
__ADS_1
Selamat malam minggu guys, jangan lupa like dan rate bintang 5 ya. Makasih 😘