
Rayyan kini sedang berada di sebuah club malam, dimana dia selalu menghabiskan malamnya dengan mabuk-mabukan di sana. Kehidupan Rayyan berubah drastis sejak di tinggal Anna. Rayyan yang dulunya tidak menyukai minuman alkohol, kini bahkan tidak bisa jauh dari minuman itu. Namun walaupun begitu, Rayyan tak pernah bermain wanita. Bahkan tak ada wanita yang berani mendekatinya, apalagi merayunya. Karna sikapnya yang selalu kasar kepada setiap wanita.
"Anna, kamu di mana sayang..? aku merindukanmu sayang, sangat merindukanmu.." ucap Rayyan sambil merebahkan kepalanya di meja bar. Air mata membanjiri wajahnya. Sementara tangannya memukul-mukul meja itu. Rayyan terlihat putus asa. Rasanya tak ada gunanya lagi dia hidup. Terlalu banyak kesalahan yang telah dia lakukan sehingga dia harus kehilangan orang-orang yang di sayanginya. Istri, anak dan bahkan mamanya.
Flash back 4 tahun lalu.
Mama Ratih sangat syok mengetahui putra satu-satunya telah menikah dan akan memiliki seorang anak tanpa memberitahunya. Mama Ratih jatuh pingsan dan harus di larikan ke rumah sakit. Begitu lama mama Ratih tak sadarkan diri, hingga harus di rawat di ruangan ICU. Rayyan begitu panik, yang dia pikirkan sekarang hanyalah keselamatan mamanya. Hingga Rayyan melupakan tentang Anna, yang mungkin saja Anna sudah mengetahui siapa dirinya. Rayyan bahkan tak pulang semalaman, karna harus menunggu mamanya di rumah sakit. Dia tidak sendiri melainkan di temani om Steve. Sedangkan Alfahri hanya datang sebentar, itupun tanpa sepengetahuan istrinya.
Om Steve menceritakan banyak hal kepada Rayyan. Dan Rayyan sangat syok mengetahui tentang mamanya. Ternyata selama ini mama Ratih mengidap kangker otak stadium akhir. Dan dokter bilang umurnya sudah tak lama lagi. Tak ada yang mengetahui itu selain om Steve. Bahkan Alfahri sendiri pun tidak tau. Mama Ratih meminta om Steve merahasiakan itu dari siapapun. Termasuk Rayyan. Dan yang membuat Rayyan terpukul, selama ini dia membiarkan mamanya hidup sendiri dalam keadaan sakit parah. Bahkan Rayyan sendiri sangat jarang menanyakan kabar mamanya itu. Rayyan terlalu sibuk dengan ambisinya sehingga melupakan mamanya sendiri, wanita yang sangat mencintainya. Dia tak tau jika selama ini mamanya harus bolak balik di rawat di rumah sakit.
"Kenapa mama nggak pernah cerita tentang penyakitnya om..?" tanya Rayyan sambil menangis.
"Mamamu nggak mau membuat kamu khawatir Ray. Baginya kebahagiaan mu lah yang nomor satu. Asal kamu tau, saat Fahri menelponnya dan memintanya datang ke Indonesia dia sedang di rawat di rumah sakit. Waktu itu dokter tidak mengizinkannya untuk melakukan perjalanan jauh, karna sangat membahayakannya. Namun mamamu tetap nekat, dia begitu senang karna akan bertemu denganmu. Apalagi Fahri berkata akan mengungkapkan jati dirimu di depan publik. Itu adalah keinginan terbesar mamamu dari dulu..." Om Steve bercerita panjang lebar.
Fahri dan Ratih menikah tanpa persetujuan orangtua Fahri. Orang tua Fahri tidak setuju karna Ratih hanyalah seorang gadis yatim piatu. Sedangkan mereka sudah menjodohkan Fahri dengan Mirna. Namun Fahri sama sekali tidak mencintai Mirna, dia lalu menikahi Ratih secara diam-diam. Pada akhirnya orangtua Fahri pun mengetahui itu, dan dia sangat murka hingga meminta orang suruhannya untuk membunuh Ratih yang waktu itu sedang mengandung Rayyan. Fahri yang mengetahui itu langsung memboyong Ratih keluar Negeri dan menyembunyikannya di sana. Sejak saat itu pula Ratih tak pernah lagi pulang ke Indonesia.
"Terima kasih om, karna om sudah begitu baik kepada mama dan sudah banyak membantu mama..." ucap Rayyan.
Om Steve tersenyum. "Om malah senang bisa membantu mamamu Ray.."
Sebenarnya tanpa Ratih sadari, Steve memiliki perasaan yang lebih kepadanya. Namun Steve tidak ingin menodai persahabatan mereka. Baginya bisa selalu berada di samping Ratih sudah cukup membahagiakan. Apalagi ketika Fahri memintanya untuk menemani Ratih ke Indonesia dan berpura-pura menjadi suaminya, Steve juga tidak merasa keberatan sama sekali. Dia berjanji akan selalu mendampingi Ratih, hingga akhir usianya.
Setelah mama Ratih sadar, Rayyan pun langsung kembali ke apartement. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Anna dan menjelaskan semuanya. Namun setibanya di apartement, Rayyan tidak menemukan Anna di mana-mana.
"Sayang..., sayang..." panggil Rayyan sambil mencari Anna ke seluruh ruangan.
Kemudian terlihat bik Sri keluar dari kamarnya dengan menenteng tas di tangannya.
"Bik, Anna mana..?" tanya Rayyan panik.
"Non Anna..., non Anna pergi pak..." jawab bik Sri sambil menundukkan kepalanya.
"Pergi kemana bik..?"
"Bibik juga nggak tau pak. Non Anna tidak memberitahu bibik kemana dia akan pergi..."
Rayyan memegang kepalanya " Sejak kapan Anna pergi bik...?"
"Semalam pak.. Non Anna pergi setelah melihat bapak di TV..."
"Apa..?" Rayyan terkejut. Ternyata dugaannya benar, Anna sudah tau tentang dirinya.
__ADS_1
"Oh ya pak, bibik juga pamit mau pulang kampung.."
"Tapi kenapa bik..?"
"Bibik hanya ingin istirahat kerja pak, karna bibik sudah tua..." bik Sri beralasan. Seandainya Rayyan tau jika bik Sri muak melihat dirinya, karna sudah menyakiti nona mudanya dan juga membuat tuannya jatuh sakit.
"Jika bibik pergi, gimana dengan Anna bik...?" Rayyan masih tidak tau jika Anna sudah pergi jauh. Rayyan berpikir jika Anna mungkin pergi ke tempat Icha seperti sebelumnya.
"Bibik sudah memberitahu non Anna sebelumnya dan non Anna mengizinkannya. Ya udah pak, kalau gitu bibik berangkat dulu. Takut ketinggalan bis..."
"Tunggu bik... " Rayyan lalu mengeluarkan dompetnya, dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada bik Sri. "Ini buat ongkos dan juga keperluan di jalan ya bik. Gaji dan bonus lainnya nanti aku transfer..." ucap Rayyan yang memang tidak mempunyai banyak uang kes di dompetnya.
"Terima kasih pak..."
"Sama-sama bik, dan hati-hati di jalan..."
Bik Sri kemudian meninggalkan apartement itu.
Rayyan mencarger ponselnya yang mati dari semalam karna kehabisan batrai. Lalu Rayyan menekan tombol On dan langsung menghubungi Anna.
Nomor yang Anda tuju tidak dapat di hubungi
Hanya suara itu saja yang terdengar ketika Rayyan menghubungi Anna.
Rayyan lalu menghubungi Ica, namun Ica sama sekali tak mengangkat telpon darinya. Rayyan pun langsung menuju ke rumah Ica. Sesampainya di sana, Ica langsung menyambutnya dengan wajah marah. Dia bahkan tidak mempersilahkan Rayyan untuk masuk.
"Mau ngapain mas ke sini..?" tanya Ica sambil berdiri di pintu.
"Anna di sini kan Ca..?" wajah Rayyan terlihat berharap.
Ica tersenyum sinis "Untuk apa lagi mas mencarinya, setelah apa yang mas lakukan kepadanya..?" Ica menyaksikan sendiri Rayyan di pesta itu, dan hatinya juga terasa sakit. Ica juga sudah mengetahui kepergian Anna dari Jerry. Ica sangat sedih dan sangat terpukul atas kepergian sahabatnya itu. "Anna nggak ada di sini.."
"Jangan bohong Ca. Aku tau Anna ada di sini.." Rayyan langsung menerobos masuk ke rumah Ica. "Anna... Anna..." teriak Rayyan, namun tak terlihat Anna keluar dari sana.
"Aku sudah bilang Anna nggak ada di sini mas. Anna sudah pergi.." Ica sudah tak kuasa lagi menahan tangisnya.
"Tolong katakan, kemana Anna pergi..?" suara Rayyan bergetar.
"Aku juga nggak tau mas..."
Rayyan kemudian meninggalkan rumah Ica. Dia yakin Ica tidak berbohong, dan Anna tidak berada di sana. Rayyan lalu menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi. Dia akan mencari istrinya itu.
__ADS_1
"ARRRGGGHHH..." teriak Rayyan sambil memukul-mukul stir mobilnya.
Dua hari sudah Rayyan mencari Anna, namun tak membuahkan hasil apapun. Rayyan juga sudah mengerahkan orang suruhannya untuk mencari Anna hingga ke pelosok desa sekalipun namun usahanya hanya sia-sia.
Rayyan masih belum yakin jika Anna keluar Negeri menyusul papanya, mengingat semua dokumen Anna masih ada di apartement. Seperti pasport dan tanda pengenal lainnya. Anna memang tidak membawa apa-apa, karna kepergiannya yang sangat mendadak. Rayyan juga sudah menghubungi papa Rama dan tante Yasmin, namun tak ada jawaban yang di terimanya.
Karna tetap tak ada kabarnya, Rayyan pun akhirnya bertolak ke Jerman. Rayyan sudah mencaritahu tentang alamat tante Yasmin sebelumnya.
Sesampainya di kediaman tante Yasmin, Rayyan tak di sambut hangat oleh keluarga itu. Yang ada hanya kebencian yang dia rasakan.
"Mau ngapain kamu jauh-jauh datang kesini..?" tanya Yasmin sinis.
"Aku ingin bertemu Anna dan papa tan..." ucap Rayyan memohon.
"Tapi kamu tak kan pernah bertemu mereka lagi..."
"Aku mohon tan, izinkan aku bertemu mereka dan menjelaskan semuanya..."
Tante Yasmin mendengus dan membuang mukanya "Sudah terlambat Arrayan Alfahri..! Anna sudah tak mau melihatmu lagi. Sedangkan mas Rama, dia meninggal karena serangan jantung.." suara tante Yasmin bergetar. "Dan itu karna kamu...!" tunjuknya.
"Apa...? papa meninggal..?" seketika tubuh Rayyan bergetar hebat, dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Kenapa..? kamu terkejut..? Kamu tau kan mas Rama punya penyakit jantung..? Dan penyakit jantungnya kambuh setelah mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Orang kepercayaannya, ternyata yang membunuhnya..."
"Itu tidak mungkin, papa nggak mungkin meninggal kan tan...?" ujar Rayyan yang terduduk lemas di lantai. Air matanya terjun bebas di sudut pipinya. Bagaimana tidak Rama adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini...!" teriak Yasmin.
Rayyan lalu bersimpuh di kaki Yasmin " Tante, aku mohon. Tolong pertemukan aku dengan Anna. Aku ingin menjelaskan semuanya tan.." ujar Rayyan sambil menangis. Dirinya kini terlihat begitu rapuh dan tak berdaya.
"Ma'af Ray... Itu tak akan terjadi lagi, Anna sudah menghapus semua tentangmu.."
"Tapi itu nggak mungkin tan, walaupun Anna membenciku, tapi aku yakin dia masih mencintaiku. Sama seperti aku yang sangat mencintainya. Anna akan mengerti setelah aku menjelaskan semuanya tan. Aku mohon, jangan pisahkan kami. Aku ingin tetap bersama istri dan calon anakku..." lirihnya.
Tante Yasmin memejamkan matanya "Anakmu udah nggak ada. Anna mengalami keguguran setelah sampai di sini.." kali ini tante Yasmin berbohong. Karna kandungan Anna baik-baik aja. Memang harusnya di awal kehamilan tidak di perkenankan melakukan perjalanan jauh, mengingat janin dalam kandungannya masih lemah. Namun Anna mampu melewati itu.
"Anna keguguran...?" Rayyan syok, tubuhnya terasa lemas dan dia pun terduduk di lantai dengan air mata yang berlinang. Rayyan merasa separuh nyawanya telah hilang.
"AAARRRRRRHHHHHTTT..." teriakan Rayyan menggema di ruangan itu. Rasa penyesalan kian memenuhi rongga dadanya.
Flash back off
__ADS_1
****