
"Makasih..." ucap Anna setelah Rayyan membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.
"Ump..." Rayyan tersenyum. "Kalau butuh apa-apa bilang ya, aku mo nelpon dulu bentar..."
"Kamu nggak pulang..? inikan udah malam..."
"Pulang kemana..? kan udah di rumah sekarang..." Rayyan masa bodoh.
Anna langsung membrengut kesal "Udah kali becandanya. Ngeselin...!" Anna membuang wajahnya ke arah lain.
"Siapa yang bercanda sayang..? memang kenyataannya seperti itu. Dan lagi masa aku tega ninggalin istri aku yang lagi sakit..."
"Mas stop..! Berapa kali sih aku harus bilang, aku bukan istrimu lagi.." Anna benar-benar kesal sekarang.
"Ya udah kalau gitu kita nikah lagi besok, agar kamu menjadi istriku lagi. Aku akan meminta orang suruhanku untuk mengurus semuanya.."
Anna melototkan matanya "Kamu gila ya..? kamu pikir semudah itu..? jangan main-main sama pernikahan mas. Apalagi mas juga masih punya istri..."
"Aku nggak pernah main-main An, aku serius. Aku dan Hazel udah resmi bercerai. Jadi sekarang udah nggak ada lagi yang bisa ngalangin aku untuk rujuk kembali denganmu.."
Deg..
Seketika Anna langsung terdiam. Anna tidak menyangka jika Rayyan benar-benar menceraikan Hazel. Dan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Apakah Hazel akan menerimanya begitu saja? lalu bagaimana dengan Alfahri Sadiq, apakah laki-laki kejam itu juga setuju dengan keputusan putranya. Anna tak ingin berurusan lagi dengan keluarga itu dan mendapat masalah. Anna hanya ingin hidup tenang bersama putrinya.
Dreet... drettt... ponsel Rayyan tiba-tiba berdering. Dengan cepat Rayyan menempelkan benda pipih itu ketelinganya.
"Gimana Yo..? apa kamu sudah tau orang yang membuat Anna celaka...?"
"Udah pak..."
"Siapa...?" Rayyan tak sabaran.
"Mbak Icha sekretarisnya pak Haikal..."
"Apa...? Icha...?" Rayyan sangat terkejut karna setaunya Icha itu adalah sahabat dekatnya Anna dulu.
"Icha...?" Anna juga ikut terkejut. Anna benar-benar tidak tau siapa orang yang di tabraknya tadi, karna dia berjalan sambil menunduk agar orang lain tak melihatnya menangis.
"Sepertinya mbak Anna tidak sengaja menabraknya hingga membuat mbak Anna terjatuh. Dan mereka malah pergi gitu aja tanpa menolong mbak Anna..."
"Emang brengs*k tu Haikal. Dia tidak tau berurusan dengan siapa.." Rayyan terlihat sangat marah. Kemudian diapun langsung memutuskan sambungan telponnya.
__ADS_1
'Sepertinya aku harus memberimu pelajaran bro Haikal. Aku akan membuatmu mengemis meminta belas kasihan dariku..' Rayyan menyeringai.
"Icha siapa sih mas...?" tanya Anna yang daritadi penasaran.
"Kamu beneran nggak tau...?"
"Nggak..." Anna menggelengkan kepalanya.
"Aneh... kamu yang menabraknya masa nggak tau..."
"Kalau nggak mau ngasih tau ya udah..." rajuk Anna.
Rayyan tersenyum, Anna terlihat begitu menggemaskan saat sedang merajuk.
"Nggak usah senyum-senyum. Pulang sana, aku mau tidur..."
"Ya udah kalau gitu kamu istirahat ya.." Rayyan mengusap kepala Anna. Kemudian dia langsung meninggalkan kamar itu.
'Dasar tukang bohong. Katanya nggak mau ninggalin aku. Nyatanya malah pergi' Anna sedih.
Anna ingin memejamkan matanya agar bisa melupakan kesedihannya, namun dia sama sekali tidak bisa. Badannya terasa lengket dan lagi Anna masih belum mengganti pakaiannya.
'Mana bisa tidur kayak gini. Aku harus mandi dan mengganti bajuku'
"Aawww..." Anna meringis. "Nggak bisa. Masa aku harus pakai tongkat sih...? iiihhh ini semua karna mamanya Jerry..!" Anna mengeram.
Anna tak putus asa, dia mencoba berjalan kembali. Namun lagi-lagi dia meringis kesakitan.
'Pliss Anna, jangan manja. Kamu harus kuat, kamu harus sehat demi Rayna. Tak ada lagi yang bisa kamu andalkan sekarang'
Anna memejamkan matanya, dan mencoba berdiri kembali. Namun tiba-tiba Rayyan menghampirinya.
"Mau kemana sih...? kan aku udah bilang kalau ada apa-apa bilang.."
"Aku pikir kamu udah pergi..."
"Aku nggak bakal ninggalin kamu Anna. Tadi aku lagi nelpon bentar..."
"Nelpon siapa malam-malam gini...?" Anna menatap Rayyan penuh curiga.
"Teman..."
__ADS_1
"Teman cewek apa teman cowok..?" Anna bertanya ragu-ragu.
"Cewek.. emangnya kenapa...?" tiba-tiba Rayyan kepikiran untuk mengerjai Anna. Padahal dia hanya menelpon Haikal tadi.
"Nggak apa-apa..." wajah Anna langsung berubah cemberut.
Rayyan tersenyum, rasanya begitu puas melihat Anna yang terbakar cemburu. Itu berarti Anna juga mencintainya sama seperti dirinya.
"Ya udah lanjutin aja nelponnya. Kalau perlu temui orangnya langsung. Biar PUAS!"
"Kamu cemburu ya..?" goda Rayyan sambil menaikkan kedua alisnya.
"Nggak ah, siapa juga yang cemburu..."
"Udah ngaku aja..." Rayyan masih menggoda Anna.
"Kamu jahat, hikz...." Anna sudah tak kuasa lagi menahan tangisnya. Entah kenapa hatinya terasa panas.
"Hei sayang, aku cuma becanda. Beneran...!" Rayyan merasa bersalah.
"Nggak kamu bohong.." Anna masih menangis.
Rayyan kemudian menunjukkan panggilan keluarnya pada Anna. Dan di sana tertulis nama Haikal. "Tuh kan aku nggak bohong..."
Segera Anna menyeka airmatanya. Rasanya begitu puas melihat log panggilan di ponsel Rayyan yang kebanyakan namanya dan Dio.
"Awas aja jika mas membohongiku..." Anna mencebik.
"Siap di hukum permaisuriku..." ujar Rayyan dengan senyum manisnya. Dan itu membuat Anna tersipu malu.
"Sekarang katakan, apa yang ingin kamu lakukan..." tanya Rayyan.
"Aku pengen mandi. Soalnya nggak bisa tidur tanpa mandi. Tapi aku nggak bisa sendiri, bisa tolong panggilkan Fitri nggak..?"
"Fitri udah tidur, kasian kalau di bangunin..." Rayyan sok tau.
"Masa sih...? Fitri biasanya tidurnya malam terus loh..."
"Mungkin Fitri sangat lelah.."
"Ya udah kalau gitu nggak jadi..."
__ADS_1
Tanpa persetujuan Anna, Rayyan pun langsung mengangkat tubuh Anna dan membawanya ke kamar mandi.