
"Hah... Akhirnya sampai juga di Bali..." ujar Anna sambil meregangkan tangannya. Otot-ototnya terasa kaku setelah menempuh perjalanan jauh.
"Kamu senang..?" tanya Jerry.
Ummp... Anna mengangguk. "Dulu aku sering banget ikut papa ke sini, tapi sekarang papa udah nggak ada..." Anna tiba-tiba sedih.
"Yahh.. jangan sedih gitu dong. Ntar aku jadi nggak tega ninggalin kamu dan Rayna di sini.."
"Nggak kok.. Aku nggak sedih. Aku harus tetap tersenyum demi Rayna..." Anna tersenyum kembali.
"Nah gitu dong.. Seandainya aku bisa nemenin kalian liburan di sini. Sayangnya aku harus balik ke Jakarta.." Jerry memasang wajah kecewa.
"Kan cuma beberapa hari doang, nanti juga ketemu lagi di Jakarta.."
"Iya sih... Tapi tetap aja berat. Jangan lama-lama ya di sini, aku nggak bisa jauh-jauh nih dari Rayna.."
"Nggak bisa jauh-jauh dari Rayna apa nggak bisa jauh dari aku..?" goda Anna.
"Eemmpp..., dua-duanya sih.." Jerry tersenyum malu-malu.
Anna langsung tertawa..
Anna yang semula ingin menetap di Bali dan mengurus resort papanya tiba-tiba berubah pikiran. Dia akan kembali ke Jakarta dan akan membuka butik dengan brandnya sendiri di sana. Itu adalah keputusan yang tepat saat ini.
Anna juga akan belajar membuka hatinya untuk Jerry. Anna merasa sangat egois, karna hanya memikirkan dirinya sendiri. Seharusnya dia juga memikirkan perasaan Rayna. Selama ini Rayna begitu dekat dengan Jerry, mereka seperti tak terpisahkan. Sedangkan kini Jerry harus menetap di Jakarta untuk mengurus rumah sakit keluarganya. Papanya mulai sakit-sakitan dan udah nggak sanggup lagi mengurus rumah sakitnya. Jika Jerry tak mau, maka papanya terpaksa meminta keponakannya untuk mengurus rumah sakit itu.
Dan lagi sebentar lagi Rayna juga akan masuk sekolah. Anna nggak mau jika anaknya di ledekin teman-temannya karna nggak punya ayah. Rayna pasti sangat sedih.
__ADS_1
"Hai baby, are you oke..?" tanya Jerry pada Rayna. Bocah kecil itu tampak begitu kelelahan. Apalagi ini kali pertamanya terbang jauh.
'So tired daddy.." jawabnya manja.
Rayna memang memanggil Jerry dengan panggilan daddy. Padahal Anna sudah berulangkali mengajarinya agar memanggil Jerry dengan panggilan uncle.
"Aduu du.. kasian sekali baby gemesnya daddy. Ya udah, kita langsung ke resort ya, biar Rayna bisa istirahat.."
"Yay... tq dad..." Rayna senang.
Mereka kemudian langsung menaiki mobil yang dari tadi sudah menunggu di sana dan langsung menuju resort milik papa Rama.
Di saat yang sama Rayyan dan Dio juga telah sampai di Bali, dan mereka baru saja selesai meeting dengan klien.
"Yo, sepertinya aku akan tetap di sini hingga beberapa hari ke depan. Aku akan mengawasi sendiri jalannya proyek ini.." ujar Rayyan sambil membaca berkas di tangannya. Ternyata Rayyan juga menjalin kerja sama dengan pak Candra. Dan sekarang Rayyan juga sedang berada di resort milik papa Rama yang di kelola pak Candra.
"Baik pak..." Setelah itu Dio pun langsung meninggalkan bosnya untuk kembali ke Jakarta.
Rayyan mulai jenuh dengan berkas yang di bacanya. Kemudian dia pun menuju pantai yang ada di resort itu. Rayyan berdiri di sana, pandangan matanya lurus kedepan. Seketika wajah Anna kembali muncul di ingatannya. Dan itu membuat hatinya kembali sakit.
'Anna, begitu mudahnya kau melupakan aku' Rayyan menangis dalam hati.
"Ayo sus, kejal aku..." Rayna berlari-lari di tepi pantai dan dia sangat bahagia.
Sementara suster yang biasa mengasuhnya itu tampak sangat kewalahan mengejarnya.
"Rayna, jangan lari-lari ntar jatuh..." teriaknya.
__ADS_1
Namun Rayna tetap tidak mempedulikannya. Dan buuggg... Rayna menabrak tubuh Rayyan hingga membuatnya terjatuh.
"Aduuhh..."
"Astaga..." Rayyan terkejut. Dia pun langsung membantu Rayna untuk bangun.
"Kamu nggak apa-apa..?"
Duugg... jantung Rayyan tiba-tiba berdegup kencang saat melihat wajah Rayna. Wajah itu seperti tidak asing lagi baginya, tapi dimana dia melihat anak itu?
"Ma'af pak..." suster yang bernama Fitri itu pun langsung menarik Rayna dari tangan Rayyan.
"Kamu nggak apa-apa kan Na..?" Fitri panik. Kemudian dia memeriksa tubuh Rayna takutnya ada yang terluka.
"Kakinya berdarah..." ucap Rayyan.
"Astaga.., beneran berdarah.. Gimana ni, bu Anna pasti marah..." Fitri makin panik.
'Anna...' darah Rayyan berdesir.
"Nggak apa-apa sus, daddy aku kan doktel. Biar daddy aja yang ngobatin..."
"Tapi daddynya Rayna udah balik ke Jakarta.."
"Biar aku aja yang obatin. Di depan ada klinik..." ucap Rayyan.
"Makasih pak..." Fitri lega.
__ADS_1
Rayyan kemudian langsung menggendong Rayna menuju klinik. Entah kenapa hatinya terasa hangat, dan merasa sangat bahagia.