Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Kedatangan bik Sri


__ADS_3

Pagi ini Anna bangunnya kesiangan. Semalam Anna sengaja pulang larut malam, dia sengaja menghabiskan waktu bareng Icha nonton di bioskop. Namun Rayyan sama sekali tidak marah padanya. Bahkan Rayyan bersikap sangat baik seperti tak terjadi sesuatu.


Anna melirik jam weker di nakas yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dan Anna juga tidak melihat Rayyan di kamar itu, mungkin Rayyan sudah berangkat kerja karna hari ini adalah hari pertamanya bekerja di Star Light.


Anna kemudian bangun dan menuju jendela. Anna berdiri di sana sambil merentangkan tangannya. Suasana terasa begitu beda. Biasanya ketika bangun tidur dia akan mendengar suara burung bersahutan dan bertengger di atas pohon mangga di halaman kontrakan. Kini yang dia lihat hanya gedung-gedung pencakar langit yang tampak berdiri megah.


Anna kemudian menuju kamar mandi. Lagi-lagi suasana terasa begitu beda, di sini kamar mandinya begitu luas dengan segala perlengkapannya sama seperti di rumahnya dulu. Beda dengan kamar mandi yang ada di kontrakan, yang begitu sempit dan hanya di lengkapi bak mandi dan juga closet jongkok. Tak ada drama takut dingin lagi, sekarang hanya tinggal pencet tombol udah bisa mandi dengan air panas. Mungkin kini Anna sudah kembali lagi hidup mewah seperti dulu, namun entah kenapa dia merindukan suasana di kontrakan.


Kini Anna telah selesai mandi. Hari ini dia juga akan mulai bekerja di butiknya Intan. Namun Anna sama sekali tidak tau dimana baju-bajunya tersimpan. Yang jelas kata Rayyan semua pakaiannya sudah di pindahkan ke sini. Anna bingung harus mencari kemana, karna tak ada lemari pakaian di kamar itu.


"Dimana baju-bajuku..? katanya udah di pindahin semua kesini.." Anna terduduk di sisi ranjangnya dengan handuk yang masih melilit di badannya.


Tak lama kemudian Anna melihat sebuah pintu di sudut kamar, dan Anna pun langsung membuka pintu itu. Seketika dia terkejut, ternyata itu adalah ruangan walk-in closet yang begitu luas dan lengkap dengan koleksi pakaian yang tersusun rapi. Bukan hanya pakaian, namun juga tersedia sepatu serta jam tangan dengan berbagai model dengan merek ternama. Di sudut ruangan itu tersusun pula koleksi pakaian wanita yang lengkap dengan accecoris, ada juga koleksi tas, sepatu, dan tentunya dengan merek ternama juga.


"Apa semua ini..?"


Anna tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia yakin selama ini Rayyan membohonginya dengan berpura-pura miskin. Rayyan bilang tak sanggup membayar sewa apartement, sedangkan barang-barang dan pakaiannya masih tersimpan rapi di apartement ini. Dan juga sangat mustahil jika Rayyan masih bisa menempati apartement yang sama setelah di tinggal beberapa bulan. Dan lagi sewaktu pindah ke kontrakan Rayyan juga tidak banyak membawa pakaiannya.


Anna kemudian melihat secarik kertas yang di menempel di cermin meja rias ruangan itu lalu membacanya.


"Anna semua pakaian itu milik kamu. Pakailah.."


Anna tersenyum getir. "Kenapa kamu harus membohongiku mas..? berapa banyak lagi kebohongan yang kamu sembunyikan dariku..? apa bekerja di restoran itu juga pura-pura?"


Anna berjalan gontai menuju lemari pakaian, dan dia melihat beberapa pakaiannya terselip di sana. Pakaian yang ada di kontrakannya. Kemudian Anna meraih salah satu kaos warna putih dan juga celana jeans yang biasa di pakainya dan mengenakannya. Setelah itu Anna pun bersiap-siap untuk pergi tentu dengan suasana hati yang tidak baik.


Dan ketika Anna keluar dari kamar, alangkah terkejutnya dia melihat seseorang sedang sibuk menyiapkan makanan di meja makan. Seseorang yang sangat di kenalnya. Dia adalah bik Sri, wanita yang sudah mengabdikan separuh hidupnya untuk keluarganya, dan juga yang sudah merawatnya dari kecil.

__ADS_1


"Bik Sri...?" teriak Anna.


"Non Anna..."


Anna kemudian berlari ke arah bik Sri dan langsung memeluk wanita paruh baya itu.


"Bibik..., aku kangen banget..." Anna memeluk bik Sri erat. Sungguh dia sangat merindukan wanita itu.


"Bibi juga kangen banget ama non..." bik Sri membalas pelukan Anna, dia sampai meneteskan air mata saking terharunya.


"Bibik apa kabar..? kok bibik jadi kurusan gini..?"


"Bibik baik non, apalagi setelah ketemu non.." bik Sri tak mampu lagi menahan tangisnya. "Bibik tu sakit-sakitan selama di kampung non, bibik ingat non terus..." bik Ani tau permasalahan yang dihadapi majikannya.


Anna pun juga tak kuasa lagi menahan tangisnya "Aku juga selalu ingat bibik. Selama ini aku nggak tau bibik ada dimana. Hidupku berubah drastis sejak saat itu bik. Aku ingin mencari bibik, tapi aku nggak bisa.."


Bik Sri makin sedih mengingat kejadian itu, hari dimana dia berpisah dengan keluarga Anna. Sewaktu dia ingin pulang kampung, Rayyan berjanji akan membawanya ke Jakarta lagi.."


"Seminggu yang lalu pak Rayyan tiba-tiba nelpon bibik, katanya bibik di suruh ke Jakarta buat ngurus non lagi. Dan bibik sangat senang..."


"Makasih banyak ya bik..." Anna makin terharu.


"Semoga kita selalu sama-sama ya non. Bibik akan selalu ada untuk non..."


"Iya bik..." Anna kembali memeluk bik Sri.


"Oh ya tadi bibik bikin nasi goreng spesial buat non. Sekarang non makan ya..." bik Sri kemudian mengambil piring dan memasukkan nasi goreng itu kedalam piring.

__ADS_1


Anna kemudian duduk dan meraih piring yang berisi nasi goreng dan menyendokkannya ke mulutnya. Anna senang karna sekarang bisa makan nasi goreng buatan bik Sri lagi.


"Eummp.., enak banget bik..." puji Anna. Sudah lama dia tidak makan nasi goreng seenak itu.


"Makan yang banyak ya non..."


"Tentunya dong bik... Oh ya, bibik kapan datangnya..?"


"Kalau datang kesini sih tadi pagi non. Kalau datang ke Jakarta udah dari kemaren. Cuma bibik nginap dulu di rumah saudara bibik..."


"Oooo..., terus tadi ketemu mas Rayyan nggak...?"


"Iya ketemu.. Katanya non masih tidur. Bibik tadi sempat mikir kenapa non bangunnya kesiangan, kan non harus berangkat kuliah. Tapi kata pak Rayyan non sekarang lagi cuti kuliah.. Terus sekarang non mau pergi kemana..?"


"Aku..., aku mau pergi kerja bik..."


"Kerja non...?" bik Sri sepertinya sangat terkejut. "Emangnya non kerja dimana..?"


"Tapi bibik janji ya, jangan kasih tau siapa-siapa apalagi mas Rayyan. Aku kerja di butiknya sepupu Icha bik.."


"Tapi kenapa non harus kerja..?"


"Aku nggak mungkin selamanya bergantung pada mas Rayyan bik. Aku juga ingin punya penghasilan sendiri..."


"Jika mas Rayyan tau, bibik yakin dia nggak akan setuju non..."


"Makanya bik, tolong rahasiakan ini ya..."

__ADS_1


***


__ADS_2