Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Memanfaatkan keadaan


__ADS_3

Walau kondisi tubuhnya lagi lemah namun Anna tetap berangkat ke butik. Sebenarnya Ica daritadi sudah mengajaknya periksa kerumah sakit, tapi Anna tetap tidak mau dengan alasan dirinya hanya masuk angin biasa.


Setelah mengantarkan Anna ke butik, Ica pun langsung bergegas berangkat kuliah. Karna hari ini dia ada ujian.


Anna berjalan gontai masuk ke dalam butik. Ternyata Intan sudah menunggunya di sana.


"An, temenin kakak ke toko kain yuk, kakak mau beli bahan untuk gaun yang kamu desain kemaren..." ucap Intan bersemangat. Dia memang sudah menunggu Anna dari tadi.


"Oke..." Anna menganggukkan kepalanya.


"Ehh tunggu,, kok wajah kamu pucat gitu sih? kamu sakit ya..?" kak Intan memperhatikan wajah Anna dengan seksama.


"Nggak sakit kok kak, cuma muntah-muntah aja tadi, nggak tau kenapa..." Anna mengedikkan bahunya.


"Udah berobat belum..?"


"Belum sih kak, tapi sekarang udah baikan kok. Cuma masih agak lemes aja dikit, tapi nggak apa-apa.." ucap Anna sambil menampilkan senyumnya. Sebenarnya Anna juga ingin memilih sendiri bahan untuk gaunnya, karna dia ingin karyanya mendapat hasil yang sempurna sesuai keinginannya.


"Kalau gitu kamu butik aja ya, nggak usah ikut. Istirahat aja yang banyak, oke..."


"Terus kakak perginya ama siapa dong...?" Anna menjadi nggak enakan.


"Ya pergi sendiri.. Kan kakak juga udah biasa belanja sendiri. Ya udah kakak berangkat dulu ya... Da..." Intan melambaikan tangannya.


"Daa..." Anna juga melambaikan tangannya. "Hati-hati kak.." teriak Anna.


"Sip..." Intan memberi jempolnya.


Anna merasa sangat bersyukur bisa bertemu orang sebaik Intan. Intan sudah seperti kakak sendiri baginya. Begitu banyak pengalaman yang di dapatnya selama bekerja di sana. Intan selalu mengajarinya dan mengarahkannya agar menjadi desainer yang baik.

__ADS_1


Entah kenapa hari ini Anna benar-benar tidak bersemangat. Tak ada pekerjaan yang bisa di kerjakannya. Dari tadi dia hanya melamun sambil memikirkan Rayyan. Wajah Rayyan selalu terbayang di matanya. Hingga tanpa sengaja tangan Anna mulai melukis wajah Rayyan di kertas yang akan di gunakannya untuk mendesain pakaian. Semakin Anna membenci Rayyan, semakin pula dia tidak bisa melupakan suaminya itu.


"Arrrrggghhh... kenapa ingat dia terus sih? Anna ingat, dia itu pembohong, dia pengkhianat. Mungkin sekarang dia sedang bersama calon istrinya Hazel.." Anna bicara sendiri sambil melihat lukisan wajah Rayyan yang begitu tampan.


"Iiihhh dasar laki-laki jahat..." pekik Anna. Tangannya terangkat untuk mencoret-coret lukisan itu, tapi hatinya berkata jangan.


"Arrrrggggh...." Anna memukul-mukul meja.


Kriuk...kriuk.. tiba-tiba perut Anna berbunyi. Anna merasa sangat lapar, dari tadi tak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya karna selalu memaksa untuk keluar dan membuat perutnya kosong.


Anna bangun dari duduknya, dia akan pergi keluar untuk mencari makan. Namun ketika keluar dari ruangan Anna melihat Jerry masuk ke butik itu.


'Jerry, ngapain dia kesini..?'


"An..." panggil Jerry sambil melambaikan tangannya. Senyum manis terukir di wajah tampannya yang kata Ica sangat mirip dengan salah seorang idol K-pop terkenal. Jerry kemudian langsung menghampiri Anna.


"Gua baik-baik aja kok. Lo ngapain ke sini?"


"Ya mau liat lo lah. Kata Ica lo lagi sakit.."


'Iiiss dasar Ica ember. Ngapain sih dia cerita ke Jerry tentang keadaan gue' Anna kesal.


"Yok ke rumah sakit..." ajak Jerry.


"Nggak ahh, orang gua nggak sakit.."


"Bohong banget. Dari wajah lo aja udah keliatan kali kalau lo lagi sakit. Lo lupa ya kalau gua dokter..." Jerry membanggakan diri.


"Calon dokter..." cibir Anna.

__ADS_1


"Yeee sama aja kali..."


Kriuk... kriuk... perut Anna kembali bunyi. Dengan cepat Anna memegang perutnya berharap Jerry tak mendengarnya. Namun ternyata Jerry mendengarnya.


"Lo laper ya..?"


"Sepertinya..." jawab Anna sambil melihat kearah lain. Dia begitu malu sekarang.


"Sama berarti. Gua juga laper. Yuk kita makan..."


Anna mengangguk. Kemudian dia mengikuti Jerry, tentu saja setelah memberitahu temannya.


"Mau makan apa..?" tanya Jerry.


"Terserah..." jawab Anna.


Jerry kemudian membawa Anna menuju salah satu restoran mewah yang ada di kota itu. Restoran yang menjadi pilihan bagi orang-orang dari kalangan atas. Terlihat dari pengunjung yang ada di sana, mereka sangat berkelas.


"Jer, kita ngapain sih kesini..? lo nggak takut kalau misalnya kita ketemu calon mertua lo di sini..?" tanya Anna sambil melihat tamu-tamu yang kebanyakan mengenakan jas.


"Malah bagus dong. Kan dia nggak jadi jodohin gua dengan anaknya..." jawab Jerry santai.


"Tapi gua yang nggak enakan Jer. Ntar di kiranya gua yang kecentilan rebut calon suami orang..."


"Jangan mikir yang aneh-aneh.. Udah buruan makan, habisin ya..." goda Jerry.


Mereka kemudian makan dalam diam, menikmati setiap hidangan yang ada di sana. Mungkin karna lapar, Anna menghabiskan semua hidangan yang tersedia di meja mereka. Benar-benar begitu nikmat dan tidak membuat Anna mual sama sekali.


Setelah selesai makan, mereka pun pergi dari tempat itu. Ketika berjalan, kaki Anna tidak sengaja tergelincir dan dia hampir terjatuh. Dengan cepat Jerry pun menangkapnya tubuhnya seperti adegan di film-film. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memanfaatkan momen itu dan mengambil foto sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


__ADS_2