Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Bertemu Calon mertua


__ADS_3

Kini Rayyan telah sampai di kantornya setelah menghadiri meeting penting dengan kliennya di sebuah restoran. Senyum manis terpancar di wajah tampannya sehingga setiap karyawan yang melihatnya bertanya-tanya. Tak biasanya bos mereka itu terlihat begitu senang setelah beberapa tahun mereka bekerja di sana. Rayyan juga tak sungkan-sungkannya menyapa karyawannya, sungguh itu bukan seperti dirinya. Dio juga ikut merasa bahagia melihat perubahan itu. Dia sudah bekerja lama dengan bosnya itu, setelah di tinggal istrinya Anna baru kali ini dia melihat bosnya kembali bersemangat seperti dulu lagi. Sungguh Anna wanita yang luar biasa.


Sesampainya di ruangannya Rayyan sangat terkejut melihat papanya berada di ruangan itu sambil membaca buku di tangannya. Sudah lama sekali Rayyan tak bertemu laki-laki itu. Baginya mempunyai seorang papa atau tidak rasanya sama saja. Dia memang tak pernah dekat dengan papanya itu, apalagi dengan keluarganya. Hanya Elsa yang selalu berusaha mendekatinya dan mencoba selalu akrab dengannya.


"Hai Ray..." sapa papanya sambil menaruh buku di tangannya.


"Ada perlu apa papa kesini..?" tanya Rayyan tanpa basa-basi. Kemudian dia langsung duduk berhadapan dengan papanya itu.


"Ya mengunjungimu.. Karna semakin hari kita semakin jarang bertemu, dan terasa semakin jauh. Padahal kita tinggal di kota yang sama.." ujar Fahri dengan senyum tipisnya.


Rayyan tersenyum miring. Dia yakin laki-laki itu punya tujuan lain menemuinya.


Fahri kemudian berdiri dari duduknya dan menuju jendela "Semakin hari papa semakin sadar, jika di usia papa ini yang di butuhkan bukan harta dan kekuasaan. Melainkan kehangatan sebuah keluarga. Mempunyai cucu-cucu yang lucu dan bermain dengannya. Entah kapan papa bisa merasakan itu.." ucap Fahri dengan senyum getir.


"Kemaren Hazel datang kerumah, dia bilang kamu menceraikannya secara tiba-tiba, dan dia tidak bisa menerimanya. Papa hanya ingin tau kenapa kamu tiba-tiba menceraikannya..? tidakkah kamu berfikir untuk memperbaiki hubungan kalian dan hidup bahagia layaknya pasangan suami istri pada umumnya..?" Fahri menatap Rayyan lekat.


Rayyan tersenyum tipis, dia yakin ini pasti akan terjadi. "Sebenarnya bukan tiba-tiba sih pa, dari dulu aku juga sudah ingin menceraikannya. Karna sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa mencintainya.."


"Apa kamu masih mencintai Anna Rahardian...?" lagi-lagi papa Fahri menatap Rayyan lekat.


"Aku rasa Itu bukan urusan papa.."


"Sampai kapan kamu akan terus mengharapkan perempuan itu Ray..? kamu takkan pernah bisa mendapatkannya kembali. Jika dia memang mencintaimu dia takkan pernah pergi meninggalkanmu. Jadi lebih baik lupakan dia. Papa ingin kamu bahagia Ray..." Fahri sepertinya tidak tau jika Anna kini sudah kembali.


"Papa tenang aja. Aku sudah menemukan kebahagiaanku. Dan satu lagi, tolong jangan pernah ikut campur lagi dengan urusan pribadiku. Siapapun wanita yang mendampingiku nanti, itulah yang terbaik untukku..."


"Baiklah... semoga memang itu yang terbaik. Kalau gitu papa permisi dulu..."


Tak lama kemudian Fahri pun meninggalkan ruangan itu.


'Kali takkan ada yang bisa menyentuh anak dan istriku lagi' Rayyan mengepal tangannya kuat.


***


Tepat jam tujuh malam Jerry pun tiba di rumah Anna untuk menjemputnya. Anna terlihat sangat cantik dengan mengenakan gaun warna hitam selutut dan rambut panjangnya yang dia biarkan terurai. Tanda merah di lehernya pun tak terlihat lagi setelah dia melakukan berbagai cara untuk menutupinya.


Penampilan Anna benar-benar terlihat sempurna, dia bahkan tak terlihat seperti seorang wanita dengan anak satu, melainkan seperti seorang gadis remaja.


"Cantik banget sih An.." puji Jerry yang dari tadi tak berkedip menatapnya.

__ADS_1


"Emang selama ini nggak cantik ya..?"


"Cantik sih... Tapi cantikan yang ini...." ujar Jerry sambil menggelitik pinggang Rayna. Tampak gadis kecil tertawa renyah.


Setelah itu mereka pun langsung berangkat. Tak lupa membawa buah tangan yang sudah disiapkannya tadi. Sepanjang perjalanan Anna memilih diam. Dirinya merasa sangat cemas dan juga gugup karna ini adalah pertemuan pertamanya dengan keluarga Jerry. Sedangkan Jerry daritadi asyik mengobrol dengan Rayna sambil menyetir mobilnya.


"Jer...." panggil Anna.


"Kenapa An...?"


"Aku takut banget... Gimana jika nanti papa dan mamamu nggak menyukai aku dan Rayna..?" Anna menatap Jerry di sampingnya.


Jerry tersenyum, kemudian dia meraih tangan Anna dan menggenggamnya erat. "Kamu tenang aja ya. Mereka pasti menyukai apapun yang aku suka. Yang terpenting anaknya bahagia..."


Tak lama kemudian Jerry membelokkan mobilnya pada sebuah rumah besar nan sangat mewah. Anna tampak terkagum dia tidak menyangka jika Jerry itu benar-benar anak orang kaya.


"Kita dah sampai sayang..." ujar Jerry pada Rayna.


"Wooowww lumahnya daddy besal sekali..." Rayna juga ikut terkagum.


"Rayna suka...?"


"Ya udah, ayo masuk..."


"Yeeee...." Rayna tampak senang kemudian dia berlari masuk kedalam.


"Rayna..., tunggu....!" Anna sedikit berteriak.


"Nggak apa-apa An biarin aja. Kan rumah daddynya..."


"Bukan rumah kamu, tapi rumah orangtuamu..." sungut Anna.


"Sama aja kali.. Kan aku pewaris tunggal mereka.." ujar Jerry bangga.


Anna hanya mencebikkan bibirnya.


Sesampainya di dalam rumah itu Rayna melihat seekor kucing yang begitu lucu. Rayna pun ingin menangkapnya namun kucing itu langsung lari dan bersembunyi di balik guci yang ada di sudut ruang tamu itu.


Pus.. pus... panggil Rayna sambil berusaha mengambil kucing itu. Namun dia tidak sengaja menyentuh guci itu hingga terjatuh.

__ADS_1


PRAAAAAANG.... guci itu hancur berserakan di lantai.


"Astaga Rayna..." Anna sangat terkejut.


"Mommy....." Rayna langsung berlari kearah Anna dengan wajah ketakutan. Dia langsung membenamkan wajahnya di badan Anna.


Tak lama kemudian terlihat seorang wanita paruh baya menuju kesana, dan dia sangat terkejut melihat guci kesayangannya tiba-tiba hancur berserakan. "Astaga.., ini kenapa bisa pecah..?" ucapnya dengan wajah panik. Kemudian dia langsung menatap Anna penuh amarah.


"Ma'af tante.., tadi anak aku nggak sengaja ngejatuhinnya..." Anna merasa sangat bersalah.


"Kenapa kamu membiarkan anakmu menyentuh barang-barangku? kamu tau nggak ini guci mahal yang aku beli dari Swiss..."


"Ma, dia nggak sengaja ma..." tegas Jerry.


"Inilah alasan kenapa mama nggak pernah setuju kamu menjalin hubungan dengan seorang janda yang sudah memiliki anak. Karna kita tidak tau gimana cara dia mendidik anaknya..! lihatlah baru pertama kali datang kemari dia sudah membuat kekacauan di rumah kita..."


"Ma...." teriak Jerry.


Seketika air mata Anna langsung menetes di sudut pipinya, namun dengan cepat dia menyekanya. Ternyata apa yang dia takutkan selama ini terjadi juga. Bahkan mama Jerry secara terang-terangan menghina dirinya.


"Sekali lagi aku minta ma'af tante. Aku pasti akan mendidik anakku dengan baik untuk kedepannya..." ujar Anna.


"Baguslah.., semoga ini nggak terjadi lagi untuk selanjutnya..." mama Jerry kemudian langsung meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Anna lagi.


"Ma'afin mama aku ya An..." ujar Jerry merasa bersalah.


"Nggak apa-apa kok Jer. Aku seharusnya yang minta ma'af..."


"Mommy..., aku ingin pulang..." ujar Rayna takut.


Jerry kemudian berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Rayna. "sayang, kita pulangnya nanti ya. Sekarang main-main dulu di rumah daddy. Rayna mau main sama kucing ya..., daddy panggil kucingnya dulu ya..." bujuk Jerry.


"Nggak mau..." Rayna menggelengkan kepalanya "Aku mau pulang..."


"Jer, tolong anterin kita pulang ya. Mungkin bukan sekarang waktu yang tepat untuk berkenalan lebih dekat dengan keluargamu.."


"Tapi An..."


"Pliis Jer..."

__ADS_1


"Oke..." Jerry kemudian langsung mengantar Anna pulang.


__ADS_2