Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Rayna bertemu Elsa


__ADS_3

Kini Rayyan dan Rayna telah sampai di perusahaan Ryn group. Rayyan langsung membawa Rayna menuju ruangannya di lantai sepuluh menggunakan lift khusus. Rayyan tak ingin karyawannya melihat Rayna, karna bisa saja akan membahayakan putrinya itu.


"Rayna duduk sini ya..." ujar Rayyan sambil membawa Rayna duduk di sofa mewah yang ada di ruangannya.


"Oke dad..." ucap Rayna seraya duduk.


"Rayna mau makan apa..?"


"Ice cleam and bulgel..." jawab Rayna tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Oke, daddy pesan dulu ya..."


Rayyan kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya lalu menghubungi Dio.


"Yo, bawakan satu paket burger dan es cream ke ruangan saya..."


"Tapi pak, saya sedang di restoran sekarang.." jawab Dio di ujung sana.


"Ya bagus dong. Tiga puluh menit lagi burger itu harus sampai sini. Di hitung dari sekarang.." Rayyan lalu memutuskan sambungan telponnya.


Kemudian Rayyan menyalakan TV dan memutar film anak-anak agar Rayna tidak bosan menunggunya. Seandainya saja bukan karna ada berkas penting yang harus segera di tandatanganinya, Rayyan takkan mungkin datang ke kantor hari ini. Dia sudah berjanji akan menjaga Anna dan merawatnya selama Anna sakit. Setelah itu Rayyan langsung menuju singgasananya untuk memulai pekerjaannya.


Rayna kini sedang asyik menonton, sedangkan Rayyan juga sibuk dengan berkas di tangannya. Tiba-tiba saja Elsa datang dan langsung duduk di kursi seberang Rayyan.


"Bisa ketok pintu dulu nggak sebelum masuk ruangan orang...?" ucap Rayyan dengan wajah dinginnya.


"Sorry kak, lupa...." Elsa menampilkan senyum tanpa dosa.


"Ngapain kamu kesini..?"


"Ya mau ketemu kakak dong. Kan udah lama kita nggak ketemu..." lagi-lagi Elsa menjawab tanpa dosa seakan dia begitu dekat dengan kakaknya itu. Padahal selama ini Rayyan tak pernah bersikap baik padanya, apalagi Elsa juga sangat dekat dengan Hazel.


"Sekarang udah ketemu kan..? silahkan pergi dari sini..." usir Rayyan dengan tatapan tajamnya.


"Please kak, izinkan aku tetap disini. Aku nggak tau mau pergi kemana lagi.. Aku bosan kak di kantor. Apalagi papa selalu marahin aku, semua yang aku lakuin selalu salah di matanya..." ujar Elsa sedih.


Tanpa di jelaskan sekalipun Rayyan juga bisa melihat betapa Elsa sangat tertekan. Apalagi hubungan rumah tangganya dengan Dewa juga tidak berjalan baik. Itu semua karna papanya yang selalu ikut campur dan selalu menekannya terutama dalam masalah bisnis. Namun Rayyan juga tak ingin terlalu dekat dengannya. Walau bagaimanapun Elsa itu licik, sama seperti papanya.

__ADS_1


"Eiitts kok ada anak kecil sih kak..? anak siapa..?" Elsa akhirnya menyadari keberadaan Rayna.


"Bukan urusan kamu.. Cepat pergi..." Rayyan tak ingin Elsa mendekati putrinya.


Bukannya pergi Elsa malah menghampiri Rayna.


"Heyy baby..., namanya siapa...?" tanya Elsa sambil duduk di samping Rayna.


Rayna tak menjawab, dia hanya menatap Elsa tanpa ekspresi.


"Cantik amat sih..." Elsa mencubit pipi Rayna gemes. Elsa sepertinya sangat menyukai anak kecil. Apalagi sampai sekarang dia belum dikaruniai anak.


"Don't touch me..." ujar Rayna sambil menepis tangan Elsa.


"Iihh sombong amat sih..? Oh ya, ounty punya permen ni, kamu mau nggak..?" Elsa mencoba membujuk Rayna.


"No...!" Rayna menggelengkan kepalanya.


Seketika Rayyan langsung tertawa lepas. Dan itu membuat Elsa terkejut. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa melihat kakaknya itu tertawa. Rasanya sangat membahagiakan baginya.


"Masuk..." jawab Rayyan.


Seketika Dio muncul dengan nafas yang ngos-ngosan. Betapa tidak dia telat sepuluh menit dari waktu yang sudah di tetapkan bos besarnya itu. Untung saja tadi dia sedang berada di restoran jadi tidak menunggu lama untuk mendapatkan burgernya. Hanya saja dia harus mampir dulu untuk membeli es cream.


"Ini pak, burger dan es creamnya..." ucap Dio.


"Berikan itu kepada Rayna..." titah Rayyan.


'Jadi es cream sama burger ini untuk bos kecil? dia begitu menggemaskan..' batin Dio. Kemudian Dio membawa makanan itu ke meja Rayna.


"Yeay.., es clim sama bulgelnya udah datang. Thank you uncle.." ujar Rayna kegirangan.


"Sama-sama Rayna cantik..." Dio menampilkan senyum manisnya.


Dan itu membuat Elsa semakin penasaran..Siapa sebenarnya anak kecil ini, kenapa Rayyan dan Dio sangat menyayanginya.


"Dio, bantu aku buat mengecek kembali berkas ini..." titah Rayyan.

__ADS_1


"Baik pak..." Dio kemudian menghampiri bosnya itu.


Melihat Rayna begitu lahapnya makan burger membuat perut Elsa terasa lapar. Apalagi dia belum makan daritadi. Dan lagi Rayna sepertinya tidak akan sanggup menghabisi satu paket burger itu. Namun Elsa juga malu untuk memintanya, apalagi di sana ada Dio. Elsa hanya bisa menelan ludahnya.


"Aunty mau ya...?" tanya Rayna. Sepertinya anak kecil itu bisa melihatnya sendiri.


"Nggak kok.. Aunty masih kenyang..." tolak Elsa.


Kruk...kruk...


Perut Elsa tiba-tiba bunyi. Bahkan Rayyan dan Dio pun bisa mendengarnya. Dan itu membuat Elsa merasa malu. Ingin rasanya dia menghilang seketika dari tempat itu.


"Ini buat aunty.." Rayna lalu memberikan satu buah burger pada Elsa.


Dengan ragu-ragu Elsa pun mengambilnya. "Thank you Rayna..." ucap Elsa.


Sedangkan Rayyan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


*****


Dua jam sepertinya tidak cukup waktu bagi Anna untuk menceritakan semua tentang kehidupannya selama empat tahun ini kepada Icha. Termasuk hubungannya dengan Jerry.


"Jadi waktu itu lo abis nemuin mama Jerry di sana..?" tanya Icha sambil berbaring di samping Anna, menumpu kepalanya dengan satu tangannya.


"Ummp..." Anna mengangguk sambil matanya menatap langit-langit kamarnya dan mengingat kembali kejadian waktu itu. "Mama Jerry minta gua buat ngejauhin Jerry, karna Jerry itu udah di jodohin.." Anna menghela nafasnya dalam sebelum melanjutkan kembali ceritanya. "Mama Jerry juga nuduh gua kalau selama ini gua cuma manfa'atin Jerry doang agar ketika anak gua lahir dia punya ayah. Padahal gua sama sekali nggak pernah punya pikiran seperti itu.."


"Kok mamanya Jerry jahat banget sih An..? Jerry sendiri udah tau belum...?" Icha mulai geregetan.


"Nggak tau juga sih. Tapi semenjak itu Jerry benar-benar berubah Ca. Udah nggak pernah ngubungin gua lagi. Biasanya dia paling nggak bisa nahan diri buat nggak denger suara anak gua. Kapan pun dan dimanapun dia selalu nyempatin diri buat kasih kabar..."


"Lo yang sabar ya An. Mungkin memang bukan Jerry jodoh lo.."


"Tapi gua sedih Ca. Gua pengen hubungan gua dan Jerry berakhir dengan baik. Walau bagaimanapun Jerry punya peran penting dalam hidup gua dan anak gua selama empat tahun ini..." Anna tiba-tiba sedih.


"Apa lo mencintai Jerry...?"


**

__ADS_1


__ADS_2