Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Jangan menikah dengannya


__ADS_3

Pagi menjelang begitu cepat. Entah kenapa Anna merasakan sesuatu yang beda dari biasanya, tubuhnya tiba-tiba terasa susah di gerakkan. Perlahan Anna mulai membuka matanya, dan alangkah terkejutnya dia mengetahui sedang berada di dalam pelukan seseorang. Dan yang lebih mengejutkan lagi mereka berada dalam selimut yang sama.


Ingin rasanya Anna berteriak, namun seketika dia langsung tersadar dan teringat kejadian semalam.


'Aaaa..., kenapa sih aku bisa tidur disini?bodoh..bodoh..' Anna merutuki dirinya sendiri.


Anna kemudian ingin bangun, perlahan dia mulai memindahkan tangan Rayyan dari pinggangnya, namun usahanya ternyata tidak berhasil. Rayyan semakin mengeratkan pelukannya.


Dug... jantung Anna berpacu dengan cepat, bahkan mungkin Rayyan bisa merasakannya. Anna memejamkan matanya, tak kuasa menatap wajah Rayyan yang hanya berjarak beberapa centi saja darinya. Bahkan Anna bisa merasakan deru nafas Rayyan yang mengenai wajahnya. Namun entah kenapa tidak tercium aroma alkohol seperti semalam. Anna tak tau saja jika sebenarnya Rayyan sudah bangun terlebih dahulu dan membersihkan dirinya. Rayyan hanya berpura-pura tidur kembali karna tak tega meninggalkan Anna sendiri. Dan dia pun bisa puas memandangi wajah Anna yang sedang tidur lelap.


"Makasih karna kamu sudah merawatku semalam dan mengizinkan aku masuk.." ujar Rayyan tanpa membuka matanya. Namun belum sempat Anna membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara Jerry dari luar.


"Good morning baby..."


Seketika Anna langsung melototkan matanya, itu berarti sekarang sudah siang karna Jerry sudah datang untuk menjemput Rayna ke sekolah dan itu sudah menjadi kebiasaannya.


"Morning dad..." balas Rayna dengan senyumnya.


"Are you ready to go to school..?" tanya Jerry.

__ADS_1


"Yeah..., let's go..."


"Oke.., let's go.." Jerry meraih tangan Rayna.


"Oh ya Fit, Anna mana ya..?" tanya Jerry sambil mengedarkan pandangannya.


"Mmm..., ibu Anna sepertinya sudah berangkat ke butik pak..." jawab Fitri asal. Karna dari pagi dia memang belum ketemu majikannya itu.


"Oh ya.., sepagi ini..?" Jerry mengerutkan dahinya "Tapi kok mobilnya masih ada..?"


"Ohhh iyaa ya..." Fitri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mungkin naik taksi kali pak. Soalnya bu Anna kan nggak suka bawa mobil macet-macetan..."


Anna menatap kepergian putrinya dari balik jendela. Rasanya dia begitu lega, karna Jerry tidak curiga padanya. Tapi kemana perginya mobil Rayyan, kenapa tak terlihat lagi di depan rumahnya, padahal jelas-jelas semalam mang Asep yang membawa mobil itu masuk.


"Apa kamu sangat mencintainya..?" tanya Rayyan yang sudah berdiri di belakangnya.


Anna tak menjawab, pandangannya lurus ke depan menatap indahnya taman bunga yang ada di halaman rumahnya. Karna sesungguhnya Anna pun masih ragu dengan perasaannya dan juga keputusannya.


"Jangan menikah dengannya..!" ujar Rayyan sambil memeluk Anna dari belakang.

__ADS_1


Seketika Anna langsung membalikkan badannya, dan menatap Rayyan tak suka. "Kenapa aku tidak boleh menikah dengannya..?"


"Karna kamu istriku. Dan sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi istriku...!" tegas Rayyan.


Huuhh.. Anna tersenyum miring, kemudian melepaskan tangan Rayyan. "Kamu egois mas. Kamu nggak ngebolehin aku nikah dengan Jerry, tapi kamu sendiri juga menikah dengan Hazel. Dan itu sudah terjadi sejak lama. Di saat aku harus berjuang untuk bangkit kembali demi Rayna, kamu malah menikahi istrimu itu..." ujar Anna dengan suara bergetar. "Dan satu lagi aku bukan istrimu lagi..."


"Aku menikahi Hazel karna terpaksa An. Lagian aku melakukan itu karna kamu juga sudah menikah lagi. Aku pikir kamu benar-benar sudah melupakan aku..."


"Tapi aku tidak pernah menikah lagi mas. Kenapa mas begitu mudahnya percaya tanpa harus mencari bukti yang kuat..?"


"Saat itu aku juga hancur An. Kamu nggak tau gimana rasanya jadi aku. Kehilangan istri sekaligus kehilangan anakku karna kesalahanku sendiri. Aku hampir gila An. Bukan hampir gila, tapi mungkin sudah gila..!"


"Sudahlah mas, yang lalu biarlah berlalu. Kita hidup untuk masa depan bukan untuk masa lalu..." ujar Anna sambil melangkah pergi. Namun dengan cepat Rayyan menarik tangannya kembali, hingga membuat Anna menumbur dada bidangnya.


"Bagaimana jika masa depanku adalah kamu..?" tanya Rayyan sambil menatap manik mata Anna lekat.


Dug.... lagi-lagi jantung Anna berdetak sangat kuat saat manik mata mereka bertemu.


"Aku tidak main-main An, sampai kapanpun aku tak akan pernah membiarkan orang lain memilikimu. Karna kamu hanyalah milikku.." ujar Rayyan sambil mengec*p bibir Anna lembut.

__ADS_1


Karna tak ada penolakan Rayyan pun kembali menci*m bibir Anna lembut, menggigitnya dengan penuh kehangatan. Anna pun perlahan memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan lembut yang di berikan Rayyan. Sentuhan yang tidak pernah dia rasakan dari laki-laki manapun. Bahkan Jerry sendiri belum pernah menyentuhnya sedalam itu.


__ADS_2