
Rayna berlari kegirangan memasuki kamar Anna, segala kesedihan tampak lenyap seketika. Gadis kecil itu kini kembali ceria.
"Mih, Nana bolehkan ikut daddy kelja..?"
"Daddy..?" Anna terlonjak kaget. Bagaimana mungkin Jerry tiba-tiba datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Dan lagi sekarang ada Rayyan dirumahnya. Anna benar-benar takut jika Rayyan kembali memukuli Jerry seperti waktu itu.
"Hu'uh.. kata daddy di tempat keljanya banyak makanan enak mih..."
"Dimana daddy sekarang..?" Anna mulai panik.
"Tuh dia..." Rayna menunjuk Rayyan yang tiba-tiba muncul di balik pintu.
Deg...
'Mas Rayyan? jadi daddy yang dimaksud Rayna itu dia? kenapa Rayna memanggilnya daddy? apa mas Rayyan sudah memberitahu Rayna jika dia ayahnya..?'
"Mih..., boleh yah..?" Rayna merengek sambil menggoyang-goyangkan tangan Anna.
"Sayang, kenapa memanggil uncle dengan panggilan daddy...?" bisik Anna ketelinga Rayna.
"Daddy yang suluh mih. Daddy juga bilang akan tinggal disini belsama kita..."
Seketika Anna langsung menatap Rayyan dengan tatapan tajam. Bisa-bisanya Rayyan mempengaruhi putrinya. Sedangkan Rayyan hanya tersenyum seperti tak berdosa.
"Nana sayang..., Nana di rumah aja ya sama mommy. Nana nggak kasian apa ninggalin mommy sendiri..? mommy kan lagi sakit..." Anna berusaha membujuk Rayna dengan raut wajah menghiba. Karna walau bagaimanapun dia belum bisa mempercayai Rayyan sepenuhnya.
Rayyan kemudian langsung duduk di samping Anna dan melingkarkan tangannya di pinggang Anna. "Bentar doang kok mih. Atau mommy juga pengen ikut...?" Rayyan menarik pinggang Anna agar semakin mendekat, namun dengan cepat Anna menghempas tangannya.
"Nggak..! "Rayna juga nggak boleh pergi..."
"Kenapa sih An..? emangnya salah jika aku ingin lebih dekat dengan putriku sendiri..?"
Anna menelan salivanya kelat, Rayyan mulai terang-terangan sekarang di depan Rayna.
__ADS_1
"Mih..., Nana pengen ikut daddy.." rengek Rayna lagi.
"Kamu nggak kasian apa sama Rayna..? dia itu udah senang banget karna ingin pergi bersamaku. Masa tega sih merusak kebahagiaan anak sendiri..."
"Kamu tenang aja, aku akan menjaga Rayna dan aku pastikan takkan terjadi apa-apa dengannya..."
Anna menatap Rayyan dengan mata sendunya, seakan memohon agar Rayyan tidak membawa lari putrinya.
"Nggak akan kurang dari dua jam, Rayna akan kembali kesini. Lagian aku juga nggak tega ninggalin kamu sendiri..."
"Janji ya...?"
"Iya sayang. Ya udah kalau gitu kami pergi bentar ya.." Rayyan kemudian mengecup pucuk kepala Anna. Dan seketika Anna langsung merasa tenang.
Kini tinggallah Anna sendiri dengan kegelisahannya. Berharap Rayyan benar-benar menempati janjinya dan tidak akan membawa Rayna pergi darinya.
Anna meraih ponselnya, membaca pesan masuk dari karyawan butiknya. Ternyata begitu banyak pesanan ke butiknya. Anna tidak menyangka jika karyanya di sukai banyak orang.
Tok...Tok... terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Anna..?"
Deg.. Anna merasa mengenali suara itu, kemudian dia menoleh ke sumber suara itu dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat Icha kini berada di depan matanya.
"Icha...?" Anna membulatkan matanya.
"Anna...?" Icha langsung berlari ke arah Anna dan memeluk Anna erat.
"An.., gua nggak sedang bermimpi kan..? ini nyata kan An..?" Icha tak percaya, air mata tampak menetes di sudut pipinya.
"Ini nyata Ca, tapi serasa mimpi..." Anna juga tak mampu menahan air matanya.
"Gua kangen banget ama lo An..." Icha semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Gua juga kangen lo Ca..."
Flash back beberapa jam yang lalu.
Icha sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai sekretaris di perusahaan Haikal. Tak lama kemudian terlihat bosnya itu datang menghampirinya dengan wajah kusutnya.
"Ada yang bisa di bantu pak..?" tanya Ica.
"Ca, kita sudah membuat kesalahan besar terhadap Rayyan.." Haikal mengacak rambutnya frustasi.
"Kesalahan apa pak..?" tanya Icha bingung.
"Kamu ingatkan wanita yang nabrak kamu waktu di restoran kemaren? Rayyan ingin kamu segera minta ma'af padanya. Jika dalam dua jam ini kamu tak menemui wanita itu dan meminta ma'af padanya, maka dia akan membatalkan kerjasama kita.."
Deg...
"Astaga pak.., saya benar-benar minta ma'af sudah membuat bapak dalam kesulitan..." Icha merasa bersalah. Bagaimana tidak Haikal sudah susah payah melobi Rayyan agar mau bekerja sama dengannya. Walaupun mereka berteman dekat, namun untuk urusan bisnis Rayyan tidak mengenal itu.
"Minta ma'afnya bukan sama saya Icha, tapi sama wanita itu..." teriak Haikal kesal.
"Tapi saya tidak tau orangnya pak. Bagaimana saya akan meminta ma'af padanya..." Icha bergetar.
Haikal langsung melemparkan secarik kertas kemeja Icha. "Itu alamatnya.. Pokoknya saya nggak mau tau, kamu harus berhasil menemui wanita itu. Jika kamu gagal maka kamu tau sendiri kan konsekuensinya..?" ancam Haikal.
Dengan tangan gemetar, Icha meraih secarik kertas itu dan mulai membacanya. Seketika matanya membulat ternyata yang tertulis disana adalah alamat rumahnya Anna. Namun Icha tidak berpikir jika wanita yang akan ditemuinya itu Anna, karna setahunya rumah itu sudah disita pihak bank empat tahun lalu.
"Baik pak.., saya akan kesana sekarang..."
"Berdo'a saja semoga kamu masih bisa balik kerja di sini.." Haikal langsung meninggalkan tempat itu.
Icha terduduk di kursinya, dengan airmata yang mulai membasahi pipinya. Icha benar-benar takut jika harus kehilangan pekerjaannya. Karna semenjak orangtuanya bercerai dua tahun lalu dia lah yang menjadi tulung punggung keluarganya. Apalagi mamanya juga mulai sakit-sakitan dan butuh biaya banyak untuk berobat.
Icha meraih tasnya, dan langsung menuju alamat rumah Anna. Sepanjang jalan dia terus berdo'a agar urusannya nanti di permudah. Karna Icha benar-benar tidak tau wanita seperti apa. yang akan di hadapinya sekarang.
__ADS_1
Flash back off