Lelaki Pilihan Papa

Lelaki Pilihan Papa
Rayyan Sakit Part 3


__ADS_3

Anna terbangun karna mendengar suara seseorang masuk keruangan itu. Ternyata petugas rumah sakit sedang mengantarkan sarapan untuk Rayyan. Anna lalu melihat keluar jendela, ternyata sudah sangat cerah. Sepertinya Anna tidur nyenyak semalam, mungkin karna tidurnya udah kemalaman atau karna sofa di ruangan itu yang begitu empuk sehingga Anna tidak sadar kalau ternyata udah pagi.


Anna menggeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Pagi sayang..." sapa Rayyan dengan senyum manisnya. Pagi ini Rayyan mulai merasa mendingan.


"Pagi juga mas.." Anna kemudian bangun dan menghampiri Rayyan. "Ma'af ya, aku bangunnya kesiangan..." Anna merasa sangat bersalah. Harusnya dia tidak tidur terlalu nyenyak karna harus menjaga Rayyan.


"Nggak apa-apa sayang, aku malah senang liat kamu tidur nyenyak. Aku bahkan nggak bisa tidur semalaman.." ucap Rayyan.


"Kenapa..?"


"Karna aku pengen tidur sambil peluk kamu, tapi kamu nya malah nggak mau tidur bareng..." ucap Rayyan manja.


"Ini kan di rumah sakit mas, kan malu kalau ada yang liat..." ucap Anna malu-malu.


"Kenapa harus malu, kan kita udah nikah..."


"Iya sih mas, tapi tetap aja nggak enak di liat orang..."


"Ya udah kalau gitu aku mau pulang sekarang, aku bosan di sini nggak bisa ngapa-ngapain, terutama nggak bisa ngapa-ngapain kamu.." ucap Rayyan dengan senyum nakal.


Seketika Anna memerah. "Mas apaan sih. Nanti kan juga bisa kalau udah sembuh..." Anna bicara pelan namun tetap terdengar oleh Rayyan.


"Udah sembuh sayang, beneran..!" Rayyan bersemangat.


"Kita akan pulang kalau dokternya udah ngizinin..."


"Harusnya semalam aku nggak perlu di rawat, cukup di kasih obat aja..." Rayyan terdengar kecewa.


"Kalau dokternya yang nyuruh di rawat, berarti sakitnya berat.." terang Anna.


"Ya udah sekarang mas makan ya.."


Anna meraih nampan yang berisi makanan, lalu menyuapi Rayyan.


Rayyan mengunyah makanannya pelan, rasanya nggak enak sama sekali dan terasa pahit.


Dreett.. dreet... ponsel Rayyan tiba-tiba berdering. Ternyata Dio lah yang menelponnya, dan Rayyan pun langsung mengangkatnya.


"Ada apa Yo...?"

__ADS_1


"Pak, saya sudah di parkiran sekarang. Dan barusan saya melihat pak Fahri juga datang ke rumah sakit ini. Saya yakin pak Fahri datang untuk menjenguk bapak.." suara Dio terdengar panik.


Tadi Rayyan memang meminta Dio datang untuk mengantarkan berkas yang akan di tanda tanganinya.


'Ternyata papa beneran datang kesini'


Rayyan langsung memutuskan sambungan telponnya. Dari awal Rayyan juga sudah yakin jika papanya pasti akan datang, karna apapun yang terjadi dengannya papanya itu akan selalu mengetahuinya. Sekarang Rayyan harus memikirkan cara agar Anna tak bertemu dengan papanya.


"Ada apa mas...?" tanya Anna yang melihat Rayyan melamun.


"Nggak apa-apa kok sayang..." Rayyan bersikap seolah-olah sedang baik-baik aja.


"Ini makan lagi..." Anna kembali ingin menyuapi Rayyan. Namun Rayyan pun menolaknya.


"Udah sayang, aku nggak mau lagi. Makanannya nggak enak..."


"Iya memang seperti itu rasanya mas, namanya juga lagi sakit. Kalau nggak mau makan gimana mau sembuh.." Anna menceramahi Rayyan seperti anak kecil.


"Tapi aku nggak suka makanan ini. Aku pengennya bubur ayam, apalagi dengan taburan bawang goreng yang banyak di atasnya.." Rayyan hanya mencari alasan agar Anna bisa keluar sebentar.


"Ya udah kalau gitu mas tunggu bentar ya. Sepertinya di depan ada yang jual bubur ayam..." ucap Anna.


"Ummm..., makasih ya sayang, ma'af udah ngerepotin kamu..."


Anna sedang berjalan di koridor rumah sakit, tiba-tiba dia berpapasan dengan seseorang yang di kenalnya, yaitu pak Fahri. Tapi pak Fahri tidak mengenal Anna. Walaupun dulu Anna akrab dengan Elsa namun Elsa tidak pernah mengajaknya main ke rumah dan berkenalan dengan keluarganya. Anna mengenal pak Fahri karna pak Fahri sering datang ke kampusnya, dan juga sedikit banyaknya Anna tau tentang Fahri sebagai pemilik perusahaan Start light group yang sudah membuat perusahaan papanya hancur.


"Alfahri Sadiq, papanya Elsa ngapain dia di sini..?" Anna berjalan sambil menoleh kebelakang. Dia ingin tau tujuan laki-laki itu.


Buuugg... Tiba-tiba Anna menabrak tubuh seseorang.


"Awww..." Anna kesakitan. Ternyata orang yang di tabraknya itu adalah Jerry.


"Elo...?" Jerry terkejut.


'Aduuhh dia lagi dia lagi.. Kenapa sih dunia ini terasa begitu sempit' kesal Anna.


"Elo ngapain di sini..? sengaja ya nyari gue di sini...?" tanya Jerry dengan PDnya.


"Siapa juga yang nyari lo.." sinis Anna.


"Udah ngaku aja. Lagian gua juga butuh banget bantuan lo. Ayo sekarang ikut gua keruangan bokap.." Jerry menarik tangan Anna.

__ADS_1


Seketika Anna berontak dan melepaskan tangannya. "Apaan sih lo..?"


"Pliiisss,, bantu gua bilang ama bokap kalau lo itu pacar gua. Gua udah nggak punya waktu lagi soalnya..."


"Lo gila ya.., gua nggak mau ikut-ikutan urusan lo.." Anna sangat kesal.


Anna kemudian langsung pergi meninggalkan Jerry dengan perasaan kesal dan juga marah. Dia tidak menyangka bakalan ketemu cowok itu terus.


Sementara Fahri sudah berada di ruangan Rayyan. Hatinya terasa hancur melihat putranya terbaring lemas di ranjang rumah sakit itu. Seburuk apapun hubungan mereka selama ini namun jauh di lubuk hatinya dia sangat menyayangi putranya itu. Ada rasa berhasil karna tidak berhasil menjaga dan merawat buah hatinya sendiri.


Rayyan seakan tidak peduli dengan kehadiran papanya. Dia memejamkan matanya sambil menghadap ke arah lain.


"Gimana keadaan kamu Ray, apa sudah mendingan...?" tanya Fahri lembut. Kali ini benar-benar seperti seorang ayah yang sangat mengkhawatirkan putranya.


"Seperti yang anda lihat..." jawab Rayyan singkat.


"Sampai kapan kamu akan hidup seperti ini..? kenapa kamu harus tinggal di kontrakan kumuh sedangkan kamu punya sebuah apartement. Jika kamu tidak suka tinggal di apartement itu papa akan membelikan kamu rumah yang kamu suka.."


"Jangan lagi tinggal di kontrakan itu, kali ini nurut sama papa. Papa nggak mau terjadi lagi hal yang seperti ini. Malaria itu penyakit berbahaya. Seandainya mama kamu tau, dia pasti akan sangat sedih..."


Rayyan hanya diam mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki yang sudah di anggapnya sebagai orang asing itu. Kali ini laki-laki itu bersikap layaknya seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya. Bukan laki-laki tamak yang hanya memikirkan masalah harta dan kedudukan seperti sebelumnya.


"Pa..."


Setelah sekian lama baru kali ini Rayyan memanggil papanya. Dan itu membuat hati Fahri benar-benar tersentuh. Rasanya seperti mimpi dia bisa mendengar panggilan itu lagi dari putra sulungnya.


"Aku akan bergabung di perusahaan papa..."


"Apa..? kamu akan bergabung di perusahaan papa..? papa nggak salah dengarkan..?" Fahri begitu senang.


"Iya... , tapi ada syaratnya...?"


"Apa syaratnya...?"


"Jangan pernah ikut campur dalam kehidupan pribadiku.."


Fahri seketika terdiam.


'Itu tidak mungkin Ray, papa sudah menentukan yang terbaik untukmu'


"Papa akan berusaha..."

__ADS_1


'Langkah pertamaku adalah masuk ke perusahaan papa, dan perlahan aku akan mengambil kembali RH group darinya. Ma'afkan aku An, ini semua demi kamu'


__ADS_2