
Kini mereka telah sampai di depan restoran Ryn resto milik Rayyan. Deretan mobil mewah tampak mendominasi di sana. Karna memang kebanyakan pengunjung yang datang kesana berasal dari kalangan atas. Restoran itu juga sering di gunakan untuk acara meeting perusahaan besar.
Entah kenapa hanya melihat pintu masuk restoran itu saja Anna langsung teringat kejadian waktu itu, saat dia bertemu mama Jerry. Sejujurnya sampai saat ini Anna masih belum bisa melupakan kata-kata yang di lontarkan mama Jerry waktu itu. Hinaan dan tuduhannya masih terngiang-ngiang di telinganya. Dan itu membuat Anna ingin segera pergi dari tempat itu.
"Kok malah ngelamun sih sayang? ayo turun..." ajak Rayyan.
"Mm... mas, gimana kalau kita makannya di tempat lain aja..? soalnya aku tiba-tiba pengen makan bebek goreng gitu..." Anna menatap Rayyan penuh harap.
Rayyan menaikkan satu alisnya. Perasaan tadi Anna lah yang mengajaknya makan di sana. Ya walaupun sebenarnya dia juga ingin membawa Anna ke sana memperkenalkannya pada seluruh karyawannya. Selain itu Rayyan juga ingin Anna mengetahui semua aset yang dimilikinya. Karena apapun yang menjadi miliknya akan menjadi milik Anna dan Rayna juga.
"Kok tiba-tiba berubah pikiran gitu sih sayang..?" Rayyan menatap Anna penuh tanya. Dan akhirnya dia sadar apa yang ada dalam pikiran wanita yang ada di sampingnya itu sekarang.
"Kamu pasti masih teringat ucapan wanita itu kan..?"
Anna mengernyitkan dahinya merasa Rayyan sok tau. "Wanita mana sih mas..? kamu sok tau deh..."
"Kira-kira hukuman apa ya yang pantas buat keluarga itu..? apa perlu rumah sakit kebanggaanya itu dibuat rata dengan tanah agar mereka tau sedang berurusan dengan siapa..." ujar Rayyan dengan seringai iblisnya.
Anna membulatkan matanya.
"Aku mohon mas, jangan lakukan apa-apa terhadap keluarga Jerry..." Anna memegang lengan Rayyan penuh harap. Dia langsung tau arah tujuan Rayyan.
"Kamu tu kenapa sih An, udah jelas-jelas mereka itu jahat masih aja di bela...! kamu pikir aku nggak tau apa yang mama Jerry ucapkan padamu waktu itu..? aku denger semuanya An...!"
'Memang mustahil jika kamu nggak tau mas. Kamu pasti sudah melihat rekaman CCTVnya'
Anna masih belum tau jika saat itu Rayyan duduk tak jauh darinya dan mendengar semua ucapan mereka.
"Andai saja waktu itu aku tidak sedang meeting penting dengan klien, mungkin aku sudah menyeret wanita itu keluar dari sini. Aku mendengar sendiri dia menghina orang yang paling aku cintai, dan sayangnya aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu..."
"Jadi waktu itu mas...?"
__ADS_1
Seketika Anna langsung teringat dua orang laki-laki bule yang duduk di seberang mejanya waktu itu. Anna berfikir jika laki-laki itu takkan mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Memang waktu itu ada laki-laki yang duduk membelakanginya dan Anna tidak melihat wajahnya. Rupanya itu adalah Rayyan.
"OMG...." Anna menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Dan kini aku benar-benar nggak bisa diam lagi. Akan Aku pastikan bisnis mereka hancur...!" ucapan Rayyan benar-benar terdengar menakutkan.
"Mas...., aku mohon tolong ma'afkan mereka.." Anna memohon dengan air mata berlinang. "Anggap aja sebagai balas budi mas terhadap Jerry karna sudah membantu merawat Rayna selama ini. Jangan ganggu mereka mas, mereka nggak salah. Aku yang salah mas..." Anna memegang kedua tangan Rayyan penuh harap agar Rayyan tidak melakukan apa-apa terhadap keluarga Jerry. Dengan kekuasaan yang di miliki Rayyan sekarang sangat mungkin dia melakukan itu.
Rayyan menyeka air mata Anna dengan ibu jarinya. "Jika kamu ingin aku mema'afkan mereka, tolong jangan lagi ada setetes air matapun yang keluar karna mereka..."
Anna mengangguk sambil tersenyum "Aku janji mas, aku akan melupakan semua kesedihan yang mereka berikan..."
"Pegang janjimu An..."
Lagi-lagi Anna menangguk. Apapun akan dia lakukan asal Rayyan tidak membalas keluarga Jerry.
"Ya udah sekarang kita masuk ya..."
"Ump..."
***
Di kediaman Alfahri
Alfahri dan istrinya sedang bersiap-siap untuk makan malam. Tampak meja mereka di penuhi makanan enak. Tak lama kemudian terlihat Dewa pulang, namun dia sendiri tanpa di dampingi istrinya Elsa.
"Malam pa, ma..." sapanya.
"Elsa mana...?" tanya Fahri tanpa menjawab salam Dewa.
"Bukannya Elsa udah pulang duluan ya pa..? dari tadi aku tidak melihat Elsa di kantor..." jawab Dewa.
__ADS_1
"Kalian tu gimana sih, memangnya nggak ada komunikasi gitu..? kalian kan suami istri.." nada suara Fahri mulai meninggi.
"Ma'af pa tadi aku sangat sibuk di kantor..."
"Udah lah Wa, sini makan dulu.." sahut mama Mirna.
Dewa kemudian langsung mengambil tempat duduknya.
"Papa ni gimana sih, menantunya baru pulang kerja bukannya di suruh duduk makan malah di hadang dengan pertanyaan..." Mirna mengomeli suaminya sambil mengisi piring menantu kesayangannya dengan makanan.
"Makasih ma..." ucap Dewa.
"Makin hari tu anak makin sulit di atur. Tadi dia juga keluar saat acara meeting berlangsung. Mau jadi apa dia jika terus seperti itu..." Fahri masih ngomel.
"Jika memang saat ini dia belum siap terjun ke dunia bisnis, oke papa bisa memakluminya.. Setidaknya dia bisa memberikan kita cucu ma. Tapi apa..? sampai sekarang dia masih belum hamil juga. Gimana mau hamil jika kerjanya cuma bisa clubbing dan mabuk-mabukkan terus..."
"Udah lah pa... Papa jangan terlalu keras sama Elsa.. Elsa itu masih muda, perjalanannya masih panjang. Suatu saat nanti dia juga akan sadar dengan sendirinya. Biarkan dia puas dulu dengan masa mudanya..."
Ting... Fahri melepaskan sendok di tangannya.
"Mama selalu aja bela Elsa...!" teriak Fahri.
"Stop pa..., jangan bentak mama terus.." ujar Elsa yang tiba-tiba datang.
"Selama ini aku udah capek nurutin semua keinginan papa. Jika papa memang sangat menginginkan cucu, papa udah punya kok. Jadi jangan paksa aku..."
"Maksud kamu apa Elsa...?" Fahri berdiri dari duduknya.
"Sebaiknya papa tanyakan langsung sama kak Rayyan..."
Elsa lalu menuju kamarnya meninggalkan suami, papa dan mamanya dalam keadaan penasaran.
__ADS_1
***
Ma'af buat para readers aku tersayang, Judul novelnya author ganti ya, karna judul sebelumnya kurang cocok. Jangan lupa jadikan favorit biar selalu tau update terbaru. makasiš„°